Napas kami berkejaran di bawah temaram lampu ruang tamu. Tanganku merengkuh pinggang ramping Angela, menariknya semakin rapat hingga tubuhnya menempel tanpa jarak di atasku. Bibirnya yang sedikit bengkak terbuka, menerima ciumanku yang menuntut dan semakin liar.
Sudah satu minggu gadis ini tinggal di apartemenku di Shanghai, dan selama itu pula pertahananku berada di ambang batas. Malam ini, semuanya lepas kendali. Padahal niat awalnya hanya minum merayakan ulangan akhir yang sudah kami lewati.
Tangan Angela meremas kuat kerah kemejaku, mencengkeramnya putus asa saat aku membalikkan posisinya dan mencium leher jenjangnya. Desahan tertahan lolos dari bibirnya. Tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi gengsi tinggi seperti saat pertama kali aku menemukannya seminggu lalu.
Seminggu lalu, aku melihatnya diusir pemilik flat di distrik Yangpu dengan koper murah dan air mata yang ditahannya setengah mati. Hidup gadis Taiwan itu terlalu rumit, terlalu keras, dan aku tidak tahan melihatnya hancur sendirian. Aku membawanya ke sini, memberinya tempat aman, karena aku sudah lama menyukainya secara diam-diam. Dan sekarang, jarak di antara kami runtuh sepenuhnya dalam sentuhan panas ini.
Aku menindih tubuhnya di atas sofa, tanganku bergerak liar membuka kancing kemejanya, siap melewati batas akhir, desahan nya membuatku semakin menginginkannya. Pipinya merah, bibirnya terus menggoda untuk ku nikmati. Pakaian sudah terbuka dan jemarinya membuka satu persatu kancing kemejaku, lalu....
Suara gedoran brutal pada pintu utama apartemen menghentikan gerakan kami seketika.
Aku menggeram rendah, memejamkan mata sejenak karena frustrasi. Angela terkesiap hebat, buru-buru memakai pakaiannya yang berantakan dengan wajah pucat pasi.
Gedoran itu kembali bergemuruh, disusul suara teriakan kasar dalam dialek Taiwan yang sangat dikenali Angela.
"Buka pintunya! Aku tahu kamu ada di dalam, anak sialan!"
Wajah Angela langsung kehilangan seluruh warnanya. "Itu... itu Papa," bisiknya gemetar.
Aku merapikan kemejaku dengan kasar, lalu melangkah lebar dan membuka pintu utama. Seorang pria paruh baya berwajah beringas langsung menerobos masuk tanpa diundang. Ayah Angela.
Pria itu melotot garang saat melihat penampilan kami yang berantakan, lalu menatap sekeliling apartemen mewahku dengan pandangan menghina sebelum beralih mencengkeram lengan Angela yang hendak bangkit.
"Jadi ini tempat persembunyianmu, hah?!" bentak ayahnya. "Kamu tinggal bersama laki-laki hidung belang dan melupakan keluargamu di kampung! Kemasi barangmu sekarang! Ikut aku pulang ke desa, batalkan kuliahmu, dan bersiaplah dinikahkan dengan anak saudagar teh yang sudah melamar!"
"Aku tidak mau, Papa!" jerit Angela, mencoba melepaskan cengkeraman ayahnya. "Aku tidak kenal pria itu! Aku ingin menyelesaikan kuliahku di Shanghai!"
"Kurang ajar!" Ayahnya mengangkat tangan, bersiap melayangkan tamparan.
Aku bergerak secepat kilat, menangkap pergelangan tangan pria paruh baya itu di udara sebelum sempat mengenai wajah Angela, lalu menghempasnya kasar ke belakang.
"Jangan pernah sentuh dia di depan mataku," suaraku terdengar rendah, dingin, dan mematikan.
Ayah Angela terhuyung, mendelik marah. "Kamu siapa berani ikut campur urusan keluarga kami?! Dia putriku! Aku berhak menentukan masa depannya!"
"Mulai detik ini, tidak ada pria lain yang boleh menyentuh atau menikahi Angela selain aku," kataku lantang.
"Anak muda sepertimu pasti hanya ingin senang-senang sesaat. Apa kau pikir aku percaya?! Kau hanya menginginkan tubuh putriku, lalu melepaskannya setelah kau puas!"
"Baiklah, aku akan buktikan sekarang juga."
Tanpa memberi jeda pada siapa pun untuk berdebat, aku menarik Angela dan menyuruh ayahnya ikut ke mobilku. Aku memacu kendaraan menuju kantor pendaftaran sipil (Civil Registry Office) Kota Shanghai. Dengan pengaruh koneksi dan uang yang kupunya, dokumen pendaftaran pernikahan darurat diproses hari itu juga.
Angela menolak, dia bahkan memarahiku.
"Aku tidak mau menikah seperti ini."
"Lalu kau mau di paksa kembali ke desa mu, berhenti kuliah, dan menikah dengan pria pilihan papa mu itu?!" tanyaku membuat Angela menangis tersedu. Wajahnya terlihat frustasi dan lelah.
Di dalam ruangan kantor yang dingin, di depan petugas pencatatan nikah, Angela membubuhkan tanda tangannya dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca. Aku memakaikan cincin ke jarinya. Angela resmi menjadi istri sahku secara hukum.
Namun, begitu kami keluar dari gedung kantor pencatatan sipil tersebut, ayah Angela memblokir langkah kami di pelataran parkir.
Pria tua itu menatap sertifikat pernikahan di tangan Angela, lalu mengalihkan pandangan mata serakahnya padaku. Seringai licik muncul di wajah kasarnya.
"Bagus. Kamu sudah meresmikan putriku jadi istrimu," kata ayahnya sambil melipat tangan di d**a. "Tapi kamu pikir kamu bisa membawanya begitu saja tanpa ganti rugi? Biaya membesarkannya dan biaya kuliahnya tidak gratis. Kalau kamu pria kaya yang mampu membelikannya apartemen mewah, kamu harus bayar uang tebusan seratus ribu yuan tunai sekarang juga ke rekeningku!"
Angela membelalak, menatap ayahnya dengan ngeri. "Papa! Kenapa Papa tega menjualku seperti ini?!"
"Diam kamu!" bentak ayahnya pada Angela, lalu kembali menatapku. "Bagaimana, Menantu Kaya? Bayar uang itu, atau aku akan terus membuat keributan di kampus dan tempat tinggal kalian!"
Aku menatap pria itu dingin. Aku tidak peduli jika dia memanfaatkan situasi ini untuk memeras. Yang terpenting bagiku, Angela sudah sah menjadi milikku dan tidak ada satu orang pun yang bisa merebutnya lagi dariku.
"Deal," jawabku pendek. Aku mengeluarkan ponselku dan melakukan transfer seketika ke rekening pria itu. "Uangnya sudah masuk. Sekarang pergi dan jangan pernah muncul lagi di kehidupan Angela."
Ayah Angela memeriksa ponselnya. Begitu melihat saldo bertambah, dia tersenyum puas, lalu berbalik pergi tanpa menoleh sedikit pun pada Angela.
Di sampingku, Angela terduduk lemas di dalam mobil, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. Aku mendekatinya, merengkuh bahunya, dan berbisik lembut, "Kamu sudah aman sekarang, Angela. Kamu milikku."
Belum sempat Angela membalas ucapanku, ponsel di saku celanaku berdering nyaring.
Aku mengeluarkannya. Nama yang tertera di layar membuat rahangku mengeras seketika.
Kenzo.
Kembaranku di Jakarta.
Aku mengangkat panggilan itu. Belum sempat aku mengucapkan patah kata, suara dingin dan penuh peringatan dari Kenzo langsung menembus gendang telingaku.
"Apa yang kau lakukan, sudah sampai ke rumah," suara Kenzo terdengar tajam dan mendesak dari seberang sambungan. "Kau sudah membuat masalah besar. Papa dan Mama di Jakarta baru saja tahu apa yang kau lakukan di Shanghai. Kau tidak berpikir bagaimana dengan tunanganmu."