Di Kediaman Tian Long malam itu diterangi cahaya lampion angin yang bergoyang pelan di serambi. Bayangan guntingan kertas di jendela berlapis kisi menari di dinding, membentuk siluet-siluet besar yang seolah hidup dan diam-diam sedang mengintai.
Chenxi duduk tenang di kursi bundar dari kayu. Tangannya bertaut rapi di pangkuan, tubuh rampingnya terbungkus jubah berwarna lembut. Pandangannya tertuju pada pria di depannya, suaminya yang baru saja kembali setelah setahun penuh ia nantikan.
Wen Bang masih mengenakan zirah perang yang tampak sedikit usang. Wajahnya keras dan tegas, namun di balik tatapan matanya ada sesuatu yang samar, seperti rasa bersalah yang sulit disembunyikan.
“Chenxi,” ucapnya datar, “titah pernikahan sudah turun. Mei Lin akan masuk ke rumah ini.”
Tatapan Chenxi perlahan meredup. “Permaisuri Agung sendiri berkata bahwa Jenderal Mei Lin adalah teladan bagi para wanita di dunia. Ia bahkan rela menjadi seorang selir?”
Nada suara Wen Bang langsung mengeras. “Bukan selir. Dia akan menjadi istri yang kedudukannya sama denganmu.”
Chenxi tidak menanggapi. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. “kata Istri memang terdengar indah, tapi pada akhirnya dia akan tetap menjadi seorang selir, bukan begitu?”
Alis Wen Bang berkerut. “Apa artinya selir atau bukan? Aku dan dia saling mencintai saat di medan perang dulu. Pernikahan ini adalah hasil perjuangan kami sendiri. Aku tidak perlu meminta pendapatmu.”
Senyum Chenxi berubah getir. “Oh jadi kalian saling mencintai, begitu? Masih ingat apa yang kau katakan padaku sebelum berangkat perang?”
Kenangan itu muncul begitu jelas di kepalanya. Malam pernikahan mereka, saat kerudung merah baru saja disingkap, pria itu berjanji di hadapan langit dan bumi:
Aku, Wen Bang, seumur hidup, hanya akan mencintai Chenxi seorang, dan tidak akan pernah mengambil selir atau wanita lain.
Kini Wen Bang hanya menunduk, tak berani menatap mata istrinya. “Lupakan saja kata-kata itu. Saat itu aku belum tahu apa itu cinta. Aku menikah denganmu karena kau cocok dijadikan istri. Sampai aku bertemu dengan Mei Lin…”
Nada suaranya melunak. Ada kehangatan dalam setiap kata yang ia ucapkan. “Dia berbeda dari semua wanita yang pernah kutemui. Aku mencintainya, Chenxi. Kumohon, restuilah kami.”
Tenggorokan Chenxi terasa perih, seperti menelan duri. Antara muak dan getir, dua-duanya menusuk d**a. “Apakah Ayah dan Ibu juga menyetujui hal ini?” tanyanya pelan.
“Mereka setuju,” jawab Wen Bang tanpa ragu. “Lagipula ini titah kaisar. Mei Lin orangnya jujur, ceria, dan pandai membawa suasana. Baru saja tadi ia menemui Ibu, membuat beliau tertawa sampai wajahnya tampak lebih segar.”
Chenxi terkekeh pelan, tawanya terdengar pahit. “Mereka setuju ya… sungguh ironis.”
Selama setahun ini, ia yang merawat mertua yang sakit, mengurus rumah, bahkan menjual perhiasan dan mas kawinnya demi menjaga kehormatan keluarga. Kini semua pengorbanan itu dibalas dengan pengkhianatan.
“Dia sekarang ada di rumah ini?” suaranya terdengar datar.
Wen Bang mengangguk. “Ya. Ia sedang berbincang dengan Ibu. Kehadirannya membuat Ibu bahagia, bahkan penyakitnya tampak jauh lebih ringan.”
“Lebih baik, katanya?” Chenxi menatapnya tanpa ekspresi. “Saat kau pergi berperang, Ibu hampir tak bisa bangun. Aku memanggil tabib dari kuil Dewa Obat, merawatnya setiap hari tanpa tidur, sampai akhirnya kesehatannya membaik. Sekarang kau bilang Ibu pulih karena Mei Lin?”
Ia tidak sedang membanggakan diri, hanya menyampaikan kenyataan. Setahun penuh ia berjuang sendirian agar rumah ini tetap berdiri.
“Tapi setelah Mei Lin datang, Ibu jauh lebih bahagia,” kata Wen Bang sungguh-sungguh. “Aku tahu ini sulit untukmu, tapi demi kebaikan semua pihak, tolong mengertilah dan restui kami.”
Chenxi menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis. Ada genangan air di matanya, tapi juga keteguhan yang tak bisa disembunyikan. “Baiklah. Kalau begitu, panggil Mei Lin kemari. Aku ingin berbicara langsung dengannya.”
“Tidak usah,” Wen Bang cepat menolak. “Dia bukan tipe wanita yang suka urusan rumah tangga atau pertikaian antar istri. Dia tidak akan mau menemuimu.”
Chenxi mengamati suaminya dengan pandangan tajam, suaranya tetap lembut tapi tegas. “kau anggap aku wanita seperti apa Wen Bang?”
Ia menegakkan tubuh. Sorot matanya dingin, namun penuh wibawa. “Jangan lupa, aku ini juga putri keluarga jenderal. Ayah dan keenam kakakku gugur di perbatasan demi negeri ini. Darah pejuang juga mengalir di tubuhku.” Pekik Chenxi.
“Itu ayah serta saudara-saudaramu, bukan kau sendiri,” sahut Wen Bang dengan nada dingin. “Kau diciptakan untuk menjaga rumah, bukan untuk berperang. Mei Lin tak suka wanita yang terlalu halus dan penuh aturan. Kalau dia bicara dan membuatmu tersinggung, untuk apa memaksakan diri?”
Chenxi mendongak perlahan. Tahi lalat merah di bawah matanya tampak jelas di kulitnya yang pucat, menambah pesona pada wajahnya yang tenang.
“Tak apa,” ucapnya pelan. “Kalau dia bicara sesuatu yang tak menyenangkan, aku akan anggap tak mendengarnya. Menjaga ketenangan dan mengutamakan keluarga, adalah tugas seorang istri bangsawan, benar begitu?”Ia menatap suaminya tanpa gentar.
“Ataukah, Jenderal, kau sudah tak percaya lagi pada istrimu sendiri?”