Alia menikahi Rangga Pramudya di musim semi setahun yang lalu, di pesta yang semua undangannya datang tetapi semua tamunya berbisik.
Semua orang tahu ceritanya. Alia adalah 'perempuan lain' — sekretaris eksekutif yang merebut CEO dari istrinya. Ketika Sinta, istri pertama itu, tewas karena overdosis obat tidur di rumah mereka sendiri, bisikan itu berubah menjadi vonis: perempuan perebut akhirnya menang. Empat bulan setelah pemakaman, Alia menjadi Nyonya Pramudya yang baru.
Tidak ada yang bertanya apakah 'menang' itu rasanya seperti ini.
Rumah besar itu megah dan dingin. Rangga mengatur segalanya: dengan siapa Alia boleh bertemu, jam berapa ia boleh keluar, bahkan aplikasi apa yang terpasang di ponselnya — 'untuk keamananmu, Sayang. Banyak orang jahat mengincar istri CEO.' Mula-mula Alia membaca itu sebagai perhatian. Bulan-bulan berikutnya, ia mulai menghitung pintu: keluar rumah harus lapor, sopir melaporkan rutenya, dan kartu kreditnya — yang semua tagihannya terlihat oleh suaminya — adalah satu-satunya uang yang ia pegang.
Ia menceritakannya sekali kepada ibunya sendiri, dan ibunya menjawab seperti jawaban semua ibu yang putrinya menikah ke atas: 'Syukuri, Nak. Laki-laki posesif itu tanda cinta.'
Maka Alia berhenti bercerita. Kepada siapa pun.
Sampai hari itu — hari Kamis yang basah, ketika Rangga di luar negeri dan Alia bosan setengah mati — ia memutuskan membereskan gudang bawah tangga. Sekadar mengisi waktu. Sekadar memindahkan kardus-kardus tua yang tidak pernah dibuka siapa pun.
Di sudut paling belakang, di bawah tumpukan taplak meja kusam, ia menemukan koper kecil berwarna merah marun. Tidak terkunci. Di dalamnya: pakaian perempuan bermerek tapi lama tidak disentuh, beberapa buku — dan satu buku bersampul kulit biru tua dengan sudut yang melengkung karena sering dibuka.
Di halaman pertamanya, dengan tulisan tangan yang rapi dan kecil:
*'Diari Sinta. Kalau kamu menemukan ini dan aku sudah tidak ada, bacalah sampai habis. Jangan berhenti di tengah.'*
Tangan Alia mendingin.
Ia tahu tentang Sinta, tentu. Semua orang tahu versi resminya: istri pertama yang rapuh, depresi, dan akhirnya menelan terlalu banyak obat tidur di kamar utama — kamar yang sekarang menjadi kamar Alia. Rangga tidak pernah membicarakannya. Satu-satunya kali Alia bertanya, suaminya menjawab dengan nada yang menutup pintu: 'Dia sakit, dan kita semua sudah berusaha. Jangan ungkit lagi.'
Alia membawa diari itu ke kamar — kamarnya, kamar yang dulu kamar Sinta — dan mengunci pintu. Ia tahu ia seharusnya menaruhnya kembali. Ia tahu membaca diari orang mati adalah pelanggaran. Tetapi tulisan tangan kecil di halaman pertama itu seperti tangan yang menggapai dari balik pintu: *bacalah sampai habis.*
Ia mulai membaca.
Halaman-halaman awal berisi keseharian yang normal: resep, jadwal, keluhan kecil. Lalu perlahan, di tahun ketiga pernikahan itu, nada tulisannya berubah.
*'Rangga memeriksa ponselku lagi hari ini. Aku bilang aku keberatan, dan dia menatapku seperti aku menuduhnya membunuh orang.'*
*'Dia bilang aku tidak perlu teman. Teman-temanku "pengaruh buruk". Satu per satu mereka berhenti menelepon. Atau diberhentikan?'*
*'Hari ini aku bertanya soal yayasan. Dia tidak menjawab. Dia menatapku lama sekali, lalu menyuruhku minum obat penenangku. Aku tidak merasa butuh obat penenang. Tapi di rumah ini, pertanyaan adalah penyakit, dan obat penenang adalah obatnya.'*
Alia berhenti membaca. Tangannya turun ke samping tempat tidur, meraba kotak kecil di nakas — kotak berisi tablet-tablet yang setiap malam disodorkan Rangga ke tangannya dengan segelas air dan senyum.
*'Untuk tidurmu, Sayang. Kamu selalu gelisah akhir-akhir ini.'*
Ia menatap kotak itu untuk waktu yang sangat lama. Di luar, hujan mulai turun, dan rumah besar itu terasa seperti seseorang yang sedang menahan napas.