Hari pertama menunggu, tak ada kabar dari Mbah Tejo.
Aku sengaja tidak menelepon duluan. Orang setua itu pasti sudah repot menjaga makam semalaman, tak enak rasanya kalau ditambah didesak-desak.
Mas Arif sudah kuceritakan semuanya sepulang kerja kemarin. Reaksinya persis seperti dugaanku.
"Kamu ke kuburan? Lagi hamil muda?!"
"Sama Ibu, Mas. Sama Dion juga."
"Ya walaupun sama presiden juga tetep aja, Dek!"
"Mas, kalau bukan aku yang jalan, siapa? Mas kerja dari pagi sampe malem. Ibu udah tua. Fany lagi sakit. Bi Inem juga ngurusin Fany."
Suamiku diam. Ia mengusap wajahnya berkali-kali, lalu duduk di tepi ranjang sambil menunduk.
"Dek, Mas bukannya ngelarang. Mas cuma ...."
"Cuma apa?"
"Mas takut kejadian dulu keulang. Kamu inget, `kan, gimana caranya kita kehilangan yang pertama."
Kalimat itu membuat kami berdua terdiam cukup lama.
Aku duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya.
"Aku janji gak nekat, Mas. Kalau ada yang berbahaya, aku mundur."
"Janji?"
"Janji."
Waktu itu aku benar-benar bermaksud menepatinya.
Pagi-pagi sekali, sebelum berangkat kerja, Mas Arif menaruh sesuatu di atas nakas.
"Ini apa, Mas?"
"Nomor Pak RT sama nomor pos ronda," jawabnya, "kalau ada apa-apa dan Mas gak bisa diangkat, kamu telepon itu. Jangan tunggu Mas."
"Mas kayak mau pergi lama aja."
"Bukan gitu, Dek. Cuma Mas capek jadi orang yang selalu dateng belakangan."
Kupandangi kertas kecil itu setelah mobilnya keluar halaman. Suamiku yang dulu tak percaya hantu, sekarang menulis nomor pos ronda untuk istrinya sendiri.
***
Paginya aku periksa ke dokter, ditemani Ibu.
Hasilnya baik. Kandungannya menempel dengan kuat, detak jantungnya sudah terdengar. Aku menangis di ruang periksa sampai perawatnya ikut mengusap punggungku.
"Ibu tenang saja, ini bagus," ucap dokter, "tapi ada satu catatan penting. Ibu ini kurang darah, berat badannya juga turun terus. Kalau boleh saya tanya, akhir-akhir ini banyak pikiran?"
Aku dan Ibu saling beradu tatap.
"Lumayan, Dok."
"Coba dikurangi. Saya sudah sering lihat kasus seperti ini. Fisiknya bagus semua, tapi kalau ibunya stres terus, ya risikonya tetap tinggi."
Di perjalanan pulang, Ibu memegang tanganku di dalam angkot.
"Dengar kata dokter, Nak."
"Bu, gimana caranya gak stres kalau tiap hari ada aja kejadian?"
"Ya bukan berarti kamu berhenti. Cuma jangan semuanya kamu pikul sendiri," jawab beliau, "kamu itu punya suami, punya ibu, punya Dion, punya Bude. Kamu bagi-bagi."
Aku mengangguk, meski tahu betul aku tidak akan sanggup.
***
Sore harinya Dion datang, dan kali ini ia membawa kabar.
"Mbak, dua hari ini saya ikutin dia."
"Ikutin siapa? Alvaro?"
"Iya."
"Yon, kamu gila, ya?"
"Saya gak ngapa-ngapain, Mbak. Cuma saya lihat dia dari jauh," ucapnya sambil duduk, "dan Mbak tau gak, dua malam berturut-turut dia keluar kos jam sebelas malem, bawa tas ransel, terus pergi ke arah komplek belakang."
Bulu kudukku berdiri.
"Kamu ikutin sampai mana?"
"Sampai mulut komplek. Habis itu saya gak berani, Mbak. Sumpah, gelapnya gak masuk akal. Lampu jalan nyala, tapi cahayanya kayak ketahan, gak sampe ke dalem."
"Terus?"
"Yang kedua saya nungguin di pertigaan. Dia keluar jam setengah tiga pagi."
"Bawa apa?"
"Ranselnya keliatan lebih penuh daripada waktu berangkat."
Aku menyandarkan punggung ke sofa, mencoba menyusun semuanya di kepala. Kuburan yang dibongkar tiga hari lalu. Anak muda yang keluar malam-malam ke komplek kosong dengan ransel. Rambut Fany yang hilang dari sisirnya.
Semuanya menunjuk ke satu arah, dan tetap saja tak satu pun bisa dibawa ke kantor polisi.
"Yon, mulai sekarang kamu berhenti ngikutin dia."
"Kenapa, Mbak?"
"Karena kalau dia sadar diikutin, yang dia kirim ke kamu bukan preman," jawabku, "kamu udah pernah ngerasain punggung kamu dicengkeram apa. Mau ngulang?"
Dion menunduk, mengepalkan tangan di atas lutut.
"Terus kita nunggu apa lagi, Mbak? Fany makin kurus tiap hari."
"Nunggu kabar dari Mbah Tejo."
"Kalau Mbah Tejo gak dapet apa-apa gimana, Mbak?"
"Ya kita cari jalan lain."
"Jalan lain apa?"
Aku terdiam. Jujur saja, aku tidak punya jawabannya.
"Yon, kamu inget gak apa yang Mbah Parto pernah bilang ke aku dulu?" ucapku akhirnya.
"Enggak, saya `kan belum kenal beliau."
"Beliau bilang, yang perlu diputus itu sumbernya, bukan orangnya," jawabku, "selama sumbernya masih dikasih makan, korbannya bakal terus nambah."
"Dikasih makan gimana, Mbak?"
"Itu yang sampai sekarang aku belum ngerti," ucapku, "tapi sekarang aku mulai punya bayangan. Kuburan yang dibongkar itu, kain kafan yang diambil itu, rambut Fany yang hilang itu. Semuanya makanan, Yon."
Dion menelan ludah dan tidak bertanya apa-apa lagi setelah itu.
***
Malam itu keadaan Fany sempat membaik sebentar.
Ia bisa duduk sendiri, minta bubur, bahkan sempat menonton televisi selama dua puluh menit. Dion sampai menangis diam-diam di dapur karena terlalu senang.
"Mbak," panggil gadis itu ketika aku merapikan bantalnya.
"Ya, Dek?"
"Aku sering mimpi orang yang sama."
"Mimpi siapa?"
"Perempuan. Umurnya kayaknya seumuran aku," jawabnya sambil menatap langit-langit, "dia gak ngapa-ngapain. Cuma duduk di pojok kamar, badannya basah semua."
Tanganku berhenti bergerak.
"Dia pernah ngomong sama kamu, Dek?"
"Pernah sekali."
"Ngomong apa?"
Fany menoleh, dan tatapannya membuatku merinding.
"Dia bilang, jangan biarin mereka bawa aku ke tempat dia."
***
Malam itu, sekitar pukul sembilan, Ibu mengeluh kedinginan.
Padahal cuaca sedang gerah. Kipas angin di ruang tengah menyala, dan aku sendiri berkeringat.
"Bu, Ibu kenapa?"
"Ndak apa-apa, cuma masuk angin kayaknya."
Kupegang keningnya, dan tanganku langsung kutarik.
Panas sekali.
"Bu! Ini panas banget!"
"Ya biasa, Nak. Namanya orang tua."
"Gak biasa, Bu! Ini kayak bara!"
Mas Arif membantuku memapah Ibu ke kamar. Kompres kuletakkan di kening, obat penurun panas kuminumkan, selimut kutarik sampai ke dada. Namun, suhunya tidak turun sedikit pun sampai lewat tengah malam.
Yang paling membuatku takut bukan panasnya.
Sekitar pukul satu, Ibu mulai mengigau.
"Naya ...."
Aku yang sedang mengganti kompres langsung membeku.
"Bu?"
"Naya ... jangan di situ ...."
"Bu, ini Risti. Ibu denger Risti?"
"Naya, pulang ...."
Beliau terus mengulang nama itu, entah berapa puluh kali, dengan mata terpejam dan kening berkerut seperti orang yang sedang berusaha keras membujuk seseorang.
Mas Arif berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi.
"Dek, kita bawa ke rumah sakit sekarang."
"Iya, Mas. Ambil kunci."
***
Dokter jaga memeriksa Ibu hampir setengah jam.
Hasilnya sama seperti yang sudah-sudah. Tidak ada infeksi berat, tidak ada masalah di paru-paru, tekanan darahnya sedikit rendah tapi masih wajar untuk usia beliau.
"Ibu ini kelelahan," ucap dokter, "usianya sudah hampir setengah abad, dan dari cerita Ibu tadi, beliau ini kurang tidur berhari-hari. Badan orang seumur beliau ndak bisa dipaksa begitu."
"Terus yang ngigau-ngigau itu apa, Dok?"
"Wajar kalau demam tinggi. Yang keluar biasanya hal yang paling dipikirkan."
Kami pulang membawa obat penurun panas, vitamin, dan satu kalimat yang sama sekali tidak menjelaskan apa pun.
Di mobil, Mas Arif memegang tanganku di atas persneling.
"Dek, Mas mau minta satu hal."
"Apa, Mas?"
"Besok kamu di rumah. Jangan ke mana-mana."
"Mas—"
"Dengerin dulu," potongnya, "ibumu demam, Fany sakit, kamu hamil. Kalau kamu ikut ambruk, rumah itu isinya orang sakit semua. Yang bisa jalan cuma Bi Inem sama Dion."
Aku menoleh ke luar jendela, memandangi lampu-lampu jalan yang berlarian ke belakang.
"Iya, Mas."
Kuucapkan itu dengan mulut, bukan dengan hati. Dan sepertinya suamiku tahu, karena setelahnya ia tidak berkata apa-apa lagi sampai mobil masuk halaman.
Malam itu aku tidur di lantai kamar Ibu, beralas kasur lipat, sambil sesekali bangun untuk mengganti kompres.
Sekitar pukul empat pagi, suara igauan itu berhenti.
Kupikir Ibu akhirnya tidur nyenyak. Kunaikkan selimutnya, kubetulkan letak bantalnya, lalu kembali berbaring.
Baru saja memejamkan mata, terdengar suara Ibu lagi. Kali ini bukan igauan. Jelas, sadar, dan pelan sekali.
"Nak, kamu bangun?"
"Bangun, Bu. Kenapa? Mau minum?"
"Anak itu tadi ke sini lagi."
Aku duduk cepat-cepat. "Naya?"
"Iya."
"Terus, Bu?"
"Dia ndak berdiri di ujung kasur lagi," jawab Ibu dengan suara serak, "sekarang dia duduk. Di sebelah kamu."
Kupandangi lantai kosong di sampingku. Tidak ada apa-apa di situ, hanya ujung kasur lipat dan sandalku yang tergeletak miring.
Namun, bagian lantai itu dingin. Bukan dingin biasa. Ketika kusentuh dengan telapak tangan, rasanya seperti menyentuh keramik kamar mandi di pagi hari, padahal seluruh lantai lain di kamar itu hangat.
Kutarik kasur lipatku sampai menempel ke dinding, dan sisa malam itu kuhabiskan dengan duduk memeluk lutut sambil menunggu azan subuh.
Kalau sampai besok Mbah Tejo belum juga menghubungi, aku sendiri yang akan pergi ke sana.