"Bukan! Bukan seperti yang aku mau, Al. Aku sayang sama dia," aku menangis sambil mengucap kata-kata itu pada Aldo. Dia teman lebih dari sahabat. Dia dan aku seperti saudara kandung. Sangat akrab.
"Dia? Laki - laki banci yang sudah buat kamu berubah seperti bayi!!! Kamu masih ingin disakiti seperti yang sudah - sudah? Ha? Berapa kali kamu telpon aku cuma buat nangisin dia? Inget nggak, Ra? Apa kamu tidak kasihan sama dirimu sendiri? Kamu terlalu baik buat dia. Apa yang kamu harapkan? Masih banyak laki - laki yang lebih baik dari dia, yang lebih pantas buat kamu," Aldo menegaskan itu padaku sambil mengacungkan telunjuknya tepat di depan mataku yang mulai berair.
"Tapi Al, aku nggak bisa bohong. Aku tetap merindukannya"
"Mau berharap sampai kapan, Ra? Bukankah justru dia sendiri yang ingin kamu pergi dari hidup dia?"
"Tidak Al. Dia tidak seperi itu. Dia...."
"Hhggrr... Terserah kamu. Aku tidak mau mendengar namanya sekali lagi. Apa lagi sampai tahu kamu menangis karena dia. Aku bosan!!", kata Aldo tegas dan langsung pergi meninggalkanku.
Ya. Aku memang jenis makhluk yang sedikit merasa kesulitan kalau harus menyelesaikan masalah. Meskipun itu masalahku sendiri dan meskipun itu love story-ku. Dasar lemah!
***
Butuh beberapa hari bagiku, untuk memikirkan semua ini, kemudian memutuskan what's next? Lalu, Jum'at tangal 11 Juli 2005, aku mundur darinya. Satu hari setelah ulang tahunnya berlalu. Ini adalah kado untuk dia.
"Demi hati kamu yang satu dan hanya untuk ibu kamu, aku lepasin kamu, 11 Juli. Jujur, sebenarnya ini cerita lucu antara kita berdua. Ketika salah satu dari kita harus berani mundur, dengan alasan kamu ingin mencintai ibu kamu seutuhnya. Otakku nggak nyampe kalau harus mikir sampe ke situ. Kalo dari awal kamu emang begitu, terus kenapa kamu harus deketin aku dan seolah kamu benar - benar ingin sama aku? Lucu nggak sih? Aku pikir selama ini kita sepakat untuk serius. Aku pikir selama ini kita sudah saling memahami kondisi satu sama lain. Aku pikir selama ini kamu sudah sedikit belajar menghargai usahaku agar kita berjalan lebih lama. Tapi nyatanya, ini benar - benar aneh".
Dia hanya diam saat aku mulai banyak bicara. Dia benar - benar menutup mulutnya dan sama sekali tidak ada pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Finally, ya udah. Apa yang jadi inginmu, terwujud. Terima kasih banyak buat semuannya. Setidaknya, kamu udah pernah buat aku ngrasa jadi perempuan yang sesungguhnya. Feminim dan dicintai. Merasa jadi perempuan yang paling beruntung dan spesial. Sekaligus, ini menjadi kado buat ulang tahun kamu dari aku. Melepasmu demi alasanmu itu. Sekali lagi thank you so much".
Demi Tuhan, aku nggak bisa nahan air mata, saat dia pergi begitu saja tanpa berkata apapun padaku.
Bayangkan, betapa kecewanya ketika kita sudah serius dengan seseorang, kemudian dia beralasan. Yang secara logika, alasan itu bahkan bisa dia katakan jauh hari sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan denganku.