Ara pulang untuk rapat keluarga soal rumah, dan datang sudah dengan keputusan di sakunya.
Ia sudah survei kondominium di Jakarta Selatan—dua kamar, dekat kantornya, dengan balkon yang menghadap kota yang tidak berhantu apa pun. Sudah ada uang muka yang ia tabung. Sudah ada masa depan yang ia bayangkan: bersih, miliknya sendiri, tidak diwariskan oleh siapa pun. Sebagai anak tertua, sebagai kurator memori keluarga yang tidak pernah ia minta jadi, Ara lelah menjadi penjaga museum sebuah rumah.
"Aku mau pindah," katanya membuka rapat, di meja makan Bintaro yang sama tempat tiga generasi makan dan berbohong dan saling mencintai. "Aku beli tempat sendiri. Bukan karena aku benci rumah ini. Tapi karena aku mau punya hidup yang bukan tugas merawat hidup orang lain."
Rasya mengangguk. Ia sudah menyiapkan diri untuk ini—malah berharap. Salah satu anaknya akhirnya memilih melepas, bukan menyimpan. Itu kemenangan, bukan?
Tapi kemudian Ara berhenti. Ia memegang sesuatu—cetakan draf baru Rasya, yang ia baca sepanjang malam sebelumnya di kamar lamanya.
"Tapi aku baca naskah Mama yang baru," kata Ara, dan suaranya berubah. "Yang revisi. Dan ada satu hal yang nggak bisa aku lepas." Ia membaca pelan dari halaman yang ia tandai: "'Kakek mencari rumah seumur hidupnya, dan sistem mengajarinya bahwa rumah adalah kerentanan. Dia meninggal tanpa pernah benar-benar membiarkan dirinya pulang.'"
Ara menatap ibunya. "Aku nggak mau jadi seperti itu. Aku nggak mau pindah karena melarikan diri dari rumah ini, dan ujung-ujungnya nggak pernah punya rumah sama sekali—kayak kakek. Pindah karena takut bukan kebebasan. Itu cuma versi lain dari terjebak."
Hening di meja. Bahkan Dika, yang biasanya pragmatis dan tidak sabar dengan "drama nenek-kakek," meletakkan ponselnya.
"Jadi pertanyaannya bukan rumah ini atau kondominium," lanjut Ara. "Pertanyaannya: apa rumah benar-benar tempat yang harus kita tinggali, atau hal yang kita bawa? Apakah aku perlu di sini—" ia menyentuh meja Bintaro, "—atau aku cuma perlu berhenti lari?"
Rasya merasakan matanya panas. Anaknya, dengan dua puluh sekian tahun, baru saja mengucapkan pertanyaan yang menjadi inti seluruh novel hidup mereka. Apakah rumah menahan mereka, atau mereka yang menahan rumah?
"Aku nggak tahu jawabannya, Ra," kata Rasya jujur. "Nenekmu nggak tahu. Aku nggak tahu. Tapi aku tahu satu hal: kalau kamu pindah, pindahlah karena kamu menuju sesuatu, bukan kabur dari sesuatu. Itu beda. Itu satu-satunya yang penting."
Ara mengangguk pelan, dan tidak memutuskan apa-apa hari itu. Untuk pertama kalinya, ketidakpastian itu terasa sehat—bukan kebimbangan, tapi seseorang yang akhirnya mengajukan pertanyaan yang benar.
Di luar, rumah Bintaro berdiri sabar, seperti selalu, menunggu untuk tahu apakah ia akan menjadi penjara atau tempat berangkat.
(bersambung...)