"Sejuk banget. Pertama kali ke makam yang enak dilihat," ucap Fany sambil menaikkan tudung jaketnya.
"Hush, jangan gitu ngomongnya," tegurku.
"Lah, emang bener, Mbak. Coba lihat, ada rumputnya, ada pohonnya, ada pemandangan. Kalau makam lama itu serem."
Dion tertawa kecil di belakang kami sambil memayungi gadis itu. Sejak Fany bisa berjalan lagi, anak itu tak pernah lebih dari satu meter darinya.
Ibu berjalan paling depan bersama Mas Arif, membawa kantong berisi kembang dan botol air. Bi Inem menutup barisan sambil sesekali mengangkat kain rok supaya tidak kena lumpur.
Kami menaiki undakan itu pelan-pelan. Gerimis membuat tanahnya licin, dan Mas Arif sampai dua kali menahan lenganku.
"Pelan-pelan, Dek."
"Iya, Mas."
Di undakan kelima, Ibu berhenti dan menoleh ke belakang.
"Nak, kalau nanti kamu ndak enak badan, langsung bilang. Jangan ditahan."
"Iya, Bu."
"Ibu serius. Di tempat begini, orang hamil itu paling gampang kena," lanjut beliau, "bukan karena kuburannya. Karena kamu lagi lemah, dan yang lemah itu selalu paling kelihatan."
Bi Inem yang di belakangku langsung memegang bahuku, dan sejak saat itu tangannya tidak pernah benar-benar lepas sampai kami turun lagi.
***
Makam-makam itu ada di deretan paling atas.
Berjajar rapi, semuanya baru, semuanya sama bentuknya. Yang membedakan hanya nomor yang dicat di nisan.
Satu, dua, tiga, sampai belasan.
Tidak ada nama. Tidak ada tanggal lahir. Tidak ada tanggal meninggal. Hanya angka, karena tak ada yang tahu siapa mereka.
Aku berdiri di depan nisan bernomor tujuh dan tiba-tiba dadaku sesak sekali.
"Mas, mereka ini punya ibu, `kan?"
"Punya, Dek."
"Berarti sampai sekarang ada ibu-ibu di luar sana yang masih nunggu anaknya pulang, padahal anaknya di sini."
Suamiku tidak menjawab. Ia hanya merangkul bahuku, dan kami berdiri diam cukup lama di bawah payung yang sama.
Ibu memimpin doa. Suaranya pelan, tapi entah kenapa terdengar jelas sampai ke ujung deretan itu. Fany menangis di tengah-tengah doa, dan Dion langsung menariknya ke dalam pelukan.
Setelah selesai, Bi Inem menaburkan kembang di setiap nisan, satu per satu, tanpa ada yang terlewat.
"Bi, capek. Sini dibantu," ucapku.
"Ndak usah, Bu. Biar saya aja," jawabnya, "kasihan, Bu. Waktu hidup ndak ada yang urus, masa sekarang bunganya juga dibagi ndak rata."
Aku menunduk dan tak sanggup membalas.
Fany berjongkok di depan nisan nomor sembilan, membersihkan lumut yang mulai tumbuh di sudutnya dengan ujung jari.
"Mbak," panggilnya.
"Ya?"
"Kalau waktu itu aku gak ketemu Mbak, aku kayaknya udah di sini juga."
"Hus. Jangan ngomong gitu."
"Serius, Mbak. Aku pernah ngerasain gimana rasanya ditarik," ucapnya sambil tetap menunduk, "kayak ada yang ngajak, terus kita capek banget, terus kita mikir ya udahlah ikut aja."
Dion langsung berjongkok di sebelahnya dan menggenggam tangan gadis itu tanpa berkata apa-apa.
***
Ketika hendak turun, aku menoleh sekali lagi ke deretan paling atas.
Ada seseorang berdiri di sana.
Perempuan, memakai kain panjang berwarna gelap, berdiri di antara nisan nomor sebelas dan dua belas. Rambutnya tergerai, basah oleh gerimis. Ia tidak memakai payung, tidak juga terlihat kedinginan.
Kutarik lengan Mas Arif.
"Mas, di atas ada orang."
Ia menoleh, memicingkan mata.
"Mana, Dek?"
"Itu, yang di antara dua nisan."
"Gak ada siapa-siapa."
Kutengok lagi, dan perempuan itu masih di sana. Bahkan sekarang ia menghadap ke arah kami.
"Mas, itu jelas banget! Masa Mas gak lihat?"
"Dek, sumpah, gak ada."
Ibu yang berjalan di depan berhenti, lalu menoleh ke belakang. Beliau memandangi arah yang kutunjuk cukup lama, kemudian menghela napas.
"Sudah, Nak. Ayo turun."
"Ibu lihat, `kan?"
"Ibu ndak lihat. Tapi Ibu ngerasa," jawab beliau, "dan dia ndak apa-apa. Dia cuma nganter."
"Nganter siapa, Bu?"
Ibu tidak menjawab. Beliau menggandeng tanganku dan menuntunku menuruni undakan itu, dan ketika aku menengok untuk yang terakhir kali, deretan makam itu sudah kosong.
***
Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
"Mbak, jangan dipikir terus," ucap Fany dari kursi belakang, "nanti sakit lagi."
"Iya, Dek."
"Serius, Mbak. Aku udah pernah ngerasain gimana rasanya jadi orang yang dipikirin semua orang. Gak enak," lanjutnya, "sekarang giliran Mbak yang dijagain."
Aku tertawa kecil. Anak itu memang sudah kembali seperti dulu, malah lebih cerewet daripada sebelum sakit.
Namun, di tengah tawa itu, kepalaku mendadak berputar. Pandanganku menyempit, telinga berdenging, dan pegangan tanganku pada sandaran kursi mengendur sendiri.
"Dek?!"
Yang kuingat berikutnya adalah suara Mas Arif memanggil-manggil dan mobil yang berhenti mendadak di bahu jalan.
Samar-samar kudengar Bi Inem berteriak minta air. Ada tangan yang menepuk pipiku, ada yang mengipasi dengan kertas, ada suara Fany yang menangis sambil berkata maaf berkali-kali padahal ia tidak salah apa-apa.
Yang paling jelas justru suara Ibu, pelan dan tidak panik sama sekali, tepat di dekat telingaku.
"Ndak apa-apa. Dia cuma kecapean. Kalian jangan ribut, nanti dia malah tambah takut."
***
Aku siuman di kamar sendiri, entah berapa lama kemudian.
Ibu duduk di tepi ranjang, Bi Inem berdiri di dekat pintu, dan Mas Arif berjongkok di sampingku sambil memegang tanganku erat sekali.
"Dek, denger Mas?"
"Denger, Mas."
"Alhamdulillah." Ia menempelkan keningnya ke punggung tanganku.
"Aku kenapa?"
"Kata dokter, tensimu drop. Kurang darah, kurang makan, kurang tidur," jawabnya, "dan kata dokter juga, kalau begini terus, kandungan kamu yang kena."
Aku memejamkan mata. Rasanya seperti diberi peringatan untuk kesekian kalinya oleh tubuh sendiri.
"Maaf, ya, Mas."
"Bukan minta maaf yang Mas butuh," ucapnya, "Mas butuh kamu berhenti sebentar. Cuma sebentar."
"Berhenti gimana, Mas? Semuanya belum kelar."
"Dek, dengerin Mas," ucapnya sambil duduk di tepi ranjang, "yang belum kelar itu emang banyak. Tapi coba kamu itung, dari semua yang udah kelar, berapa yang kelar gara-gara kamu maksain badan kamu sendiri?"
Aku terdiam.
"Tania kelar karena Mbah Parto. Sarah kelar karena Pak Aji. Fany kelar karena ibumu," lanjutnya, "kamu itu yang ngumpulin orang-orangnya, bukan yang ngangkat sendiri. Dan orang yang ngumpulin itu justru yang paling gak boleh tumbang."
Kalimat itu entah kenapa membuat dadaku terasa lapang, padahal isinya adalah teguran.
***
Malamnya, setelah semua orang tidur, aku duduk di teras bersama Mas Arif.
Ada satu hal yang sejak siang ingin kutanyakan, tapi belum juga menemukan waktunya. Setiap kali hendak kumulai, selalu ada yang memotong. Kalau bukan Fany yang minta ditemani, ya Ibu yang memanggil untuk makan.
"Mas," panggilku akhirnya.
"Hm?"
"Aku mau nanya soal hari itu."
"Hari yang mana?"
"Hari waktu Alvaro—"
"Bu! Mas! Sini bentar!" seru Bi Inem dari dalam.
Kami berdua saling beradu tatap, lalu tertawa pasrah. Ternyata memang belum waktunya.
Ternyata Bi Inem hanya ingin menunjukkan tikus yang masuk ke gudang, dan Mas Arif harus menghabiskan setengah jam berikutnya bersenjatakan sapu.
Ketika akhirnya ia kembali ke teras, kepalanya sudah miring di sandaran kursi. Tertidur dengan mulut sedikit terbuka, masih memegang sapu.
Kuambil selimut tipis dan kuletakkan di pangkuannya. Pertanyaan itu kusimpan lagi, entah untuk kapan.
Sebenarnya bukan hal besar. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu, hari ketika semuanya berakhir dan Mas Arif pulang dengan baju yang penuh abu.
Ia tak pernah menceritakannya. Kalau ditanya, jawabannya selalu sama, sudah selesai, sudah, jangan dibahas lagi. Dan setiap kali nama anak itu disebut, rahangnya selalu mengeras sedikit.
Aku bukan ingin mengorek luka. Aku hanya ingin tahu apakah suamiku masih menyimpan sesuatu yang belum ia keluarkan, karena aku sudah pernah kehilangan dia satu kali gara-gara hal yang dipendam sendirian.
***
Keesokan paginya, Mas Arif membangunkanku sambil membawa dua cangkir teh.
"Dek, bangun."
"Hm ... jam berapa, Mas?"
"Setengah tujuh."
Aku langsung bangkit. "Loh, Mas kok belum siap-siap? Nanti telat!"
Ia malah duduk santai di tepi ranjang sambil menyeruput tehnya.
"Mas ambil libur."
"Libur? Berapa hari?"
"Beberapa hari. Mas udah ngomong sama atasan kemarin sore, langsung dikasih," jawabnya, "kata beliau, urus istri dulu, kerjaan bisa nyusul."
Aku menatapnya lama sekali, lalu tanpa bisa kutahan, mataku panas.
"Kenapa nangis lagi, sih?"
"Gak tau, Mas. Seneng aja."
Ia tertawa sambil menghapus air mata di pipiku dengan ibu jarinya.
"Udah, sekarang aturannya gini. Kamu gak boleh mikirin kuburan, gak boleh mikirin rumah kosong, gak boleh mikirin siapa pun yang udah meninggal," ucapnya, "yang boleh kamu pikirin cuma dua. Makan sama tidur."
"Mas ini kayak sipir."
"Ya, biar. Sipir juga sayang sama tahanannya."
Kulempar bantal ke arahnya, dan untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, pagi di rumah ini diisi suara tawa dua orang yang sedang berebut selimut.