"Kau tak bisa melarang orang untuk jatuh cinta. Karena Cinta punya hak untuk itu"
--------------
"Buka jalan! buka jalan woi!"
Suasana koridor lantai bawah menjadi Heboh, satu orang cowok membantu Alfi menghandle jalan agar mereka segera menyingkir karena Alfi tengah kesusahan menggendong seorang gadis yang tengah pingsan.
"Itu kenapa pingsan?"
"Minggir-minggir cepetan ada yang pingsan!" suruh cowok dengan menyingkirkan semua anak-anak yang menghalangi jalan di depannya, sementara Alfi di belakangnya berjalan dengan tenang sambil menggendong gadis yang tengah pingsan itu.
"Alena ngapain digendong gitu sama Alfi ihhh!!! "
"Lo nggak liat tuh cewek pingsan,"
"emang diapain sampai pingsan gitu? "
"Paling juga modus secara dia kan cantik, biasa lah, akal-akalan cewek biar di bopong cowok." seorang cowok pada teman-temannya yang sedang duduk di teras sekolah.
"Alfi kok bisa gendong cewek upil! "
"Wihh gue gak terima! Tuh cewek pasti macam-macam sama Alfi makanya dia pura-pura pingsan biar di gendong Alfi "
"Iya, emang Dasar cewek modus! "
"Cewek gatel tuh... Cewek gatel!"
"Alena kenapa? Kok bisa sama Alfi? "
"Alena kita kenapa Rif, kok pingsan gitu. Aduh mana di gendong sama Alfi lagi, huwaaa!!! "
Sepanjang koridor siswi-siswi tengah sibuk memkik girang dan saling melontarkan ucapan kasar pada seorang gadis di gendongan Alfi. Tak ada terima Alfi sang most wanted SMA Yadika menggendong seorang cewek upil yang bahkan baru 2 minggu menjadi anak pindahan di sekolah ini.
Mereka tidak menyangka cowok setampan Alfi yang bisa dibilang tidak pernah berbicara dengan cewek sekalipun, tau-tau keluar kelas sambil bopong cewek yang bahkan baru dia kenal di sekolah ini. tentu saja mereka merasa iri dengan Alena.
"Cepetan buka Ver, pegal tangan gue." ucap Alfi meringis, menatap wajah Alena yang tertidur di gendongannya.
"tahan Fi, ini gue lagi buka." Verdi buru-buru membuka gembok UKS.
Semua Siswa langsung berkerumun di depan UKS, penasaran dengan kejadian yang terjadi dengan Alena. hanya satu tujuan mereka, yang pastinya mereka ingin tau penyebab Alena bisa pingsan dan bisa di gendong oleh Alfi. sementara itu dua orang siswi langsung menerobos kerumunan dengan paniknya. kedua siswi itu mendekati Alfi dan Verdi di depan UKS.
"Alfi temen gue kenapa?" tanya Rifka menatap tubuh Alena yang begitu lemah di gendong Alfi.
"lo Apain sahabat gue!" Sisil ikutan panik sambil teriak.
"Berisik lo berdua!" verdi menegur, kemudian membuka lebar pintu kelas "Bawa masuk fi."
"Verdi!" pekik Rifka dan Sisil bersamaan.
"Apa sih ciwi-ciwi?"
"Alena kenapa?"
"Pasti lo apa-apain kan sampai pingsan begitu."
"Astaga, Mustofa! gue di tuduh dong."
"Terus kenapa bisa pingsan, sahabat gue kenapa?" tanya Sisil meminta penjelasan pada Verdi yang sama sekali bingung juga mau menjelaskan. karena sebenarnyatadi dia hanya lewat dan menemukan Alfi keluar kelas menggemdong Alena yang pinsan.
"Tolonglah betina-betina yang masih berkembang biak ini Mustofa, gue gak tau apa-apa di tuduh yang enggak-enggak." Verdi mengangkat kedua tangannya sambil memasang tampang menyedihkan sekan-akan dia tengah mendapatkan kesialan.
plak!
HAHAHAHAHA! semua orang tertawa melihat betapa konyolnya si Verdi, seakan lupa dengan Alfi sudah membawa Alena ke dalam UKS.
"Gak usah Drama bisa gak!"
Verdi mengusap pipinya karena barusan ditanpar oleh Sisil.
"Galak banget ya Mustofa."
"hhuh!" sisil menghunuskan tatapan tajam pada Verdi.
"Kayaknya gue selalu salah di mata semua cewek, gue gak ngelakuin apapun tetap salah dah!" ucap Verdi sambil menggaruk pipi.
lantas semuanya tertawa sambil menyoraki Verdi di depan UKS.
~
Alfi menidurkan Alena di atas brankar dengan hati-hati. Alfi kemudian berjalan mendekati lemari UKS. Alfi membuka lemari kaca itu kemudian mengambil selimut yang memang sudah di sediakan di lemari. setelah mendapatkan selimut, Ia membawa selimut itu kemudian memakaikannya pada tubuh Alena. Alfi benar-benar telaten merawat Alena. Seperti dia memang sudah sering melakukannya pada orang lian. saat usai memakaikan selimut, Alfi terhenti menatap keringat di dahi Alena, lantas tangannya bergerak ingin menyentuh dahi gadis itu. namun Alfi langsung sadar.
"Alenaaaa!" teriak Rifka membuat tubuh Alfi langsung menjauh dari Alena.
"Fi, Alena kenapa?" tanya Rifka kasihan, ia langsung duduk di samping Alena, mengelus kepalanya.
Alfi hanya diam menatap Alena yang terbaring lemah, tanpa menjawab pertanyaan Rifka , cowok itu malah pergi meninggalkan Alena dan Rifka.
"Salah satu dari kalian tolong panggilin petugas piket hari ini. Gue mau balik ke kelas, " kata Alfi ketika berhadapan dengan kerumunan para siswa-siswi di dean UKS.
Sisil yang melihat Alfi keluar UKS bergegas masuk keruangan itu untuk melihat keadaan sahabatnya.
Alfi mengernyit ketika semua menatap dirinya. Semunya bergeming seperti orang bodoh. Mereka menatap Alfi dengan tatapan bingung.
"Ok kalau gak ada yang mau, biar gue aja yang pergi, " kata Alfi akan pergi namun seorang cewek tiba-tiba muncul dari kerumunan dan langsung berhadapan dengan Alfi.
"Alfi gue aja!"
Alfi menatap gadis yang sudah ia kenali itu, "Echa?"
"Biar gue aja Fi, lo pasti kecapean abis gendong tuh cewek jadi biar gue aja, " ucapnya dengan senyum memelas.
Alfi menatap gadis itu beberapa detik, kemudian membalas dengan anggukan. "oke gue serahin ke lo."
Cewek itu menghela nafas lalu cewek memakai sweeter biru itu langsung pergi ke ruang TUS (Tata Usaha Sekolah) untuk memanggil Abinka petugas Kesehatan yang akan menangani Alena.
Satu persatu murid yang berkerumun pergi dan menyisahkan beberapa orang yang masih penasaran di depan UKS.
**
"Kak Binka! "
Echa memasuki ruangan TUS yang berisi beberapa siswa yang tengah berkumpul di satu meja dengan satu orang yang mengetik di komputer. Atensi mereka teralihkan saat Echa memanggil salah satu dari mereka
"Eh Cha, Ada apa? " tanya seorang cewek dengan rambut di kuncir satu.
"Itu di UKS ada yang pingsan, aku di suruh Alfi manggil kakak, "
Semuanya nampak memperhatikan Echa berbicara. "Ini data-datanya masih ada yang salah teman-teman, " tanpa peduli seorang cowok yang masih aktif dengan komputer di depannya.
"Yang pingsan siapa cha? " tanya Binka sembari merapikan map yang berserahkan di meja. Senyum di bibir nya terus ia pancarkan.
"Alena! " ucap Echa.
Mata binka langsung melirik Echa, yang berdiri kaku. Seketika Binka diam, ia meletakkan map itu ke dalam laci lalu menatap Echa yang berdiri di depan meja. "Kenapa bisa pingsan cha? " tanya Binka berubah dingin.
Echa tiba-tiba bingung kenapa saat mendengar nama Alena Binka tiba-tiba diam. "Aku juga gak tau kak, tadi pas dari kantin aku gak sengaja lihat banyak yang rame di koridor, ternyata yang lagi di ributin Alfi yang lagi gendong Alena, " jelas Echa bergeming ketika menangkap sorotan mata kini tertuju padanya.
"Alena anak pindahan itukan cha? Ponakannya Bu Teten? "
"I.. Iya kak, " ucap Echa kepada yang tidak terbiasa berkomunikasi dengan kakak kelas.
"Gue denger dia anak pindahan, " ucap cewek berambut merah dengan dandanan sedikit menor.
Echa mengangguk saja. padahal sebenarnya dia juga baru tau tadi.
"Oh Alena yang pindah di kelas 11 Ips 1 kan? Yang manis-manis itu, " sahut seorang cowok yang sedang mencatat daftar acara yang akan di selenggarakan minggu depan di panti bina bahasa.
"Huuuu!!! giliran bahas cewek lo langsung nyahut njirr!" seru teman yang lain melempari cowok itu dengan bola kertas. Yang dilempari hanya tercengir malu.
Binka hanya geleng-geleng melihat kelakuan teman-temannya itu, lanas ia menoleh kembali pada Echa.
"Sorry ya cha, hari ini gue gak bisa ngurus UKS. Gue masih perlu kerjain yang lain. Dan teman-teman yang lain masih perlu bantuan gue buat penggalangan dana di panti Bina bahasa, "
Binka tersenyum kecut meraih ranselnya yang ia sampir di bangku meja. "Jadi kak?. Alenanya gimana, Alfi bakal marah kalo aku... "
"Bilangin ke Alfi, gue mau ke pasar nyari bahan buat besok. Alfi pasti ngerti kok, oh iya cha-, " Abinka menepuk pundak Gadis berambut panjang itu.
"Alfi itu anaknya keras kepala. Dan gue udah kenal dia sudah lama banget, dia nggak suka kalo ada cewek yang ngejar-ngejar dia. apalagi sampai berharap bisa deket sama dia, " ucap Abinka dengan senyum yang terselip di setiap katanya.
Binka berbisik "Alfi gak akan dekat lagi sama cewek."
Ucapan Binka itu benar-benar menohok hati Echa. padahal dia sudah lama menyukai Alfi sejak awal masuk ke sekolah ini, dia bertemu Alfi di satu kelas dan dia langsung suka bahkan sampai sekarang, tapi saat mendengar pengakuan Binka, sepertinya Echa harus menjauhkan dirinya. dia tidak ingin lagi berharap banyak.
Echa diam seribu bahasa Echa tidak pernah berfikir sampai kesana. Sejak kelas satu Echa menyukai cowok itu. Walaupun ia tidak berani untuk mendekat. Tapi tetap saja. Usaha pasti ada hasilnya dan Echa percaya usahanya menyukai Cowok itu akan tiba pada waktunya.
Tapi kapan?
"Gue cuman gak mau lo sakit hati sama sikapanya Alfi, lo manis mending lo cari cowok yang bisa tulus suka sama lo cha," Binka menepuk pundak Echa, kemudian mengulum senyum penuh arti "Ya udah gue mau pergi. guys gue kepasar dulu yah! " lanjutnya mengedip sebelah matanya.
"OKE!!!"
"Hati-hati binka!"
"Iya sip!"
Echa hanya diam menatap Abinka yang tersenyum tulus padanya. Lagi pula ucapan Abinka sepenuhnya benar. Alfi tidak mungkin menyukainya. di lihat dari sikapnya selalma ini yang terlalu menghindari semua cewek yang berusaha mendekat terutama dirinya.
"Bin, gue nitip selotip sama kardusnya ya buat baju-baju bekasnya, " ucap Pita saat Abinka sudah di depan pintu.
"Iya, Eh Kim? Jadi nganterin gue nggak?"
Cowok yang fokus ke layar komputer itu langsung menoleh ke arah pintu, "Eh iya sampai lupa gue. Re, lo yang lanjutin yah, " ucapnya pada cewek di sampingnya.
"Ok sip dah, "
Cowok itu langsung berdiri dari duduknya dan menyusul Abinka yang sudah berlalu.
Tinggal lah hanya Echa dan tujuh orang yang sedang sibuk masing-masing.
"Kak, echa pergi dulu ya kak, " pamit Echa kepada para seniornya.
"Iya Cha," kata Rere gadis berambut pendek yang sedang duduk di depan komputer.
Echa meninggalkan ruangan TUS, dia berjalan di koridor dengan tatapan kosong. sepanjang langkahnya cewek itu terus memikirkan ucapan Abinka. tentang menyuruhnya untuk menyerah saja atas apa yang ia rasakan terhadap Alfi.
bukannya menuju UKS, Echa malah berjalan dan berbelok menuju kantin sekolah yang ada di belakang. Rupanya Echa berniat untuk membeli teh panas untuk Alena, dia sangat baik mau perhatian ke pada Alena, bukan tanpa sebab ia hanya tak mau Alfi marah karena sebelumnya Alfi telah menyerahkan tugas untuk mengurus Alena.
"Bu, pesen Teh panasnya satu ya," ucapnya pada bu Tin berusaha tersenyum.
"Kok tumben dek Echa mesan teh, biasanya pop ice," wanita setengah baya itu terkekeh "dek Echa pindah selera toh,"
"Bukan kok bu, Echa gak suka teh. Ini buat teman echa. "
"Oh ya udah, tunggu bentar ya dek."
Echa mengangguk lalu setelah itu duduk termenung di salah satu meja. Tidak selang berapa lama teh pesanannya suda jadi.
Cewek itu pergi setelah membayar pesananya dan membawa nampan berisi segelas teh hangat itu menuju UKS.
*
*
"Apa yang terjadi? Kenapa ponakan ibu bisa pingsan? "
Kedua murid yang beediri di sisi brangkar menjadi gelagapan menatap tubuh gemuk itu berjalan pongah.
"Siapa yang buat dia pingsan hah? " tanya Bu Teten keheranan ketika Melihat Alena yang terbaring dengan selimut menutupi perutnya.
Btw, Bu Teten adalah guru bahasa indonesia SMA Yadika. Dia adalah sepupu ayahnya Alena. Bu Teten tubuhnya gemuk dan pakai kaca mata. Anak-anak biasanya memanggilnya ce'gu besar. Ada yang bilang bu Teten itu mirip karakter kartun yang ada di upin-ipin. ya itu, Cegu besar wkwk.
"Di cipok Alfi kali bu, makanya pingsan," ucap Rifka asal, membuat bu Teten melototkan matanya.
"Ngomong apa kamu, cipak-cipok mau ibu suruh cuci Wc lagi kamu Rifka?" tegasnya pada cewek yang berdiri di samping nakas bersama satu temannya yang menahan senyum dan menyenggol lengan Rifka
"E-enggak mau bu hehe... Ibu jangan serem-serem gitu dong matanya, Rifka jadi takut bu," ucap Rifka, dengan cengiran dan langsung mendapat pelototan yang lebih tajam.
"Eh ibu jangan percaya sama omongan ini anak, maklumin aja ya bu, Rifka habis ngisap micin jadinya ngomong kebanyakan Ngaur hehehe." Sisil tersenyum kikuk. Memeberi kode mata agar Rifka berhenti membuka mulut
"Sil, lo kira gue kids jaman now ngisap micin. Parah lo sama teman sendiri," ucap rifka dengan gaya menunjuk muka sisil sembari menggeleng
"Bu nie anak perlu di hukum nyuci Wc kayaknya. Ngomongnya suka fitnah. Masa aku di samain generasi micin bu?" kata Rifka dengan nada tidak terima
"Enak aja lo kalo ngomomg" ucapnya sisil mencubit lengan rifka membuatnya meringis "Aww! Sakit b**o! "
" Sudah! Sudah apa-apaan kalian ini malah berantem, kalian tidak lihat Alena lagi pingsan! "
Sisil melirik rifka yang tersenyum manis oada bu Teten yang berdirj di depannya sembari menolak pinggang. "Rif, udah ah! yuk ke kantin," bisik Sisil kepada Rifka, gadis itu langsung menarik tangan cewek berbando merah itu keluar dari ruangan UKS.
"Bu kita permisi yah, kita titip Alena ya bu. cabut Rif," Sisil tersenyum masam saat bu Teten melontarkan tatapan tajam. "Ihh serem Banget tuh mata," gumam sisil, lalu menarik paksa lengan Rifka yang sulit di ajak kompromi itu.
Dan ketika sampai di pintu gadis itu tetap menolehkan kepalanya"Eh Alena gimana sil, kita disini aja, " ajaknya kembali.
"Udah lo ikut gue, dari tadi perut gue udah demo gara-gara loh tau gak" ayo
"Lah kok malah jadi gue yang di salahin.?"
"Udah bacot!"
**
Saat mereka sudah pergi, Bu Teten mendekati Alena. gadis itu mulai tersadar dan bersandar di pilar brangkar.
"Aduh Nak, kamu kenapa bisa pingasan sih?" tanyanya mendaratkan bokongnya di pinggir brangkar.
"Alfi mana bu? " Alena menyebarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tapi Alena sama sekali tidak menemukan sosok Alfi.
"Alfi? Oh jadi benar yang di bilang Rifka, kalau kamu di cium Alfi, dan karena itu kamu pingsan?" Ucap bu Teten sedikut keras.
"Alfi nyium Alena?, " Alena menatap bu teten dengan bingung. Alena tidak terlalu ingat apa yang terjadi padanya.
"Yang bener... Alena... Dici... " Alena nampak berfikir.
"ALFI NYIUM ALENA? IBU GAK SALAH DENGAR?! " refleks Alena berteriak.
Prang!!
Suara pecahan gelas yang terjatuh, membuat Alena dan Bu Teten menoleh karena kaget.
Di sana berdiri Echa dengan kedua tangan yang masih gemetar. Ia mencoba tidak percaya dengan apa yang baru sjaa ia dengar. Namun tetap saja itu membuatnya semakin sakit hati. Seperti ada yang menyerang hatinya saat Alena berkata bahawa Alfi mencium gadis itu sampai pingsan.
Echa merasa sakit hati mendengarnya.
"Kenapa aku harus suka sama kamu Alfi?"
Mencintai orang yang salah adalah hal paling sakit, apalagi mengetahui orang yang kita cintai ternyata mencintai orang lian
-Rasa Hati-