“Haah, hari ini begitu melelahkan. Aku akan istirahat sebentar untuk menghilangkan penat ini”.
Zea merebahkan tubuhnya diranjang kesayangannya, walau lelah Zea tak dapat langsung terlelap. Ia masih memikirkan Darel dan juga Zahir laki laki yang baru ia kenal. Mengapa rasanya ini seperti takdir yang begitu saja terjadi, Darel yang begitu ia cintai pergi meninggalkannya begitu saja.
“Hiks..hiks..” Butiran bening kembali muncul dipelupuk mata Zea.
“Dasar Darel b******k, suatu hari pasti kau akan merasakan apa yang ku rasakan. Rasa sakit ini akan kembali pada empunya, nantikan itu. I hate you.” Umpat Zea emosi.
“b******k sepertinya tak pantas untuk ditangisi, jika dia bisa melupakanku begitu saja aku juga bisa melakukannya.” Gumam Zea penuh semangat.
Berhenti memikirkan mantan kekasihnya Zea masih belum terlelap, kini dalam fikirannya adalah kejadian tadi saat ia menangis dalam pelukan Zahir. Rasanya begitu nyaman dan ingin terus seperti itu.
“Mengapa dia begitu care denganku? Kenapa juga aku merasa begitu nyaman dengannya? Akhh tidak, kenapa juga aku memikirkannya”. Zea beranjak dan menuju kamar mandi, “Aku harus mandi agar fresh”.
Selesai dari aktivitas mandinya yang memakan waktu begitu lama, Zea bersantai sambil makan siang karena memang sejak tadi pagi ia belum memakan apapun.
“Aku harus makan banyak agar bisa menghadapi kerasnya hidup ini”. Gumam Zea
Zea Michella seorang gadis yatim piatu dari kampung dan pergi merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib. Sejak kedua orang tuanya meninggal ia diasuh oleh neneknya, akan tetapi nenek juga meninggalkannya sendiri. Di Ibu kota Zea bekerja sebagai penulis di perusahaan yang lumayan terkemuka. Setelah menghabiskan makanannya Zea kembali rebahan untuk benar benar mengistirahatkan badan dan pikirannya.
“Begini jauh lebih nyaman”. ucapnya lirih, tak lama Zea pun terlelap.
Dirumah Danita
Danita dan maminya sedang makan siang bersama sekaligus ngobrol untuk acara dinner nanti malam bersama keluarga pak Prastya. Dinner ini bukan sekedar pertemuan biasa, tapi juga perjodohan antara Zahir Danantya dan Danita Grizelle putri tunggal mereka. Zahir dan Danita memang ditakdirkan bersama karena mereka sama sama berasal dari keluarga yang berada.
“Danita apa kamu sudah menyiapkan gaun untuk nanti malam?” Tanya maminya.
“Belum mi, aku bingung harus mengenakan gaun seperti apa. Aku harus terlihat cantik kan.”
“Wah ternyata kamu begitu antusias sayang.” mami tersenyum riang.
“Aku sudah mengagumi Zahir begitu lama mi.”
“Mami tahu itu sayang, dan terlihat begitu jelas dari matamu.” Ledek mami.
“Akh mami, jadi gimana?” manja Danita pada maminya.
“Tenang sayang, mami akan usahakan yang terbaik untukmu.”
“Thanks mam!” Danita seraya memeluk senang maminya..
Triing..triing.. nada sambung pada handphone Danita berbunyi, dilihatnya layar benda itu yang ternyata dari Darel rekan bisnisnya minggu lalu. Danita adalah putri tunggal pak Haris, salah satu pengusaha sukses yang disegani. Jadi ia sudah harus ikut andil dalam memajukan bisnis papinya, karena hanya dia lah peneruskan bisnis itu nantinya.
“Halo, Darel”. Suara Danita terdengar hingga kesebrang tempat Darel berada.
“Danita apa kamu sibuk?”
“Tidak juga, apa ada sesuatu?”
“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu dinner. Apa kamu bisa?”
“Maaf Darel, malam ini sepertinya tidak. Aku sudah ada janji dinner bersama keluarga”. Darel agak kecewa mendengarnya.
“Baiklah jika begitu, mari pergi lain waktu”.
“Ok, see you later”.
“See you”. Darel terdengar kecewa..