Alicia masuk ke sekolah dengan wajah murung, tidak seperti biasanya, wajahnya ditekuk dan bahkan dasi yang dia gunakan miring. Freya mendekati Alicia saat bertemu di lorong, dia menepuk pundak Alicia, tetapi tidak ada tanggapan dari Alicia. “Alicia!” panggil Freya.
Alicia hanya menatap Freya sekilas lalu kembali menatap ke depan, sungguh dia sangat lelah saat ini, dia tidak sanggup menahan beban hidup sendirian. Hidup tanpa kakek seperti hampa. Belum lagi sejak kemarin telfonnya tidak diangkat oleh ayahnya.
“Kamu kenapa?” tanya Freya. Alicia tidak menjawab lalu mengambil bangku duduk di paling belakang, dia sedang enggan berbicara dengan siapapun.
Alicia masih tak menanggapi Freya, dia menelungkupkan wajahnya dan tidur diantara lipatan tangannya di atas meja. Sungguh perasaannya kacau balau saat ini, bergemelut dengan setiap kenangan indah bersama sang kakek. Tadinya Alicia enggan berangkat sekolah, tetapi ibunya memaksa agar tidak ada absen.
Alvaro datang terlambat, semalam dia begadang bermain game kesukaannya, terpaksa dia harus duduk di paling belakang, tepat di bangku samping Alicia. Alvaro menatap ke samping, melihat Alicia yang sedari tadi tidak bangun dari tidurnya semenjak guru mereka masuk.
“Frey, itu Alicia kenapa masih tidur? Bangunin sebelum bu Ani marah,” ucap Alvaro.
Freya menepuk pelan pundak Alicia tetapi Alicia masih tidak bangun. Bu Ani mendatangi bangku Alicia, beliau membangunkan Alicia, namun tetap saja Alicia tidak ada respon. Sampai akhirnya bu Ani baru menyadari Alicia pingsan. Tubuhnya demam.
“Ada yang bisa bantu bawa Alicia ke ruang UKS? Ketua kelasnya siapa?” tanya bu Ani.
Alvaro mengacungkan tangannya dan segera membawa Alicia ke UKS. Tanpa sengaja, Ajeng melihat itu semua dari balik kelasnya dan menggerutu kesal, dia cemburu melihat Alvaro yang menggendong Alicia.
Dokter jaga UKS hari ini sedang absen, Alvaro akhirnya menunggu Alicia sendirian, tadinya dia berniat menunggu Alicia yang sedang terbaring lemah. Dia mengambil handuk putih kecil yang ada di lemari dan mengisi baskom dengan air hangat lalu meletakkan di dahi Alicia, tidak hanya itu dia juga mengambil minyak kayu putih, lalu dia oleskan di tangan Alicia.
Alvaro menatap wajah Alicia dengan seksama, ada lingkaran mata hitam pada di sana, sepertinya Alicia habis menangis karena matanya bengkak dan mungkin kurang tidur, pikir Alvaro.
Beberapa menit kemudian, Alicia sadar dan melihat Alvaro yang duduk di depannya. Mereka saling bertatapan sejenak, antara bingung sekaligus canggung. Alicia terkejut Alvaro di depannya, belum lagi dia terbaring di UKS. Alvaro menatapnya dengan tatapan datarnya.
“Hobi ya ngerepotin aku?” ucap Alvaro dengan tatapannya lurus menatap Alicia.
“Hah? Ini kenapa aku bisa di sini?” tanya Alicia bingung.
“Pingsan,” jawab Alvaro cuek dan singkat. Alavaro lalu berdiri, melepas sweaternya dan memberikannya kepada Alicia.
“Pake, lain kali kalau sakit gausah sekolah, kamu berat buat digendong, aku tinggal ke kelas.”
Alvaro lalu berbalik dan keluar UKS setelah memberikan sweaternya kepada Alicia.
“Tunggu!” panggil Alicia. Alvaro kembali berbalik dan duduk di pinggir ranjang Alicia.
“Kenapa? Ngga bisa jalan? Mau gendong lagi?” tanya Alvaro.
Alicia menggeleng, dia melepaskan kain putih yang ada di kepalanya dan duduk bersandar.
“Aku pusing, bisa temani aku sebentar di sini?” pinta Alicia kepada Alvaro. Karena iba melihat keadaan Alicia, Alvaro akhirnya duduk kembali di samping Alicia, dia menatap Alicia dengan seksama.
“Kakek aku meninggal, satu-satunya orang yang paling aku sayangi di dunia ini udah pergi,” ucap Alicia menunduk, dia menahan air matanya jatuh.
“Nangis aja, nggak usah ditahan.”
Alicia saat itu juga meluruhkan air matanya, dia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya, ingin menangis lagi.
“Semua orang pasti akan datang dan pergi, this is small world, sometimes, you need to be calm.” Alvaro lalu mendekat dan merengkuh Alicia dalam pelukannya.
Sebagai laki-laki, nalurinya untuk melindungi perempuan keluar, dia merasa iba dengan Alicia, meski tak tau bagaimana kedekatan Alicia dengan kakeknya, tetapi Alvaro merasa Alicia sangat mencintai kakeknya sepenuh hati.
“Udah nangisnya? Ingusmu nempel di kemejaku,” ucap Alvaro. Dia mengatakan dengan santai seolah tidak jijik sam sekali dengan ingus Alicia, wajahnya hanya datar.
“Eh? So-sorry,” ucap Alicia. Dia membersihkan kemeja Alvaro dengan tissu basah di ruangan UKS.
Alvaro lalu mengajak Alicia untuk ke kantin, dia mengajaknya untuk sarapan. Alicia memilih duduk dan tidak memilih menu makanan apapun, tidak ada makanan yang bisa menggugah seleranya sama sekali. Alvaro berulang kali menanyakan kepada Alicia, namun jawaban gadis itu tetap sama, dia tidak mau makan apapun. Alvaro menghela nafasnya, dia lalu menyuruh Alicia tetap duduk ketika gadis itu hendak kembali ke kelas. Alvaro memesankan dua mangkuk bakso dan memberikan kepada Alicia.
“Makan, capek aku kalau harus gendong orang pingsan lagi.”
“Iya iya, maaf ya Al,” ucap Alicia.
“Hm.”
Mereka makan bersama dengan tenang, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu. Sebuah keberuntungan bagi mereka bisa makan di kantin tanpa larangan karena Alicia memang sakit.
“Al, rumah kamu di mana?” tanya Alicia. Dia mencoba mencairkan suasana diantara keheningan.
“Nggak aku bawa, emang aku keong?” ucap Alvaro yang membuat Alicia sedikit tersenyum, Alvaro melirik Alicia yang tersenyum karena candaan garingnya, ada perasaan senang dalam diri Alvaro bisa membuat Alicia menjadi senang dan tertawa lepas.
Begitulah sifat Alvaro yang membuat Alicia sangat tertarik padanya, terkadang Alvaro bisa menjadi cuek, terkadang membuatnya tertawa kecil seperti ini. Alvaro lelaki yang baik dengannya, segala hal yang ada dalam dirinya sangat menarik sampai membuat Alicia tersenyum bahagia.
Ajeng sengaja membolos kelas karena dia ingin membeli camilan di kantin, langkahnya terhenti ketika melihat Alvaro dan Alicia yang tertawa bahkan saling dekat untuk sekedar berbincang. Ajeng kesal melihat mereka yang begitu dekat, dia lalu mendekati mereka dan duduk tepat di samping Alvaro.
Belum sempat Alvaro menjawab dimana rumahnya, Ajeng sudah menggelayut manja menggelungkan tangannya pada tangan Alvaro. Awalnya Alvaro ingin melepas, tetapi Ajeng malah mengeratkan tangannya.
“Kamu kok udah makan di sini sih sayang?” ucap Ajeng penuh penekanan. Alvaro menghela nafas menatap Ajeng dengan tatapan jengah.
“Jeng, lepasin.” Suara nada bicara Alvaro nampak marah sekaligus tegas kepada Ajeng, membuat gadis itu tak berkutik, di langsung melepas pelukannya pada Alvaro.
“Abisin Alicia,” ucap Alvaro melihat Alicia hanya menunduk mengaduk-aduk mie ayamnya. Alvaro kembali fokus dengan makanannya dan tak memikirkan Ajeng yang memberengut kesal di sampingnya. Ajeng menghentakkan kakinya kesal lalu berdiri.
“Aku laporin sama papa kalau kamu kaya gini!” ucap Ajeng. Seolah membisu pura-pura tak mendengar, Alvaro tetap fokus dengan makanannya.