"Kepala ku pusing sekali." Dua hari ini Alina memikirkan cara agar Ayah nya bisa berobat rasa nya begitu kesal ketika tidak menemukan jalan nya.
"Aku harus cari keja apa lagi.?" Huh. Iya menutup wajah nya dengan bantal guling di kamar nya.
"Nak..." Terdengar ketukan pintu kamar dan suara Ibu nya.
"Iya Bu." Alina beranjak dan membuka pintu nya. "Ada Apa bu ??"
"Bantu Ibu untuk mengantar Kue ini pada Warung Bu Sumi dan Bu Aida Nak."
"Aira kemana bu ??"
"Aira sedang Jalan pagi bersama teman-teman nya."
"Baiklah kesinikan biar Alina yang antar."
Alina berjalan mengantarkan Kue buatan ibu nya. Dari hasil inilah Alina dan Aira bisa sekolah. Ayah nya yang hanya bekerja sebagai penjahit pakain masih kurang menopang ekonomi keluarga hingga mengharuskan ibu nya berdagang seperti ini untuk menabahkan pemasukan. Biaya sekolah Aira dan Jajan Aira sekarang ditanggung oleh Alina hingga ibu nya tidak perlu khawatir meskipun Ayah sekarang sedang sakit seperti ini.
"Bu Sum ini kue nya.??"
"Tumben Alina yang ngantar ??"
"Iya bu Alina sedang Libur."
"Aduh Cantik sekali sih Alina. Alina udah punya pacar ???" Tanya Bu Sum. Ini lah alasan kenapa Alina enggan sekali mengantarkan kue ke warung. Namun iya juga merasa tak enak hati jika tidak menjawab pertanyaan Bu Sum.
"Sudah bu."Jawab Alina. Alina tidak ingin di jodoh-jodohkan oleh Bu Sum. Terakhir kemaren iya mengantarkan kue Ibu nya Alina hendak di jodoh kan dengan Pak Hansip Komplek bernama Yanto. Ada juga RT Muda bernama Dodot. Sebab itu lah iya mengaku bahwa iya sudah punya pacar.
"Owalah. Sayang sekali padahal Ibu ingin menjodohkan kamu dengan Polisi anak Bu Indri dia seorang Polisi. Itu loh tetangga baru yang rumah nya dekat dengan Pak Kusman."
"Hem sayang sekali ya bu aku kurang beruntung." Jawab ku dengan mimik muka sedih. Membuat Bu Sum merasa Iba.
Jika terus ku ladeni sampai siang hari pergibahan ini tidak akan selai. Gimana cara pergi dengan sopan sih.
"Iya padah Ganteng sekali mirip artis korea."
Alina tertawa terbahak bahak. Bu Sum ini sudah berumur 50 Tahun tapi masih kenal dengan Drama Korea benar-benar Ya.
"Bu Sum tau Korea.?? " Ucap Alina tak henti tertawa.
"Ihh Alina kamu menawakan orang tua. Tidak sopan." Ucap Bu Sum.
"Ah .. Ibu marah ???" Alina mengandeng tangan Bu Sum. "Alina minta Maaf." Sambil bergeleyotan manja di lengan Bu Sum.
"Emm Anak Ini. Bagiamana Ibu bisa marah kalau kamu seimut ini jika merayu." Kata nya.
"Tapi Ibu benar nonton Drama Korea."
"Tentu saja." Jawab nya tanpa ragu membuat Alina menu.tup mulut nya menahan tawa nya.
"Ah Baiklah. Sudah dulu ya Bu Sum Alina harus mengantarkan kue Ini lagi ke warung Bu Aida." Pangkas Alina kalau terus di ladeni Alina bisa berjam-jam di sini.
"Hati- hati Alina."
"Bay Bu." Alina sudah ingian melangkah beberpa langkah menjauh dari warang tersebut. Tiba-tiba Bu Sum memanggil nya berteriak sangat kencang.
"Alina... Alina ... Alina..." Teriak Bu Sum
"Iya Bu." Teriak nya. Karena lumayan jauh Bu Sum memberi isyarat tangan menyuruh nya kembali mendekati nya.
"Ada Apa bu. ??"
"Kue mu ada yang mau di borong. Jadi tidak usah di antar ke warung Bu Aida."
"Benar kah Bu Sum." Alina begitu girang mendengar nya.
"Iya." Bu Sum menggandeng tangan ku. "Alina ini yang mau borong. Pak Polisi yang tadi Ibu mau Jodoh kan dengan mu." Bu Sum berbicara begitu santai nya. Sedangkan Alina hanya tertunduk malu.
"Lihat lah. Dia tampan seperti artis korea Alina." Tutur nya lagi.
"Bu Sum, Lihat nya Pak Polisi nya merasa sangat tidak nyaman." Ucap ku mencoba menahan Bu Sum agar tidak bicara yang tidak-tidak.
"Ganteng mana dengan pacar mu.??" Tanya nya lagi aku hanya mengigit bibirku.
Aku tidak akan mampu menahan pertanyaan nya.
"Pak Polisi jadi beli berapa kue nya. ??" Tanya ku.Aku mengabaikan Bu Sum berharap Pak Polisi ini segera pergi sebelum ada hal yang lebih gila lagi.
"Saya ambil semua."
"Alina... " Panggil Bu Sum.
"Pak Polisi sedang buru-buru kalau ibu banyak mengobrol dengan Alina. Nanti dia bisa berubah pikiran dan tidak membeli kue Alina." Biarin malu sekalian Ucap Alina di dalam hati nya.
"Tapi dia gantengkan Alina."
Tuhkan masih saja Bu Sum. Dia ganteng memang ganteng sekali.
Alina menggangkukkan kepala nya.
"Putuskan saja pacarmu Alina. Menikahlah dengan Pak Polisi ini."
"Baiklah Pak. Semua Enam Ratus Ribu Rupiah."
Pak Polisi itupun mengeluarkan uang nya.
"Terimakasih." Ucap nya.
"Sama-sama Pak."
"Kau sudah menikah Pak Pol." Tanya Bu Sum.
"Belum." Ucap Pak Polisi itu dengan tersenyum.
"Tuh Alina ayolah putuskan pacar mu. Pak Pol itu pas sekali untuk mu."
Alina menutup wajah nya karena malu. Pak Polisi itu bernama Arya dia juga punya tempat Gym sebab itulah perawakan nya begitu bagus. Arya tersenyum wajah cantik Alina yang menahan malu juga menjadi daya tarik tersendiri.
"Gadis Cantik." Gumamnya ketika jauh melangkah.
"Ihh Bu Sum."
"Kau bersemu merah." Ejek Bu Sum.
Bu Sum ini begitu baik pada keluarga Alina dulu ibu nya berhutang bahan-bahan pembuatan Kue pada Bu Sum. Meskipun mulut nya susah sekali di kontrol. Setelah berpamitan dengan segudang Wejangan dari Bu Sum.
Alina berjalan pulang sebuah mobil telah terparkir di halaman nya. Mobil yang begitu iya kenal. Siapa lagi kalau bukan Lisna.
"Itu Alina. "Ucap Bu Risma. Ibu dari Alina.
"Kenapa begitu lama Nak.?" Tanya Bu Risma. Ketika putri nya telah berdiri di hadapan nya.
"Ibu kan tau kalau Bu Sum bicara."
"Kasian dia Alina. Dia selalu saja menanyakan mu setiap hari pada Ibu. Dia begitu merindukan mu. "
"Iya Buk Alina tau itu."
"Ibu tinggal ya Lis."
"Iya Buk. Dimakan Kue nya."
"Iya Buk."
Setelah Ibu masuk kedalam rumah. Lisna mengoceh tentang keadaan Ayah Alina. Lisna merasa kecewa karena Alina tidak menceritakan itu semua pada nya.
"Aku hanya tidak ingin menjadi beban mu Lis. Sebagai sahabat aku selalu menjadi beban untuk mu." Alina menatap sahabat nya itu. Iya tau Lisna baik. Lisna Tulus. Dan Lisna Ikhlas dan semua itu menjadi beban bagi nya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu.?"
"Kenyataan nya memang seperti itu kan Lis." Alina menagis di pelukan Lisna. "Aku malu Lis selalu meminta tolong padamu. Kali ini aku tidak ingin meminta tolong padamu lagi."
"Aku ini sahabat mu Alina. Hanya kau teman ku. Aku tidak merasa terbebani oleh mu."