RARE | 3. DREVANZA
"Sahabat itu seperti bintang di angkasa, seperti mentari di siang hari, dan seperti bulan di kala malam."
*****
Begitu bel istirahat berbunyi, empat orang siswa langsung keluar ruangan untuk menguasai kursi-meja yang ada di depan kelasnya.
Kursi-meja itu mereka dapatkan dari kantin sekolah. Entah bagaimana caranya, di hari pertama masuk sekolah Tahun Ajaran Baru kemarin, tiba-tiba saja kursi-meja itu telah berpindah tempat ke depan kelas XI IPS 5 yang berada di ujung lorong lantai dua gedung.
Pak Kris dan Bu Rike yang sudah mengesampingkan rasa heran akan tingkah mereka memilih untuk membiarkan saja. Daripada harus melakukan sesi debat yang tidak akan pernah berhenti dengan mudah dan malah menambah beban pikiran juga pekerjaannya. Pikir kedua guru besarnya, selagi mereka tidak melakukan hal-hal di luar batas tata tertib dan ketentuan sekolah, biarkanlah saja tingkah mereka itu.
Masing-masing dari mereka telah memakai kembali kalung rantai bola yang sama seperti Ramanda. Namun, hanya liotin plat berukiran nama samaran saja. Tidak pakai embel-embel liotin peluru, sebab itu hanya dipakai oleh Ramanda.
"Tumben bos besar gak ada penampakannya? Lagi kemana?" Pedrosa yang duduk di samping Feroza mencomot chicken nugget dari tempat bekal kembarannya itu.
Pedrosa Villa. Namanya saja yang khas kebarat-baratan, aslinya ia adalah orang asia tulen, pun dengan kembarannya---Feroza. Entah mereka termasuk kembaran indentik atau tidak, hanya kedua orang tua, dokter dan Tuhan saja yang tahu. Yang jelas diketahui keduanya adalah waktu kelahiran mereka yang hanya berbeda sepuluh menit. Tentu Pedrosa lah yang lahir terlebih dahulu.
Feroza Clio. Bercita-cita menjadi seorang pemain sepakbola ataupun atlet lari yang handal. Mempunyai skill ketangkasan yang tidak main-main. Apalagi jika ia sudah bermain futsal. Jangan pernah berharap mampu merebut bola dari penguasaannya.
"Gak tau, tuh. Tadi, sih, katanya mau ke ruangan OSIS," jawab Adam yang juga sibuk melahap bekalnya.
Adam Wiraatmadja. Lelaki berwajah manis ini adalah saudara tiri dari Ramanda. Ayah Adam dan ibu Ramanda menikah saat kedua anaknya bersekolah di SMP yang sama. Dua saudara tiri dengan kepribadian dan wajah yang hampir bertolakbelakang. Dia juga satu-satunya orang yang paling sabar menghadapi dan menasehati Ramanda.
"Dih, tumben?" celetuk Feroza terheran-heran. "Ada apakah gerangan?"
"Yang pastinya, Rama gak akan mungkin ngajuiin diri buat jadi anggota OSIS. It's so impossible," ujar Dennis, dengan ekspresi melebih-lebihkan.
Dennis Prasetyo. Kapten tim inti ekskul basket yang sebentar lagi akan diangkat menjadi ketua ekskul. Sekali melemparkan senyuman ia mampu membuat sederet siswi yang berada di sekitarnya mendadak tersihir akan kharismanya. Selain itu, poin plus betapa sempurnanya seorang Dennis di mata para siswi seantero Manggala adalah aroma wangi khas yang menyelimuti dirinya dan akan menyebar ke sekitarnya jika Dennis baru saja melewati daerah itu.
Pedrosa refleks memercikkan air ke wajah Dennis. "Lagak lo, Den, Den."
"HEH!! Minuman gue ituu!!" protes Gerry karena gelas minumannya telah menjadi korban celupan tangan Pedrosa.
Gerry Mahesa. Teman akrab Ramanda dan Adam sejak duduk di bangku SMP. Wajahnya tegas namun memiliki sifat seperti bahan bakar yang mudah tersulut api.
"Ya, elahhhh, tinggal buang, terus ambil air lagi di dispenser kelas." Pedrosa lantas bangkit dan mengambil gelas Gerry. Menumpahkan sisa airnya di atas salah satu pot tanaman depan kelas.
"Eh, Ped! Dicuci dulu itu gelasnya!! Tangan lo najis berat!" teriak Gerry melihat Pedrosa yang hendak masuk ke dalam kelas untuk mengambilkannya air minum.
Pedrosa berdecak. Lalu berbalik badan menuju wastafel yang berada tak jauh dari pot tanaman tadi. "Cerewet banget jadi manusia." Ia mengomel sambil menggosok gelas dengan sabun cuci tangan yang ada di sisi wastafel. "Untung lo laki, kalau perempuan, udah jadi emak-emak rempong lo," gumam Pedrosa melirik sinis Gerry.
"Ped, gue denger, yaa!" sewot Gerry.
Beberapa saat kemudian, bersamaan dengan sekembalinya Pedrosa yang telah selesai mencuci gelas Gerry dan mengambilkannya air minum dari dalam kelas, tiba-tiba datanglah salah satu siswa lain dari kelas XI IPS 5 yang berlari dengan wajah heboh.
"WOII, WOII, WOII!!" Kelima manusia yang berkumpul di depan kelas sontak menoleh penasaran kepadanya. "Ada komplotan gak dikenal bikin ribut di pagar depan sekolah!"
"Hah?" Gerry mewakili suara terpendam teman-temannya yang juga terlihat sama bingungnya.
"Gue gak tau mereka itu geng atau komplotan apa. Yang jelas gue liat dari gerbang lorong tadi, mereka kuat banget goyang-goyang pagar depan. Pak Ro, sama beberapa guru berusaha nanya baik-baik tapi gak digubris. Malah makin ribut sendiri."
Sebentar.
Mereka berdelapan kompak mengernyit. Terdiam dengan pikiran menjalari ingatannya masing-masing. Kelompok mana yang terakhir kali bermasalah dengan mereka sampai-sampai nekat mendatangi sekolah seperti ini.
"OH, SHITTTT!!!" seru Gerry membuat teman-temannya menoleh---sedikit terkejut.
"Pas balapan malam Minggu kemarin kan, si Rama kelahi sama Alex." Perkataan Gerry membuat keempat temannya tersadar akan ingatannya. Berbeda dengan siswa tersebut yang raut wajah hebohnya semakin menjadi-jadi.
"Tapi kan, anak b******k itu yang salah. Masa Rama sengaja ditabrak gara-gara dia---Alex---kalah balapan? g****k banget sampe motor Rama hancur dan terpaksa diopname di bengkel Tri Jaya," jelas Pedrosa menuturkan ingatannya. "Untung aja Rama masih sehat wal afiat."
"Yang jadi masalah mereka, habis kelahi sama Rama, Alex juga ikutan diopname di rumah sakit." Gerry menjelaskan inti permasalahan.
"Sempat kritis malahan." Adam menambahkan.
"SUMPAH LOOO??!!!" Teman-temannya refleks bangkit dengan delikan tak percaya. Nyaris saja bola mata mereka berhamburan keluar.
*****
Derap lari kelima siswa yang berlarian menggema di sepanjang lorong lantai dua. Murid-murid lain yang belum maupun sudah tahu akan berita teranyar, menatap heran tingkah mereka.
"HAIS!! MINGGIR BODOH!!!" maki Gerry yang memimpin di depan, kesal melihat sibuknya lalu lalang di area tangga.
Sebab tak mau menunggu lama, Gerry lantas memutar arah tujuan mendekati balkon lantai dua. Menyempatkan diri untuk mengecek keadaan di bawah sana. Dirasanya memungkinkan karena ada kanopi beton---pelindung jendela lantai dasar sebagai tempat pendaratan awal, tanpa ba-bi-bu lagi Gerry langsung melompat turun ke kanopi itu.
"ANJIR SI GERRY?!!" Seru teman-temannya yang segera mendekati balkon untuk memastikan kondisi Gerry, tetapi ia malah melanjutkan aksinya. Melompat turun dari kanopi ke lantai dasar. Sampai-sampai membuat kumpulan siswi yang ada bawah sana menjerit kaget melihat penampakannya.
"CEPATAN TURUN WOIIII! GAK USAH KEBANYAKAN MIKIR! GAK BAKALAN MATI KALAU CUMAN BEDA SATU LANTAI BEGINI!!" omel Gerry dengan teriakannya. Dari tempatnya, ia menatap ke arah lantai dua sambil berkacak pinggang.
Feroza menghela napas pasrah. Tanpa banyak bicara, ia lalu mengikuti tutorial yang diperlihatkan oleh Gerry dengan gesit. Benar-benar cepat sampai teman-temannya yang masih tersisa di atas sana menggeleng takjub.
"Lo manusia apa jin, sih? Ringan banget bawa badan," komentar Pedrosa yang nyaris jantungan menyaksikan aksi kembarannya.
"BACOT LO! TURUN CEPATAN!" Feroza kembali menjiplak pose Gerry.
"Haduhhh, mana makanan kelinci gue habis lagi," ucap Adam dengan nada pasrah.
"HEH!! GAK ADA HUBUNGANNYA!!" protes Gerry galak.
"Ya, adalah! Sekarang ini kita lagi menghadapi situasi antara hidup dan mati. Kalau gue mati, dimana rasa tanggung jawab gue akan peliharaan gue dirumah?"
Gerry berdecak kesal, memutar bola matanya. Dasar lelaki terlalu goodboy!
Setelah meyakinkan diri dan segenap hati mereka lewat tatapan telepati, mereka pun akhirnya memutuskan mengikuti langkah-langkah yang telah dicontohkan oleh keduanya.
Meskipun awalnya sedikit ragu, namun begitu telah mendarat di lantai dasar, mereka berempat---Adam, Pedrosa dan Dennis---langsung memasang tampang bergayanya. Apalagi saat murid-murid lain bertepuk tangan, apresiasi dengan pertunjukan dadakan yang mereka lakukan.
Sedangkan Gerry dan Feroza kompak mengeluarkan sumpah serapah melihat tingkah ketiganya.
*****
Langkah kedelapannya berhenti tepat di depan gerbang lorong utama. Di halaman depan sana, terlihat satpam penjaga dan beberapa orang guru laki-laki berusaha menenangkan komplotan itu. Dan bodohnya, mereka baru sadar kalau gerbang ini sudah pasti terkunci selama jam sekolah sedang berlangsung.
"Lewat kantin!" perintah Gerry lantas berbalik badan dan berlari, kembali memimpin arah tujuan.
Tak sampai satu menit berlalu, mereka berlima telah tiba di ujung kantin. Walau gerbang di hadapan mereka ini menjulang tinggi, setidaknya inilah satu-satunya jalan untuk keluar area gedung sekolah menuju halaman depan. Tanpa diperintah lagi, mereka lantas mengikuti Gerry memanjat gerbang tinggi itu.
Sesampainya di halaman depan, mereka langsung dicegah oleh para guru, tetapi Adam dan Gerry segera mengajukan diri untuk memaparkan tentang permasalahan yang ada.
*****