Mas Arif memapahku ke kamar dan menyuruhku berbaring. Teman-teman masih ribut di ruang tamu, membagi kue dan bercanda seperti tak terjadi apa-apa.
"Kamu istirahat aja, biar Mas yang temenin mereka," ucapnya sambil menyelimuti.
"Mas, aku gak halu."
"Iya, iya."
"Mas!" Kutahan pergelangan tangannya, "aku bener-bener lihat. Muka kamu rata, gak ada mata, gak ada hidung. Bibi juga. Kalau aku halu, kenapa yang aku lihat cuma kalian berdua? Kenapa Fany nggak?"
Ia menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang.
"Ya udah, Mas percaya. Cuma jangan diceritain ke tamu-tamu lagi, ya? Malu Mas."
Aku memalingkan wajah ke arah dinding. Malu. Itu yang ia pikirkan.
Tamu-tamu pulang sekitar pukul sebelas. Kudengar suara mobil satu per satu meninggalkan halaman, lalu suara Bibi membereskan gelas, lalu sunyi. Fany tidak ikut merapikan karena ia sedang tak ada. Gadis itu masih berbaring di kamar nomor seratus dua puluh dengan kaki yang terjepit besi mobil.
Ulang tahun paling sepi seumur hidupku, padahal orangnya paling banyak.
***
Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena kedinginan.
Sisi ranjang sebelah kanan kosong. Selimutnya tersibak, bantalnya masih berbekas kepala.
"Mas?"
Kuraih ponsel dan menyalakan senter, lalu keluar kamar. Lampu ruang tengah sudah dimatikan Bibi. Pintu belakang yang menuju halaman terbuka lebar, padahal aku yakin sekali tadi sudah dikunci sebelum tidur.
Mas Arif berdiri di halaman belakang, tepat menghadap dinding pagar. Punggungnya membelakangiku, tangannya lurus di sisi tubuh, kakinya telanjang menginjak tanah basah.
Ia sedang bicara.
Bukan mengigau. Bicara, dengan jeda-jeda seperti orang yang sedang mendengarkan jawaban.
"Iya ... iya, besok ... jangan sekarang ...."
Bulu kudukku berdiri semua.
"Mas!" panggilku sambil melangkah mendekat.
Ia berhenti bicara, tapi tidak menoleh.
"Mas Arif, ngapain di situ? Dingin, ayo masuk."
Perlahan ia berbalik. Wajahnya biasa saja, matanya terbuka, tapi tidak melihat ke arahku. Tatapannya menembus, seolah aku hanya kaca.
"Mas?"
Ia melangkah melewatiku begitu saja, masuk ke rumah, naik ke ranjang, lalu tidur seperti tidak terjadi apa-apa. Kakinya yang penuh tanah mengotori seprai putih kami.
Aku tidak berani tidur lagi sampai subuh.
***
Paginya, ia tidak ingat apa-apa.
"Halaman belakang? Ngapain Mas ke sana malem-malem?" tanyanya heran sambil menyeruput kopi.
"Itu, Mas. Kaki kamu masih ada tanahnya."
Ia menunduk, memeriksa telapak kakinya, lalu terdiam cukup lama.
Bibi datang dari arah kamar dengan wajah pucat. Di tangannya ada kain lap.
"Bu, coba Ibu lihat pintu kamar," ucapnya.
Aku mengikutinya. Di bagian dalam daun pintu kamar kami, ada garis-garis goresan panjang. Dalam, banyak, dari atas sampai bawah. Seperti bekas kuku binatang, tapi jaraknya terlalu lebar untuk kuku kucing atau tikus.
"Ini kapan, Bi?"
"Semalam gak ada, Bu. Bibi yang ngepel kamar sore kemarin."
Mas Arif ikut melihat, lalu tanpa berkata apa-apa ia mengambil obeng dan mencoba menghaluskan goresan itu. Caranya menyingkirkan masalah memang selalu begitu, ditutupi, dianggap tidak ada.
***
Bencana itu datang siang harinya.
Aku sedang di dapur, memotong bawang, ketika terdengar bunyi kaca pecah dari ruang tamu. Disusul teriakan Bibi.
Aku berlari. Yang kulihat membuat pisau di tanganku terjatuh.
Mas Arif mencekik leher Bibi, mendorong wanita paruh baya itu sampai punggungnya menempel ke dinding. Vas bunga sudah pecah berkeping-keping di lantai. Wajah suamiku merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya, ya Allah, matanya merah seluruhnya.
"Mas! Lepasin! Itu Bi Inem!" teriakku sambil menarik lengannya.
Ia menoleh ke arahku dan tertawa. Bukan tawanya.
Aku memukul punggungnya dengan sapu berkali-kali, menariknya, menjambak, sampai akhirnya cengkeramannya lepas. Bibi jatuh terbatuk-batuk sambil memegangi leher yang sudah membiru.
"Bi, lari! Ke rumah tetangga!"
Bibi merangkak keluar. Sementara aku mundur pelan-pelan, mencari sesuatu untuk melindungi diri.
"Mas ... ini aku, Risti. Istri kamu."
Ia melangkah maju. Aku melangkah mundur, sampai punggungku menabrak meja telepon.
"Mas, inget anak kita yang udah pergi. Masa kamu mau ngambil aku juga?"
Entah kalimat mana yang mengena, tapi ia tiba-tiba berhenti. Tangannya memegang kepala, tubuhnya bergetar, kemudian ia menjerit panjang dan jatuh terduduk.
Aku langsung meraih ponsel dan menelepon nomor yang sama seperti biasa.
***
Mbah Parto tiba dua jam kemudian, membawa tas kain lusuh.
Beliau masuk tanpa banyak bicara, langsung menuju Mas Arif yang sudah kami ikat dengan seprai di atas ranjang. Suamiku meronta-ronta, mengumpat dengan kata-kata yang tak pernah keluar dari mulutnya seumur hidup.
"Bawa air putih satu gelas," perintah Mbah.
Bibi bergegas ke dapur meski lehernya masih memar.
Setelah membacakan sesuatu dan meminumkan air itu, Mas Arif berangsur diam. Napasnya masih cepat, tapi ia tidak lagi memberontak.
Mbah Parto duduk di kursi, mengusap wajah dengan telapak tangan, lalu menatapku.
"Nduk, mulai sekarang matanya harus ditutup."
"Ditutup? Maksudnya diperban gitu, Mbah?"
"Pakai kain saja, ikat di kepala. Yang penting ndak bisa melihat."
"Kenapa harus begitu, Mbah? Kasihan."
"Jin yang ngikuti dia itu sekarang sudah berani menampakkan diri terus-terusan," jelas beliau, "setiap suamimu membuka mata dan melihat dia, saat itu juga suamimu diambil. Matanya itu pintunya. Kalau pintunya ditutup, dia ndak bisa masuk gampang."
Aku menatap Mas Arif yang kini terbaring lemas dengan wajah basah oleh keringat.
"Sampai kapan, Mbah?"
"Sampai yang ngirim dibereskan," jawab beliau, "dan itu ndak bisa Mbah kerjakan dari Kedungwaru. Mbah nginap di sini beberapa hari."
"Serius, Mbah? Bude gimana?"
"Bude sudah Mbah kasih tau. Rumah kalian sekarang ndak boleh kosong dari orang yang bisa jaga."
***
Sore itu juga aku merobek satu sarung bantal lama dan melipatnya menjadi kain penutup mata. Tanganku gemetar waktu mengikatnya di kepala Mas Arif.
"Dek ...," lirihnya.
"Iya, Mas."
"Mas nyakitin Bi Inem, ya?"
"Bibi gak papa. Cuma memar dikit."
"Mas gak inget apa-apa, Dek. Mas cuma inget lagi baca koran, terus tau-tau leher Mas sakit karena kamu jambak." Suaranya bergetar, "Mas takut. Gimana kalau nanti yang Mas sakiti itu kamu?"
Aku menggenggam tangannya erat, tapi tak bisa menjawab. Karena jujur, aku memikirkan hal yang sama sejak tadi.
Pergelangan tangan dan kakinya kami ikat longgar, cukup untuk menahan tapi tidak sampai melukai. Kamar kami resmi berubah fungsi. Bukan lagi kamar suami istri, melainkan ruang isolasi.
***
Menjelang magrib, pihak rumah sakit menelepon.
Katanya kondisi Fany membaik, luka di kepalanya sudah kering, dan mungkin lusa sudah boleh pulang. Setidaknya ada satu kabar baik hari ini.
"Alhamdulillah," ucapku setelah menutup telepon. Rasanya seperti diberi satu tarikan napas di tengah air yang terus naik. Setidaknya ada satu orang di rumah ini yang keadaannya membaik, bukan memburuk.
"Anak yang kecelakaan itu?" tanya Mbah Parto sambil membetulkan letak sarung.
"Iya, Mbah. Fany. Dia tinggal sama kami sejak orang tuanya meninggal."
Mbah mengangguk pelan, lalu menatap ke arah kamar cukup lama.
"Nduk, Mbah mau tanya sesuatu."
"Apa, Mbah?"
"Anak itu ... sejak dia masuk rumah ini, gangguannya nambah atau berkurang?"
Pertanyaan itu membuatku tersinggung, jujur saja.
"Mbah, Fany itu korban. Ayah ibunya mati gara-gara masalah ini. Dia gak punya siapa-siapa lagi."
"Mbah ndak menuduh," jawab beliau tenang, "Mbah cuma nanya."
Aku menunduk, mencoba mengingat. Sejak Fany tinggal di sini, bau busuk itu memang jarang muncul. Namun, benda-benda semakin sering berpindah sendiri, dan Mas Arif kambuh lebih hebat.
"Sama aja, Mbah. Gak nambah, gak berkurang," jawabku akhirnya, meski itu bukan jawaban yang jujur.
Mbah Parto tidak bertanya lagi.
***
Malam pertama tanpa kamar sendiri.
Bibi menyiapkan kasur lipat di ruang tamu, tepat di depan televisi. Mbah Parto tidur di kamar tamu, dekat kamar Bibi. Beliau sudah menawarkan untuk tidur di sini saja, di ruang tamu, tapi mana mungkin kubiarkan orang setua itu tidur di lantai.
Aku berbaring memandangi langit-langit, mendengarkan suara napas suamiku dari kamar sebelah lewat pintu yang sengaja tidak dikunci.
Rumah ini besar. Dulu kami membelinya karena membayangkan akan ramai oleh anak-anak. Sekarang isinya cuma empat orang dewasa, satu di antaranya diikat di ranjangnya sendiri.
Sekitar tengah malam, terdengar suara langkah kaki kecil di lantai atas. Ringan, cepat, seperti anak-anak berlari-larian.
Suara itu berhenti tepat di anak tangga paling atas.
Kubuka selimut sedikit, memberanikan diri melirik ke arah tangga. Gelap, tidak ada apa-apa. Namun, di anak tangga ketiga dari bawah, ada bekas telapak kaki kecil dari tanah basah. Menghadap ke arahku.
"Ya Allah ...."
Kutarik lagi selimut sampai menutupi kepala, lalu membaca ayat kursi berulang-ulang sampai suaraku serak sendiri. Entah pukul berapa akhirnya aku tertidur.
Yang jelas, ketika bangun subuh, bekas telapak kaki itu sudah tidak ada. Bibi bersumpah belum menyapu apa pun pagi itu.