Rega berdiri dibawah teriknya matahari yang diatas kepala, pria itu memakai perlengkapan safety. Saat ini ia sedang berada dilokasi pembangunan, mengecek kemajuan kerja. Sibuk dengan obrolan bersama mandor disana, Rega tidak sadar jika tak jauh dari tempat ia berdiri ada dua gadis yang berbeda penampilan sedang menatap kearah nya.
Rani berjalan lebih dulu menuju ke tempat Rega, disusul oleh Aisyah yang membawa beberapa file penting. Mereka berjalan berdampingan, senyum melebar diwajah masing-masing. Panas nya sinar matahari tak membuat Rani terganggu sedikit pun, ia bahkan semakin mempercepat langkah.
Mandor disebelah Rega sudah pergi, kembali mengawasi pekerja. Pria itu menoleh tak sengaja kearah dimana ada dua gadis tadi. Perbedaan yang sangat mencolok itu membuat Rega menaikkan alis nya.
Aisyah datang dengan perlengkapan yang lengkap sekali. Helm proyek warna putih, rompi oranye yang dikancingkan rapi, lengan baju panjang sampai pergelangan, sepatu boots, bahkan sarung tangan pun tidak lupa dia bawa. Sementara disebelah nya, Rani berjalan dengan kemeja lengan digulung sampai siku, rambut diikat asal, sepatu pantofel yang sudah berdebu, tanpa helm, tanpa rompi, dan kacamata yang lensa nya berembun karena keringat.
Satu terlihat seperti pekerja proyek, satu lagi terlihat seperti orang yang nyasar mencari alamat.
Rega meletakkan gulungan gambar ditangan nya keatas meja kayu, lalu berjalan cepat kearah dua gadis itu. Wajah nya sudah berubah, dan Aisyah yang sudah hafal betul gelagat atasan nya langsung memelankan langkah, membiarkan Rani berjalan sendiri menyongsong badai.
"Siapa yang izinin kamu masuk lokasi kayak gitu?"
Rani berhenti, bingung. "Kayak gimana?"
"Helm kamu mana?"
"Aku gak dikasih."
"Kamu gak minta." Rega menarik tangan gadis itu, membawanya kepos jaga yang letak nya sepuluh langkah dari situ. Pria itu mengambil satu helm putih yang tergantung dipaku, mengetuk-ngetuk bagian dalam nya untuk memastikan tidak ada binatang yang bersarang, lalu memasangkan nya kekepala Rani. Tangan nya mengencangkan tali dibawah dagu, agak kasar, tapi jari-jari nya berhenti sebentar disana. "Dengar ya. Ini bukan kantor. Diatas kepala kamu ada besi puluhan kilo yang digantung sama tali. Kalau tali nya putus, tali nya gak akan nanya kamu pegawai baru atau bukan."
"Iya, pak."
"Jangan iya pak. Ulangi."
"Iya, aku ngerti."
Pria itu menyambar sebuah rompi oranye dan menyerahkan nya, lalu berbalik seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dari kejauhan, mandor yang sedang mengawasi pekerja menyeringai lebar sambil menggeleng-geleng. Dia sudah bekerja dengan Rega hampir setahun, dan seumur-umur belum pernah melihat lelaki itu memasangkan helm untuk siapa pun. Bahkan untuk diri sendiri saja sering lupa.
"Berkas nya, Sya."
Aisyah menyerahkan map. Mereka bertiga berdiri dibawah bayangan bekisting, menggelar gambar diatas meja kayu yang permukaan nya penuh bekas cat. Rega membandingkan gambar dengan rangka yang sudah terpasang, alis nya semakin bertaut.
"Ini yang dipakai anak-anak dilapangan?"
"Rev-02, pak." Jawab Aisyah pelan.
Rani menarik nafas, lalu mengeluarkan map terpisah yang sejak kemarin dia simpan. "Pak, ada satu hal." Dia membuka lembar rev-03, meletakkan nya bersebelahan. "Nomor gambar nya sama, tanggal nya sama, tapi jarak kuda-kuda nya beda dua puluh senti. Yang rev-03 ini gak ada cap penerimaan lapangan sama sekali. Gak ada tanda tangan siapa pun."
Hening.
Rega mengambil lembar itu, mengangkat nya melawan cahaya matahari, membacanya dua kali. Rahang nya mengeras. Selama seminggu ini dia mengira anak buah nya cuma ceroboh, dia sudah membentak seisi ruangan, sudah mengancam tidak akan membayar, sudah menganggap semua orang bodoh. Ternyata ada satu lembar kertas yang tidak pernah sampai ketangan orang yang seharusnya menerima nya.
"Sya, gambar revisi itu keluar dari ruangan siapa?"
"Dari drafter, pak. Tapi yang megang distribusi ke lapangan itu... " Aisyah ragu, matanya melirik Rani sebentar. "Bagian umum, pak. Pak Herman."
Rega melipat kertas itu dan memasukkan nya kesaku. "Jangan bilang siapa-siapa dulu. Kalian berdua. Sampai saya suruh."
"Iya pak."
Mereka melanjutkan pemeriksaan kesisi timur bangunan. Rani berjalan dipaling belakang sambil mencatat, kepala nya menunduk kebuku, tangan nya sibuk menulis angka yang disebutkan Rega. Panas siang itu benar-benar tidak masuk akal, punggung nya sudah basah, tapi gadis itu sama sekali tidak mengeluh.
Kemudian terdengar teriakan dari atas.
"AWAAAS!"
Rani sempat mendongak, dan itu adalah kesalahan. Sebuah papan bekisting yang tersandar dilantai dua tergelincir, jatuh berputar-putar diudara. Sebelum otak gadis itu sempat memerintahkan kaki nya bergerak, sebuah tangan menariknya keras sekali, membuat tubuh nya terhempas kedada seseorang dan buku catatan nya terlempar entah kemana.
Papan itu menghantam tanah, tepat ditempat Rani berdiri satu detik yang lalu. Debu naik setinggi lutut.
Seluruh lokasi berhenti bekerja.
Rega tidak melepaskan pelukan nya. Tangan pria itu menekan kepala Rani kedada nya, helm putih gadis itu miring, dan Rani bisa mendengar jantung lelaki itu berdegup jauh lebih kencang dari pada jantung nya sendiri.
"SIAPA YANG NYANDARIN PAPAN DISITU?!"
Suara Rega menggelegar keseluruh lokasi. Beberapa pekerja langsung turun, mandor berlari menghampiri, minta maaf berkali-kali. Pria itu menunjuk kearah lantai dua dengan tangan yang masih gemetar.
"Berhentikan pekerjaan disisi ini sekarang. Semua sandaran diperiksa ulang. Saya gak mau denger alasan, saya mau lihat besok pagi semua nya sudah beres."
"Siap, pak."
Baru setelah itu Rega menoleh kebawah, kearah gadis yang masih berada didalam dekapan nya. Dan suara nya berubah, dari petir menjadi bisikan yang serak.
"Kamu kenapa dongak? Kalau ada yang teriak awas itu bukan buat dilihat, tapi buat dihindari."
"Aku... refleks."
"Refleks kamu itu bisa bikin saya kubur kamu."
Aisyah datang membawa buku catatan Rani yang terlempar tadi, wajah nya pucat pasi. Gadis berhijab itu buru-buru mundur beberapa langkah begitu melihat bagaimana atasan nya menggenggam bahu Rani, seolah takut gadis itu akan hilang kalau dilepas.
Mereka duduk dipos jaga. Rega menyodorkan sebotol air, dan Rani meminumnya dengan tangan yang bergetar. Sekarang, setelah semua nya lewat, barulah rasa takut itu datang.
"Dulu saya juga hampir mati dilokasi ini." Kata Rega tiba-tiba, matanya menatap lurus kedepan. "Berdiri dibawah orang yang lagi ngangkat bahan. Kalau mandor gak narik saya, mungkin sekarang nama saya udah pakai almarhum."
Rani menoleh kaget. "Kamu gak pernah cerita."
"Ngapain cerita. Saya waktu itu mikir, ya udah kalau mati juga gak ada yang nyariin." Pria itu memutar botol air ditangan nya. "Tapi tadi, waktu papan itu jatuh, saya baru sadar satu hal. Saya jauh lebih takut lihat kamu dibawah situ dari pada waktu saya sendiri yang dibawah situ."
Tenggorokan Rani tercekat. Ditengah panas, debu, dan suara mesin molen yang mengaum, kalimat itu terdengar seperti pengakuan yang paling jujur yang pernah dia dengar dari mulut Rega.
"Ga... "
"Habisin air nya. Kita balik kekantor." Pria itu berdiri, memungut helm nya sendiri. "Dan mulai besok kamu masuk lokasi cuma kalau saya yang antar. Titik."
Rani mengangguk. Dia terlalu lelah untuk membantah, dan sejujur nya, dia juga tidak ingin membantah.
Diperjalanan pulang, tangan gadis itu meraba saku tas nya. Selembar fotokopi rev-03 masih ada disana, dan disudut bawah nya, ada satu paraf kecil yang tadi luput dari perhatian mereka semua. Paraf yang sangat dia kenal.
Karena paraf itu ada dihampir semua surat yang dia terima selama bekerja di Jakarta.