Malam itu kami baru sampai rumah hampir pukul dua dini hari.
Polisi menahan kami cukup lama untuk dimintai keterangan. Siapa yang pertama masuk, jam berapa, pintu mana yang didobrak, apa saja yang terlihat. Aku menjawab sebisanya, sementara Fany hanya diam sambil menatap satu titik di lantai. Sekali pun ditanya, ia tak menjawab. Akhirnya petugas menyerah dan menyuruh kami pulang.
Bibi sudah menunggu di teras dengan wajah panik. Begitu melihat kondisi Fany, ia langsung memapah gadis itu ke kamar dan memandikannya, karena baju Fany penuh darah ibunya sendiri.
"Bu, gimana ini? Anaknya kayak orang linglung," bisik Bibi setelah keluar dari kamar.
"Biarin dulu, Bi. Kalau saya jadi dia, mungkin saya udah gila."
"Iya juga. Ayahnya baru dikubur berapa hari, sekarang ibunya."
"Bi, saya mau nanya satu hal," ucapku sambil menoleh, "menurut Bibi, mungkin gak orang baik-baik tiba-tiba bunuh majikannya sendiri, terus abis itu ketawa-ketawa kayak orang gila?"
Bibi terdiam, lalu duduk di kursi seberang.
"Bibi kenal Ningsih itu, Bu. Dia sering nawarin bantu kalau saya nyuci banyak. Orangnya penakut, ngelihat kecoak aja teriak."
"Nah, itu maksud saya."
"Tapi Bu, hati orang siapa yang tau."
"Iya, saya juga gak berani mastiin. Cuma ganjel aja."
Aku menghela napas panjang dan menyandarkan kepala ke dinding. Mas Arif keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut, lalu duduk di sampingku.
"Kamu tidur, Dek. Besok masih panjang," ucapnya.
"Gak bisa tidur, Mas. Tiap merem yang keliatan mukanya Mbak Ningsih pas ketawa-ketawa itu."
"Udah, jangan diinget."
***
Pemakaman dilakukan siang harinya, selepas zuhur.
Yang datang lebih sedikit daripada waktu pemakaman Pak Burhan. Sebagian tetangga jelas takut, terlihat dari cara mereka berdiri agak jauh dan berbisik-bisik. Kabar bahwa ibu Fany dibunuh pembantunya sendiri sudah menyebar ke seluruh kampung sejak pagi, lengkap dengan bumbu-bumbu tambahan yang entah dari mana asalnya.
Fany berdiri paling depan, memegang payung yang ditancapkan di atas gundukan tanah. Wajahnya kering, tak ada air mata sama sekali. Justru itu yang membuatku ngeri.
"Dek, nangis aja gak papa," bisikku.
"Air matanya udah habis, Mbak," jawabnya datar.
Mbah Parto ikut hadir, datang naik ojek dari Kedungwaru. Beliau ikut menaburkan bunga, ikut berdoa, lalu berdiri lama di samping dua gundukan tanah yang bersebelahan itu. Makam Pak Burhan dan istrinya, hanya berjarak beberapa hari.
Ketika kami hendak pulang, beliau memanggilku.
"Nduk, sebentar."
"Iya, Mbah?"
Beliau memandangi Fany yang sudah berjalan lebih dulu ke arah mobil, kemudian menoleh lagi ke arahku.
"Yang dikirim ke keluarga ini bukan barang murahan," ucapnya pelan, "bapaknya kena, ibunya kena, sekarang pembantunya dipakai jadi tangan. Ini pola. Ada yang lagi memutus satu-satu."
"Memutus apa, Mbah?"
"Siapa saja yang pernah nolong kamu."
Tubuhku mendadak dingin di tengah panas siang bolong itu.
"Terus saya harus gimana, Mbah? Saya gak mungkin nyuruh orang menjauh dari saya."
"Bukan menjauh," jawab beliau sambil menggeleng, "yang perlu diputus itu sumbernya, bukan orangnya. Selama sumbernya masih hidup dan masih dikasih makan, korbannya bakal terus nambah."
"Dikasih makan gimana, Mbah?"
Beliau tidak menjawab. Hanya menepuk bahuku pelan, lalu berjalan menuju pangkalan ojek di ujung jalan makam.
***
Tiga hari kemudian aku memberanikan diri pergi ke kantor polisi.
Awalnya Mas Arif melarang keras. Katanya buat apa menemui pembunuh, hanya menambah sakit hati. Namun, ada sesuatu yang tak bisa kudiamkan. Kalimat Mbah Parto tempo hari terus terngiang, dan kalau memang benar ada yang sedang memutus satu-satu, maka Ningsih pun mungkin cuma alat.
Wanita itu duduk di balik jeruji dengan mata sembab. Rambutnya acak-acakan, bibirnya pecah-pecah. Begitu melihatku, ia langsung merangkak mendekat dan memegang jeruji besi itu.
"Mbak! Mbak Risti!" panggilnya, "tolong saya, Mbak. Saya gak bunuh Ibu."
"Semua bukti ada di kamu, Mbak. Pisaunya di tangan kamu, darahnya di muka kamu."
"Saya tau, Mbak, saya tau. Tapi sumpah demi Allah, saya gak ingat apa-apa!" Ia menangis sesenggukan, "yang saya ingat, sore itu saya lagi masak sayur. Terus kepala saya berat banget, kayak ngantuk parah. Habis itu gelap. Pas sadar, saya udah di lantai kamar, ada Ibu di depan saya, ada darah di mana-mana."
Aku terdiam, menatapnya lekat-lekat. Orang berbohong biasanya menyusun cerita yang rapi. Cerita Ningsih justru berantakan dan tidak menguntungkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
"Berapa lama kamu gak sadar?"
"Gak tau, Mbak. Waktu masak masih terang, waktu sadar udah gelap."
"Sebelum kejadian, ada yang aneh gak di rumah itu?"
Ia mengangguk cepat.
"Banyak, Mbak. Ada suara orang ngetuk-ngetuk jendela tiap malam. Ada bau bangkai di kamar Ibu, tapi dicari gak ketemu. Terus tiga hari sebelumnya, saya nemu kain merah di bawah bantal Ibu. Saya buang ke tempat sampah, Mbak. Seharusnya saya kasih tau Non Fany, tapi saya takut dimarahi."
Kain merah.
Aku menutup mulut dengan telapak tangan.
"Mbak, tolong. Saya punya anak dua, masih kecil-kecil," lirihnya lagi.
"Saya bukan polisi, Mbak. Saya gak bisa janji apa-apa," jawabku, "tapi kalau nanti ada bukti yang bisa nolong kamu, saya bakal bawa ke sini."
Ia menangis sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Aku pulang dengan kepala penuh dan hati semakin berat.
Kepada Mas Arif, kejadian ini tak kuceritakan lengkap. Kalau ia tahu aku mulai membela orang yang membunuh ibu Fany, ia pasti mengamuk.
***
Beberapa hari berikutnya rumah kami sedikit lebih ramai.
Fany mulai bisa diajak bicara, meski masih sering melamun. Ia membantu Bibi memasak, ikut menyapu, kadang menemaniku menonton drama. Rumah besar ini akhirnya terasa seperti rumah, bukan seperti gudang berisi tiga orang yang saling menghindar.
Mas Arif pun sehat. Sudah dua minggu ia tidak kambuh, tidak mengigau, tidak menyebut nama wanita itu. Kalau saja hidup bisa berhenti di titik ini, aku rela.
Namun, tentu saja tidak.
Sore itu Mbah Parto menelepon.
"Nduk, Jumat depan malam Jumat kliwon."
"Iya, Mbah. Kenapa?"
"Mbah butuh kamu ke sini. Ada yang mau Mbah selesaikan."
"Selesaikan apa, Mbah?"
"Nanti saja kalau sudah ketemu. Yang penting kamu datang."
"Baik, Mbah. Saya bawa Mas Arif, ya?"
"Ndak usah," jawab beliau cepat, "kamu saja. Sendirian."
"Kenapa, Mbah?"
"Karena yang dicari itu kamu, bukan mereka. Kalau yang lain ikut, malah jadi umpan."
Aku menelan ludah. Namun, sebelum sempat bertanya lagi, beliau sudah menutup telepon.
***
Tentu saja hal itu tak semudah kelihatannya.
"Sendirian? Gak, gak boleh," tolak Mas Arif begitu kuceritakan.
"Mas, itu permintaan Mbah Parto sendiri."
"Mbah Parto gak tau kondisi kamu, Dek. Kamu baru keguguran, jalan aja masih suka pusing. Terus mau naik bus dua kali ke Kedungwaru sendirian, malam-malam pula?"
"Ya bukan malam banget, Mas. Sore."
"Sama aja!"
Fany yang sedang mengelap meja ikut menimpali. "Aku ikut aja deh, Mbak. Biar ada temennya."
"Nah, tuh. Kita semua ikut," sahut Mas Arif langsung, "Mas anter pakai mobil, cepet, aman. Kalau Mbah Parto gak suka, ya biar Mas yang jelasin."
"Mas ...."
"Udah, gak usah dibantah. Ini bukan minta izin, ini keputusan."
Fany menatapku dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.
"Mbak, aku ikut, ya? Aku pengen tau juga siapa yang bunuh ayah sama ibuku. Kalau aku diem terus di rumah, aku bisa gila beneran."
Mendengar itu, aku tak sanggup lagi menolak.
Aku menghela napas panjang dan akhirnya mengalah. Sejujurnya, jauh di dalam hati, aku juga tak sanggup pergi ke sana sendirian. Setelah semua yang terjadi, siapa yang berani jalan sendiri melewati sawah gelap menjelang magrib?
Malam sebelum berangkat, aku sulit sekali memejamkan mata. Sekitar pukul satu, terdengar suara benda jatuh dari arah dapur. Ketika kuperiksa, tidak ada apa-apa. Hanya tudung saji yang tergeletak terbalik di lantai, padahal Bibi selalu menaruhnya rapat di atas meja.
Kuletakkan lagi benda itu di tempatnya, lalu kembali ke kamar sambil terus mengucap istigfar.
Dalam perjalanan kembali ke kamar, kulewati kamar tamu tempat Fany tidur. Pintunya terbuka sedikit. Gadis itu duduk di tepi ranjang dalam gelap, membelakangi pintu, kepalanya menunduk seakan sedang berbicara pada seseorang di depannya.
"Dek?" panggilku pelan.
Ia menoleh cepat, lalu tersenyum. "Belum tidur, Mbak?"
"Kamu ngomong sama siapa?"
"Gak sama siapa-siapa kok. Cuma ngelamun."
Aku mengangguk dan menutup pintu kamarnya, meski jelas-jelas tadi kudengar dua suara, bukan satu.
Kubuka jendela sedikit, membiarkan angin masuk. Di halaman belakang, tepat di bawah pohon rambutan, tanahnya kembali gembur seperti habis digali. Padahal siang tadi Bibi sudah meratakannya dan menanam beberapa batang serai di situ.
Kututup jendela rapat-rapat dan kukunci.
Besok, semoga semuanya menemukan jalan keluar.