Pertanyaan itu tak sempat kuucapkan karena istri Mbah Tejo sudah menarik tanganku dan menyuruhku duduk di dipan bambu.
"Sudah, jangan dipikir, Nduk. Suami saya itu memang bisa lihat," ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih.
"Bu, suami saya gimana?"
"Ditangani. Kamu di sini saja, jangan menyusul. Kalau kamu ikut, malah repot semuanya."
Aku menurut, meski kaki ini gemetar hebat. Setengah jam berlalu, langit sudah gelap sepenuhnya dan lampu teplok di pondok kecil itu mulai dinyalakan. Suara jangkrik memenuhi seluruh area pemakaman.
Ketika akhirnya Mbah Tejo datang, ia memapah Mas Arif yang sudah tak sadarkan diri. Baju suamiku kotor oleh tanah, ada luka gores di pelipisnya.
"Mas!" Aku berlari menghampiri.
"Tenang, dia cuma pingsan," ucap Mbah Tejo, "ndak apa-apa."
Ia membaringkan Mas Arif di dipan, lalu duduk bersandar di tiang sambil mengatur napas. Dari wajahnya jelas terlihat bahwa lelaki itu kelelahan.
"Mbah, itu tadi apa? Kenapa suami saya bisa gitu?"
"Yang nempel di suamimu itu bukan jin sembarangan, Nduk. Dia diikat, dikontrak sama seseorang. Saya cuma bisa nahan supaya dia ndak ngamuk sekarang. Besok lusa, ya balik lagi."
"Terus gimana biar lepas?"
"Yang bisa nyabut bukan saya," jawabnya sambil menggeleng, "saya ini cuma penjaga makam, Nduk. Ilmu saya secuil. Kamu ke tempat kawan saya, Mbah Parto, di desa sebelah. Dia yang biasa urus perkara begini."
"Jauh, Mbah?"
"Naik mobil sejam lebih. Nanti saya kasih ancer-ancernya."
Aku mengangguk cepat, seperti orang tenggelam yang diberi tali.
***
Malam itu juga aku menelepon Bibi, mengabari bahwa kami pulang terlambat. Aneh, begitu kusebut nama Mbah Parto, suara Bibi di seberang langsung berubah.
"Mbah Parto? Yang di Kedungwaru itu, Bu?"
"Iya kayaknya, Bi. Bibi kenal?"
"Kenal, Bu! Dulu rumah saya cuma dua rumah dari beliau sebelum saya pindah. Orangnya baik, sabar. Kalau memang beliau yang nangani, insya Allah aman," jawabnya lega.
Sedikit banyak, hatiku ikut tenang.
***
Keesokan sorenya kami berangkat. Mas Arif menyetir sendiri karena katanya badannya sudah enak, meski wajahnya masih pucat dan matanya cekung. Sepanjang perjalanan ia hampir tak bicara, hanya sesekali bertanya apakah aku mual.
Desa Kedungwaru ternyata kecil dan tenang. Rumah-rumahnya berjauhan, dipisahkan petak-petak sawah yang mulai menguning. Rumah Mbah Parto berada di ujung jalan, berdinding papan dengan pekarangan luas penuh tanaman obat.
Seorang lelaki tua keluar menyambut. Rambutnya putih semua, punggungnya sedikit membungkuk, tapi matanya tajam sekali.
"Kalian yang dari Tejo, ya?" tanyanya bahkan sebelum kami memperkenalkan diri.
"Iya, Mbah. Saya Risti, ini suami saya, Arif."
"Masuk. Bude, buatkan teh," serunya ke dalam.
Beliau menyuruh Mas Arif duduk menghadap jendela, lalu memandanginya lama tanpa berkedip. Suamiku sampai salah tingkah dan menunduk.
"Sudah berapa lama?" tanya Mbah Parto.
"Kurang lebih setengah tahun, Mbah," jawabku.
"Ada perempuan?"
Aku terdiam. Malu rasanya menceritakan aib rumah tangga sendiri di hadapan orang yang baru dikenal. Mas Arif pun menunduk semakin dalam.
"Sudah, ndak usah dijawab sekarang," ucap beliau sambil mengibaskan tangan, "besok saja kita bicara panjang, biar kepala kalian ndak tambah berat. Malam ini kita bereskan dulu yang nempel."
Aku bernapas lega. Bagiku itu cara paling halus untuk menolak bertanya lebih jauh.
Istri beliau, yang dipanggil Bude oleh semua orang di sana, keluar sambil membawa nampan. Wajahnya teduh dan ramah. Tak lama kemudian datang pula tetangga sebelah, Bu Atun, membawa sepiring pisang goreng, diikuti anak bujangnya yang bernama Farhan.
"Ndak usah sungkan, Mbak. Di sini kalau ada tamu ya semua ikut sibuk," ucap Bu Atun sambil tertawa.
Hangat sekali rasanya. Baru kali ini aku merasa diterima di suatu tempat setelah berbulan-bulan hidup di rumah yang tiap malam terasa asing.
***
Selepas isya, Mbah Parto meminta Mas Arif duduk di tengah ruang tamu yang sudah dikosongkan. Karpetnya digulung, perabot dipinggirkan. Hanya ada satu lampu bohlam kuning yang menggantung.
Beliau mengikat pergelangan tangan dan kaki Mas Arif dengan kain, kemudian menggambar batas dengan garam di sekeliling suamiku. Aku disuruh duduk di luar batas itu, bersama Bude dan Bu Atun.
"Nduk, dengar baik-baik," ucap Mbah Parto menatapku dalam-dalam, "apa pun yang kamu lihat nanti, apa pun yang kamu dengar, kamu jangan masuk ke dalam garis ini. Jangan pegang suamimu. Jangan panggil namanya."
"Kenapa, Mbah?"
"Karena dia bakal minta tolong pakai suara suamimu. Itu bukan dia."
Aku mengangguk, meski dadaku sudah tak karuan.
"Janji?"
"Janji, Mbah."
Beliau mulai membaca. Suaranya pelan, datar, berulang. Awalnya tak terjadi apa-apa. Mas Arif hanya menunduk dengan mata terpejam. Lima menit, sepuluh menit, hening.
Sampai bohlam di atas kami berkedip.
Mas Arif mendongak. Matanya merah seluruhnya, tak ada putihnya sama sekali. Ia tertawa, tawa perempuan yang melengking, sama persis dengan tawa yang kudengar di rumah kosong hari itu.
"Astagfirullah," bisik Bude sambil menarikku mundur.
Mbah Parto tidak berhenti membaca. Suaranya justru semakin tegas. Tubuh Mas Arif mulai mengejang, punggungnya melengkung ke belakang sampai kepalanya hampir menyentuh lantai.
Angin masuk entah dari mana. Kain jendela tersibak keras, gelas di atas meja jatuh dan pecah. Bu Atun berteriak memanggil Farhan agar menutup pintu.
"Panas! Panas, Mbah!" jerit Mas Arif.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan, menahan diri sekuat mungkin. Bude memegang bahuku dari belakang, mengingatkan tanpa kata bahwa aku sudah berjanji.
"Siapa kamu? Sebut namamu!" bentak Mbah Parto.
"Ndak penting!" jawab suara itu dari mulut suamiku. "Dia sudah dibeli. Sudah dibayar!"
"Dibayar pakai apa?"
Yang terdengar hanya tawa lagi, semakin keras, sampai anjing-anjing di kampung ikut melolong bersahutan di kejauhan.
Lalu suara itu berubah.
"Dek ... Risti ...."
Bukan lengking. Bukan tawa. Itu suara Mas Arif. Suara yang biasa memanggilku setiap pulang kerja, suara yang menyanyikan lagu sendu sampai aku terlelap.
"Dek, sakit banget. Tolongin Mas, Dek. Mas gak kuat."
Kepalanya terkulai, air mata mengalir dari sudut matanya.
"Mas ...."
"Nduk, jangan!" teriak Bude.
Namun, aku sudah berdiri. Kakiku bergerak sendiri, melangkahi garis garam itu, lalu berlutut memeluk suamiku.
Semuanya terjadi sangat cepat setelah itu.
Tubuh Mas Arif mengejang hebat dan melemparku ke belakang. Punggungku membentur sudut meja, perutku ikut terhantam. Lemari kaca di dinding bergoyang, lalu tumbang menimpa Mas Arif yang masih terikat. Kaca berhamburan, memenuhi lantai.
"Arif!" teriak Mbah Parto.
Beliau melompat, menyingkirkan lemari itu dengan tenaga yang entah dari mana untuk lelaki setua beliau. Namun, sesuatu menghantamnya dari samping, sesuatu yang tak terlihat oleh mataku. Tubuh ringkih itu terpelanting dan menghantam dinding papan dengan suara yang membuat semua orang menjerit.
Bohlam pecah. Gelap.
Aku merangkak dalam kegelapan, meraba-raba, memanggil nama Mas Arif dan Mbah Parto bergantian. Yang kurasakan hanya pecahan kaca dan sesuatu yang hangat dan lengket di telapak tangan.
***
Farhan datang membawa senter. Cahayanya menyapu ruangan yang sudah porak-poranda.
Mas Arif tergeletak di antara pecahan kaca, wajah dan lengannya penuh luka. Ia sudah tak sadarkan diri, tapi masih bernapas. Bude langsung menghambur ke arah suaminya, mengguncang-guncang tubuh beliau sambil menangis.
"Pak! Pak, bangun! Pak!"
Mbah Parto tidak bergerak. Kepalanya miring ke satu sisi, mulutnya sedikit terbuka. Bu Atun memeriksa denyut nadinya, lalu menempelkan telinga ke dada beliau.
Wanita itu mendongak, menggeleng pelan, dan menangis.
"Ndak ada, Bude. Ndak ada."
Dunia terasa runtuh.
Aku duduk bersimpuh di tengah ruangan itu, menatap dua tubuh yang tergeletak di kanan dan kiriku. Satu suamiku, satu lagi orang yang baru kukenal beberapa jam lalu dan sudah mati karena menolongku.
Mbah Parto sudah melarang. Beliau sudah bilang berkali-kali, jangan masuk ke dalam garis. Jangan panggil namanya.
Aku yang tidak menurut.
"Maaf ... maaf, Mbah. Maafin saya," lirihku berulang-ulang, entah pada siapa.
Warga mulai berdatangan. Ada yang mengangkat Mas Arif ke mobil, ada yang menyiapkan kain untuk jenazah Mbah Parto, ada yang membaca doa. Suara-suara itu bercampur dan terdengar jauh sekali di telingaku.
Bude tidak menyalahkanku sedikit pun. Justru itu yang paling menyakitkan. Wanita itu malah menghampiri dan mengusap kepalaku sambil berkata bahwa suaminya memang sudah lama siap dengan risiko semacam ini. Aku ingin sekali beliau memarahiku, membentakku, mengusirku dari rumah ini. Setidaknya rasa bersalah ini punya tempat untuk ditumpahkan.
Ketika berusaha berdiri, tiba-tiba pandanganku menghitam. Perutku terasa dililit, nyeri yang datang tiba-tiba dan langsung membuatku terlipat.
"Nduk? Kamu kenapa?" Bu Atun menahan bahuku.
Kutundukkan kepala, menatap kain daster yang kupakai. Ada noda merah yang melebar pelan-pelan dari bawah, membasahi kain, menetes ke lantai papan.
"Bu ... darah," bisikku.
"Ya Allah! Farhan! Farhan, siapkan mobil lagi! Cepat!"
Yang terakhir kuingat malam itu adalah langit-langit ruang tamu Mbah Parto yang bergoyang-goyang, suara Bude yang masih menangis di sebelah sana, dan tangan Bu Atun yang menggenggam tanganku erat sambil terus menyuruhku beristighfar.