Tak ingin kulanjutkan dan bahkan rasanya tak perlu juga kuselesaikan kalimatku, aku sudah bisa membaca apa yang telah terjadi padanya.
Hingga aku pun langsung turun dari duduk di ranjangku, untuk mendekat kepadanya.
“Ini...”
Dengan tangan yang refleks kujulurkan pada wajahnya yang entah bagaiamana ceritanya jadi terlihat berantakan, dengan lukanya yang bertebaran, di tambah warna lebam yang menodai ketampanannya.
“Gak papa kok, aku kemarin cuma lagi sial aja...”
Balasnya begitu, di sertai dengan senyum yang kini di tampilkannya kepadaku, seolah ingin meyakinkanku kalau ‘Gak papa’-nya itu benar adanya.
Sayangnya aku cukup tahu kalau apa yang sedang tampil di depan mataku saat ini, sangat jauh dari kata itu.
Wajahnya yang babak belur dengan alasannya yang masih belum pasti, nam