Lara dan Bram menikah tujuh tahun pada hari Sabtu di bulan April.
Mereka rayakan sederhana—bukan pesta, cuma makan malam berdua di restoran Italia di Senopati. Restoran kecil di lantai dua ruko, dengan delapan meja, lampu gantung yang dimatikan setengah, dan musik akustik dari speaker yang tersembunyi di balik tanaman. Restoran yang Lara dan Bram temukan di tahun ketiga pernikahan mereka, dan yang sejak itu jadi tempat mereka rayakan setiap ulang tahun pernikahan.
Rasya—anak mereka satu-satunya, lima tahun—dijaga ibunya Lara di rumah Bintaro. Ibu Lara datang pukul empat sore, membawa kantong kresek berisi ayam goreng untuk makan malam Rasya, dan menyuruh Lara dan Bram pergi tanpa khawatir.
"Bu, Rasya kalau bangun malam—"
"Lara. Saya ibu kamu. Saya pernah membesarkan kamu. Pergi."
Mereka pergi.
Di restoran, Bram pesan red wine. Lara pesan air mineral—dia tidak suka wine, tapi senang melihat Bram menikmati.
"Lara."
"Iya, Mas."
Bram mengangkat gelasnya. Tangan kanan, dengan cincin pernikahan yang sudah agak pudar di pinggir karena tujuh tahun pemakaian harian.
"Tujuh tahun. Saya tidak pernah membayangkan saya akan bahagia begini."
Lara tertawa. Tawa yang dia keluarkan dengan ringan—suara yang Bram bilang adalah suara favoritnya, sejak dia mendengar pertama kali tujuh tahun lebih tiga bulan yang lalu di pernikahan teman bersama.
"Bram. Anda dramatis."
"Saya serius, Lara. Sepuluh tahun lalu, saya pikir saya akan mati single dan jelek di umur delapan puluh. Sendirian di apartment kecil dengan satu kucing dan empat kantong sampah yang tidak pernah saya buang."
"Anda kelihatan baik di umur tiga puluh lima, Mas. Bahkan lebih baik dari yang dulu."
"Karena Anda."
"Mas. Anda terlalu baik dengan diksi malam ini."
"Saya yakin diksi saya akan lebih baik setelah botol wine ini selesai."
Lara tertawa lagi.
Mereka pesan pasta dan steak. Berbagi seperti yang mereka selalu lakukan—Bram ambil setengah pasta Lara, Lara ambil sepotong steak Bram. Tradisi yang sudah mereka tidak bicarakan lagi karena sudah otomatis.
Mereka berciuman ringan di meja restoran—ciuman tujuh tahun yang sudah hilang gugup-nya, tapi belum kehilangan rasa. Lalu makan.
Setelah makan, mereka jalan kaki di trotoar Senopati yang masih ramai pukul sepuluh malam. Tidak buru-buru pulang. Bram memegang tangan Lara. Lara, dengan kepala bersandar ke bahu Bram, menatap toko-toko yang sudah tutup tapi masih menyala lampu etalase.
Pulang ke rumah Bintaro pukul sebelas malam. Rasya sudah tidur. Ibu Lara—yang menunggu di sofa dengan TV menyala tapi sudah hampir tidur—pamit.
"Lara, Bram. Kalian masih sayang banyak. Bagus, bagus."
"Iya, Bu. Terima kasih ya, Bu."
"Saya pulang. Bram, kau pijat ibu jari kanan kamu—saya lihat kamu kepegelan tadi sore."
Bram tertawa. "Iya, Bu. Detail."
Setelah ibu Lara pulang lewat Grab yang mereka pesankan, Lara dan Bram naik ke kamar. Rasya tertidur di tengah ranjang besar mereka—biasanya kebiasaannya saat ditinggal orang tua keluar, dia tidur di kamar utama supaya nenek lebih mudah menjaga.
Bram menggendong Rasya ke kamar dia sendiri. Pelan supaya tidak bangun. Lara membuka selimut Rasya pelan, menyelimuti kembali setelah Bram meletakkannya. Mereka berdua berdiri sebentar di pintu kamar Rasya. Menatap anak mereka tidur.
"Mas. Lihat dia. Persis kamu."
"Mata-nya kamu, Lara."
"Tapi alis-nya kamu."
"Iya. Anak ini gabungan kita yang aneh."
Mereka tertawa pelan. Tutup pintu.
Kembali ke kamar utama. Lara sudah ganti baju—daster yang dia suka, motif bunga kecil yang sudah pudar setelah dicuci ratusan kali. Bram melepas kemeja-nya, ganti kaos.
"Mas."
"Iya, Sayang."
"Saya... saya pikir tujuh tahun ini benar-benar sempurna."
Bram tersenyum. Memeluk Lara dari belakang saat Lara menyikat gigi di wastafel kamar mandi. Dagu-nya di pundak Lara. Aroma cologne kayu yang dia pakai sejak Lara berikan untuk ulang tahun ke-empat-puluh-nya, sudah menyatu dengan aroma tubuhnya.
"Lara. Saya juga pikir."
"Mas. Saya cinta Anda."
"Saya juga, Sayang. Lebih dari yang Anda tahu."
Mereka tidur. Tangan Bram di pinggang Lara. Cara mereka tidur sejak hari pertama nikah, di kamar hotel di Bali, di malam pertama mereka sebagai suami-istri. Tradisi tubuh yang lebih kuat dari ritual apa pun.
Di luar jendela kamar, Bintaro yang biasa—anjing tetangga yang menggonggong sebentar, suara motor lewat di gang utama, klakson pelan dari pengiriman makanan online malam yang masih jalan.
Di dalam kamar, dua orang yang sudah tujuh tahun menikah, tertidur bersama dengan tangan saling menyentuh.
Kalau Lara tahu—kalau dia tahu—bahwa hidupnya akan berubah dalam tujuh hari, dia mungkin akan menyimpan momen ini lebih dalam. Mungkin dia akan menatap wajah Bram lebih lama sebelum tidur. Mungkin dia akan menanyakan satu pertanyaan yang dia simpan selama tujuh tahun—pertanyaan yang dia kira tidak penting—tentang kenapa Bram kadang-kadang melamun di malam minggu.
Tapi dia tidak tahu.
Dia cuma tidur. Bahagia.