Tanpa terbang ke langit, Esrafil mampu membuat dua lawannya kewalahan. Sayapnya yang berkilau menawan itu bukan sekadar pajangan, melainkan senjata mematikan yang mirip sebuah senapan. Ia dengan tenang dan percaya diri menembakkan bulu-bulu sayapnya ke tempat Loqestilla dan Neuri berada.
Bahkan, dengan angin merah yang Loqestilla pakai, sama sekali tidak bisa menghadang bulu-bulu sayap tersebut untuk meluncur mulus ke arahnya. Seolah, benda suci seperti itu memang sudah sewajarnya menembus perisai yang dibangun susah payah oleh iblis.
Pada akhirnya, Loqestilla dan Neuri harus bergerak ke berbagai arah meskipun tak bisa terlalu jauh. Mau bagaimana lagi, para penyihir yang bersembunyi, telah mengurung tiga orang tersebut ke dalam perisai besar yang kokoh. Seolah-olah, para prajurit di luar