Indri—sahabat Lara sejak muda, perempuan tua yang telah menyaksikan tiga generasi keluarga ini—meninggal dengan tenang di Bintaro, di kamar yang menghadap pohon mangga, pada usia delapan puluh dua.
Tidak ada drama di hari-hari terakhirnya. Hanya pelan, pelan, seperti senja yang turun. Ia berhenti makan banyak, lalu berhenti turun dari tempat tidur, lalu lebih banyak tidur daripada terjaga. Dokter datang, memeriksa, dan berkata dengan lembut bahwa ini hanya waktu—tubuh yang lelah setelah lebih dari delapan dekade memutuskan untuk beristirahat.
Rasya tinggal di Bintaro sepanjang minggu-minggu terakhir itu. Ara, kini di awal empat puluhan, datang tiap hari setelah kerja, mengambil giliran menjaga. Mereka bergantian membaca untuk Indri, menyuapinya bubur, menggenggam tangannya yang tipis seperti kertas.
Pada salah satu sore yang jernih, ketika Indri sedang lebih sadar dari biasanya, ia memanggil Rasya mendekat. Suaranya hanya bisikan, tapi matanya jernih.
"Kemari, Nak," katanya. "Duduk dekat. Mata saya sudah tidak terlalu kuat."
Rasya duduk di tepi tempat tidur, menggenggam tangan perempuan tua itu.
"Saya sudah lama menunggu untuk pergi," kata Indri, dengan senyum yang tidak ada kesedihannya. "Tapi saya menunggu satu hal. Saya menunggu sampai saya yakin kamu sudah mengerti ibumu."
Mata Rasya panas. "Tante..."
"Dengar dulu. Saya sudah tua, tidak punya banyak napas untuk dibuang." Ia mengusap punggung tangan Rasya. "Lara—ibumu—dia perempuan yang membawa terlalu banyak. Bahaya dari ayahnya. Ketakutan dari hidupnya. Cerita-cerita yang ia tulis untuk bertahan. Saya menontonnya menderita, dan saya tidak selalu tahu cara membantunya. Kadang saya malah memperburuk—saya kejar kebenaran ketika yang dia butuhkan cuma ditemani. Itu beban saya sebagai sahabatnya."
Ia berhenti, menarik napas yang dangkal.
"Tapi kamu, Rasya. Kamu menghabiskan hidupmu mencoba memahami dia. Lewat tulisanmu. Lewat penyelidikan yang saya seret kamu ke dalamnya. Lewat semua tahun yang kamu habiskan untuk merekonsiliasi perempuan yang kamu kenal dengan perempuan yang sebenarnya. Dan kamu berhasil. Saya melihatnya di matamu sekarang. Kamu sudah memahami ibumu."
Air mata Rasya jatuh ke seprai. "Saya tidak yakin saya berhasil, Tante. Masih banyak yang tidak saya tahu."
"Memahami bukan berarti tahu segalanya." Indri tersenyum lemah. "Memahami berarti berhenti menghakimi. Dan kamu sudah berhenti. Kamu mencintai ibumu dengan semua kerumitannya. Itu... itu yang bisa diminta dari anak mana pun. Saya senang saya hidup cukup lama untuk melihatnya."
Ara berdiri di ambang pintu, menangis tanpa suara. Indri menoleh padanya. "Kamu juga, Nak. Jaga rumah ini. Tapi jangan biarkan ia menjagamu sebagai tahanan."
Malam itu, dengan Rasya menggenggam satu tangan dan Ara menggenggam yang lain, perempuan tua itu menutup matanya untuk terakhir kali. Tidak ada perjuangan. Hanya napas yang melambat, lalu berhenti, seperti buku yang ditutup dengan lembut setelah halaman terakhir dibaca.
Di luar, pohon mangga Lara bergoyang dalam angin malam. Rumah Bintaro kehilangan sahabat tertua keluarganya, dan menjadi sedikit lebih ringan—dan sedikit lebih sepi—dalam waktu yang sama.