Kerutan di dahinya semakin dalam. Tatapannya yang dingin terasa menusuk.
"Agnes, kamu tahu akibatnya kalau berani mengancamku?"
Vincent marah.
Aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba murka. Semuanya terasa sangat tidak masuk akal.
Bukankah seharusnya dia senang jika aku bersedia menceraikannya dan memilih mundur demi memenuhi keinginannya?
Mungkin, dia mengira aku sedang memainkan tipu muslihat.
Aku menenangkan diri, lalu menatapnya sambil tersenyum tipis.
"Kalau kamu punya waktu, setelah hari terang kita bisa langsung mengurus perceraian di kantor catatan sipil."
Kupikir aku sudah menunjukkan ketulusan dan mengalah semampuku.
Melepaskan pria yang tidak akan pernah mencintaiku adalah perlindungan terbaik bagi diriku dan anak ini.
Begitu kata-kata itu keluar, Vincent langsung menyipitkan mata dan mencengkeram daguku dengan kasar.
Tatapan penuh jijik dari kedua matanya tertuju kepadaku, sementara senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Agnes, kamu terlalu menganggap penting dirimu sendiri. Kamu hanyalah barang yang dijual Keluarga Gunawan kepada Keluarga Winata. Mau dipertahankan atau dibuang, hanya aku yang berhak memutuskan."
Saat kami menikah dulu, Keluarga Winata memberikan uang seserahan sebesar enam puluh miliar kepada Keluarga Gunawan, sekaligus menjalin kerja sama bisnis jangka panjang dengan keluarga kami.
Aku memahami ancaman di balik ucapannya.
Kalau kehilangan dukungan Keluarga Winata, Keluarga Gunawan akan kesulitan untuk terus bertahan.
Ponsel Vincent tiba-tiba berdering.
Mungkin, Monika mulai gelisah karena dia belum kembali.
Vincent tetap memasang wajah dingin. Dia menatapku dalam-dalam sejenak sebelum berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.
Hujan deras di luar masih belum juga reda.
Berdiri di depan pintu masuk rumah sakit, aku mendadak tidak tahu harus pergi ke mana.
Aku menunduk menatap perutku, lalu menarik napas panjang.
‘Tenang saja, Nak. Apa pun yang terjadi, Ibu akan melahirkanmu dengan selamat.’
Saat tiba di rumah Keluarga Gunawan dengan taksi, hari sudah lewat tengah malam. Semua orang di rumah sudah terlelap.
Bibi Ina yang tidur di lantai satu terbangun karena kedatanganku. Dia refleks memutar bola matanya, lalu berkata dengan nada dingin, "Nona, kenapa pulang selarut ini?"
Aku benar-benar kelelahan dan tidak ingin berdebat dengannya.
Aku menyerahkan koper kepadanya sambil berkata pelan, "Kamu tidur saja. Setelah bangun nanti, tolong bawakan koperku ke kamar."
Aku menguap pelan dan hendak naik ke lantai atas.
Namun, Bibi Ina segera menghentikanku. Dengan senyum palsu di wajahnya, dia berkata, "Nona Agnes, kamar Anda sudah diubah Nona Sarah menjadi ruang melukis sejak beberapa waktu lalu."
Hatiku bergetar.
Padahal, masih banyak kamar kosong di rumah ini.
Bibi Ina berkata dengan nada menyindir, "Nona jangan marah. Bagaimanapun juga Anda sudah menikah. Kami tidak tahu kalau Anda akan pulang tengah malam sambil membawa koper. Kalau sekarang kami membereskan kamar baru, Tuan dan Nyonya pasti akan terbangun. Bagaimana kalau malam ini Anda menginap di kamar saya saja?"
Aku mencibir dalam hati.
Kalau bukan atas perintah Sarah, mana mungkin seorang pembantu berani memperlakukanku seperti ini.
"Tidak perlu."
Aku menjawab datar, lalu berbalik menuju sofa di ruang tamu.
Hujan deras turun sepanjang malam.
Saat fajar menyingsing, Ayah membangunkanku.
"Agnes, kenapa tidur di sofa?"
Dia mengernyit, lalu menoleh kepada Bibi Ina.
"Nona Agnes sudah pulang. Kenapa kamu tidak membereskan kamarnya?"
Melihat Ayah mulai marah, wajah Bibi Ina langsung berubah panik. Dia terbata-bata hendak mencari alasan.
Saat itu terdengar suara wanita yang lembut dari arah tangga.
"Ayah, jangan salahkan Bibi Ina. Ini semua salahku. Beberapa saat yang lalu, aku mengubah kamar Kak Agnes menjadi ruang melukis."
Sarah bergegas turun sambil menatapku penuh rasa bersalah.
"Kak, aku benar-benar tidak sengaja. Lain kali kalau Kakak mau pulang, beri tahu lebih dulu, ya? Aku bisa meminjamkan kamarku."
Sungguh ironis.
Rumah ini adalah tempat aku dibesarkan.
Aku tersenyum tipis.
"Kali ini, aku berencana tinggal lebih lama. Jadi, aku akan merepotkan kamu untuk mengembalikan kamarku seperti semula sekarang juga."
Senyum di wajah Sarah langsung membeku.
Namun, tak lama kemudian dia kembali tersenyum dan mengangguk setuju.
Ayah memandangku seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya.
Aku tahu apa yang ingin ditanyakannya.
Hubunganku dengan Vincent terlalu rumit. Ditambah lagi kehamilanku, untuk sementara aku belum ingin memberi tahu keluargaku.
Aku menarik napas panjang, lalu memberanikan diri bertanya, "Ayah, kalau aku ingin bercerai dengan Vincent, apakah Ayah akan setuju?"
Ayah tertegun.
"Agnes, sebenarnya apa yang terjadi?"
Aku hanya menggelengkan kepala.
Ayah tidak bertanya lagi. Dia menuangkan segelas air hangat untukku sambil berkata dengan penuh penyesalan, "Agnes, dulu Ayah yang sudah mengecewakanmu. Kalau hidupmu tidak bahagia di Keluarga Winata, pulanglah ke rumah. Apa pun keputusanmu, Ayah akan mendukungmu."
Perkataannya membuat hatiku terasa hangat.
Setelah membereskan barang-barangku, aku berniat melihat apakah Ibu sudah bangun.
Ibu menderita neurasthenia sehingga hampir setiap hari bangun lebih siang.
Pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara Ibu yang penuh emosi.
"Kalau dulu kita tidak mengadopsinya, apa dia bisa hidup sebagai putri keluarga kaya? Sekarang, dia mau bercerai? Coba tanya dia, masih punya hati nurani atau tidak!"
Ayah mengembuskan napas panjang.
"Walaupun Agnes anak angkat, bagaimanapun juga kita sudah membesarkannya selama dua puluh tahun seperti anak kandung. Kalau dulu dia tidak mengorbankan dirinya dengan menemui Keluarga Winata, Keluarga Gunawan mungkin sudah lama bangkrut."
Ibu berkata dengan nada kesal, "Mana bisa itu disebut pengorbanan? Menikah dengan keluarga terpandang seperti Keluarga Winata adalah impian banyak wanita. Yosef, jangan lupa, Sarah adalah putri kandung kita! Dia sudah banyak menderita di luar sana dan baru kembali kepada kita tahun lalu. Bukankah yang paling penting sekarang adalah menebus semua penderitaannya?"
"Aku tahu kita harus menebus semua itu. Tapi, hidup Agnes di Kelaurga Winata tidak bahagia ….”
Sebelum Ayah selesai berbicara, Ibu langsung memotongnya.
"Cukup! Kita belum bisa kehilangan dukungan Keluarga Winata. Bagaimanapun juga, kita sudah membesarkan Agnes selama dua puluh tahun. Anggap saja ini balas budinya kepada kita!"
Dadaku terasa sesak.
Aku adalah anak angkat Keluarga Gunawan.
Putri kandung mereka, Sarah, hilang saat berusia tiga tahun.
Aku selalu bersyukur bisa bertemu ayah dan ibu angkat yang memperlakukanku seperti anak kandung serta memberiku kehidupan terbaik.
Sekitar setahun yang lalu, Sarah kembali ke Keluarga Gunawan.
Sebenarnya, aku tidak pernah mempermasalahkan jika Ibu lebih menyayangi Sarah.
Wajar kalau dia ingin menebus semua penderitaan yang telah dilewati putri kandungnya.
Namun, mendengar ucapannya barusan, dadaku tetap terasa sangat sesak sehingga sulit bernapas.
Aku sudah tidak ingin mendengarkan lagi.
Aku langsung berangkat bekerja ke Grup Winata.
Baru saja masuk ke kantor, Kiara sudah datang membawa secangkir kopi. Wajahnya tampak ragu untuk berbicara.
"Bu Agnes ...."
"Katakan saja."
Kiara telah mengikutiku selama bertahun-tahun. Dia adalah sekretaris yang kubawa dari Grup Gunawan ke Grup Winata.
"Hari ini, ada direktur desain baru yang ditunjuk langsung oleh Pak Vincent."
Kiara sengaja menekankan kata "baru".
Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya mengerti.
"Namanya Monika?"
"Ya! Bu Agnes juga mengenalnya?" Kiara mengingatkanku dengan halus. "Kelihatannya memang polos, tapi menurut saya, dia pasti bukan orang yang sederhana karena berhasil mendapat perhatian khusus dari Pak Vincent."
Vincent memasukkan wanita yang dicintainya ke dalam perusahaan.
Di dunia ini, mungkin hanya Monika yang bisa membuatnya bertindak terang-terangan seperti itu.
Aku menundukkan pandangan sambil memaksakan senyum tipis.
"Baik, aku mengerti. Kamu lanjut bekerja saja."
Semalam aku tidak bisa beristirahat dengan baik, ditambah lagi harus menyelesaikan setumpuk dokumen sejak pagi.
Sesaat setelah makan siang, aku sudah tidak mampu menahannya lagi dan buru-buru berlari ke toilet untuk muntah.
"Kamu tidak apa-apa?"
Seseorang di samping wastafel menyodorkan selembar tisu kepadaku.
Aku menerimanya.
"Terima ka …."
Ucapan terima kasihku langsung tertahan saat melihat wajah Monika yang sangat polos dan lembut, bagaikan bunga teratai putih.