Kalau kamu pikir punya wajah baby face itu keberuntungan, mending kamu segera cuci muka, karena wajah seperti itu memang bisa membuatmu terlihat awet muda, tetapi juga bisa membuatmu ditanya oleh seorang siswa, “Kelas berapa, Dek?” padahal kamu gurunya.
Itulah yang terjadi pada Zidan.
Usianya dua puluh empat tahun.
Ijazah kuliahnya sudah ada.
Ijazah madrasahnya juga ada.
Prestasinya sebagai lulusan terbaik di sebuah pesantren modern bahkan cukup membuat orang tua tersenyum bangga setiap kali membicarakannya kepada tetangga.
Sayangnya, semua pencapaian tersebut tidak ikut tercetak di wajah.
Wajah Zidan masih terlihat seperti anak kelas sebelas yang baru selesai membeli es teh di kantin.
Pagi itu ia berdiri di depan gerbang SMA Bina Cendekia dengan kemeja putih rapi, celana bahan hitam, sepatu hitam, dan tas punggung yang sebenarnya sudah menemani hidupnya sejak zaman kuliah.
Hari pertama menjadi guru.
Guru PAI.
Seharusnya momen seperti ini terasa membanggakan.
Dan memang membanggakan.
Hanya saja Zidan belum tahu bahwa profesi baru itu akan dimulai dengan ujian yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu agama.
Ujian pertama adalah mencari ruang guru.
Zidan melihat papan petunjuk di dekat gerbang.
Ruang Kepala Sekolah.
Tata Usaha.
Perpustakaan.
Laboratorium.
Ruang Guru.
Ia mengikuti arah panah.
Lima menit kemudian ia kembali ke tempat semula.
Zidan menatap papan petunjuk itu.
Papan tersebut diam.
Zidan juga diam.
“Kalau papan petunjuk saja bisa bikin saya tersesat, mungkin saya yang harus minta petunjuk kepada papan.”
Ia menghela napas.
Tidak ada yang menjawab.
Memang sulit berharap banyak dari benda yang tugasnya hanya menunjukkan arah.
Zidan akhirnya memutuskan bertanya kepada seseorang.
Seorang siswa laki-laki lewat sambil membawa beberapa buku.
“Permisi.”
Siswa itu berhenti.
“Iya?”
“Ruang guru sebelah mana?”
Anak itu menunjuk ke gedung sebelah.
“Di sana, Kak.”
“Terima kasih.”
Zidan berjalan ke sana.
Baru beberapa langkah, ia berhenti.
“Kak?”
Ia menoleh.
Siswa tadi sudah pergi.
Zidan menatap dirinya sendiri.
“Ya Allah.”
Baru lima menit di sekolah.
Sudah dipanggil kakak.
Belum sempat mengeluh, ia melihat seorang perempuan berhijab keluar dari ruang BK sambil membawa setumpuk berkas.
Perempuan itu terlihat sekitar pertengahan dua puluhan. Penampilannya sangat rapi. Jilbabnya tertata sempurna. Berkas di tangannya bahkan tersusun lurus seperti diukur menggunakan penggaris.
Namanya nanti akan Zidan kenal sebagai Shania.
Guru BK.
Tetapi saat itu Zidan belum tahu.
Ia hanya melihat seorang guru yang mungkin bisa menyelamatkan hidupnya dari tragedi tersesat di sekolah sendiri.
“Permisi, Bu.”
Perempuan itu berhenti.
“Iya?”
“Boleh tanya?”
“Tentu.”
“Ruang guru sebelah mana, ya?”
Shania menunjuk ke arah koridor.
“Lurus saja. Nanti belok kanan.”
Zidan mengangguk.
“Terima kasih, Bu.”
Ia hendak pergi.
Namun Shania memperhatikannya sebentar.
“Kamu siswa baru?”
Zidan berhenti.
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana.
Masalahnya, Zidan sudah mulai mendengar pertanyaan serupa sejak lima menit lalu.
Ia tersenyum.
“Iya, Bu.”
Shania mengangguk.
“Pindahan?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Baru mulai di sini.”
Shania tampak sedikit bingung.
“Kalau begitu kelas berapa?”
Zidan diam.
Dalam hidup, ada pertanyaan yang jawabannya mudah.
Ada pula pertanyaan yang membuat manusia mempertanyakan pilihan hidup.
“Belum tahu, Bu.”
Shania mengerutkan kening.
“Belum tahu kelas sendiri?”
“Iya.”
“Kamu sudah lapor ke tata usaha?”
“Belum.”
“Surat pindah?”
“Tidak ada.”
“Kartu pelajar?”
Zidan mulai merasa percakapan ini bergerak ke arah yang tidak ia inginkan.
“Tidak punya.”
Shania semakin yakin.
“Kalau begitu ikut saya dulu.”
“Ke mana?”
“Tata usaha.”
“Oh.”
Zidan menurut.
Mereka berjalan bersama.
Shania berjalan cukup cepat.
Zidan mengikutinya sambil sesekali melihat papan nama ruangan.
“Kamu dari sekolah mana?” tanya Shania.
“Bukan dari sekolah.”
Shania menoleh.
“Kuliah?”
“Iya.”
“Semester berapa?”
“Sudah selesai.”
“Oh.”
Shania kembali berjalan.
“Berarti sudah lulus?”
“Sudah.”
“Baru lulus?”
“Iya.”
Shania mengangguk.
“Pantas.”
Zidan menoleh.
“Pantas apa?”
“Kelihatannya masih muda.”
Zidan tersenyum.
“Memang.”
“Berapa umurmu?”
“Dua puluh empat.”
Langkah Shania berhenti.
Zidan ikut berhenti.
Shania memandangnya beberapa detik.
“Serius?”
“Serius.”
“Dua puluh empat?”
“Iya.”
Shania melihat wajah Zidan lagi.
Kemudian seragamnya.
Kemudian tasnya.
Lalu wajahnya lagi.
“Kalau begitu saya minta maaf.”
“Tidak apa-apa.”
“Saya kira kamu siswa baru.”
“Saya sudah sering dikira begitu.”
Shania tersenyum.
“Berarti bukan saya saja.”
“Belum.”
“Belum?”
Zidan mengangguk.
“Satpam tadi juga.”
Shania tertawa kecil.
“Wah.”
“Sepertinya saya punya bakat.”
“Bakat apa?”
“Menjadi guru yang tidak dipercaya sebagai guru.”
Shania tertawa.
Zidan ikut tertawa.
Entah kenapa percakapan mereka terasa mudah.
Tidak kaku seperti percakapan dua orang yang baru bertemu.
Mungkin karena Shania tipe orang yang mudah berbicara.
Atau mungkin karena Zidan memang cukup santai menghadapi hal-hal yang sebenarnya memalukan.
Mereka sampai di depan ruang tata usaha.
Shania mengetuk.
Seorang pegawai membuka pintu.
“Ya?”
Shania menunjuk Zidan.
“Bu, ini siswa baru yang katanya belum lapor.”
Pegawai itu menatap Zidan.
Kemudian matanya melebar.
“Pak Zidan?”
Zidan mengangguk.
“Iya, Bu.”
Shania langsung diam.
Pegawai itu tersenyum.
“Waduh, Pak. Saya kira Bapak sudah masuk ruang guru.”
“Belum, Bu. Saya tersesat.”
Shania perlahan menoleh kepada Zidan.
“Pak?”
Zidan tersenyum.
“Iya, Bu.”
“Pak Zidan?”
“Iya.”
“Guru baru?”
“Iya.”
Hening.
Shania menatapnya.
Zidan menatap Shania.
Pegawai TU menatap mereka berdua.
Kalau ada orang membawa popcorn saat itu, mungkin suasananya sudah cocok untuk menonton pertunjukan.
Shania akhirnya menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa.
“Jadi... Bapak guru?”
Zidan mengangguk.
“Guru PAI.”
Shania menghela napas.
“Maaf, Pak.”
“Tidak apa-apa.”
“Tadi saya mengantar Bapak ke sini karena saya kira Bapak siswa.”
“Saya tahu.”
“Dan saya tadi tanya kelas berapa.”
“Saya ingat.”
“Dan saya tanya sudah lapor atau belum.”
“Saya juga ingat.”
Shania menatapnya.
“Bapak jangan mengingat semuanya.”
Zidan tersenyum.
“Sulit. Ibu bertanya cukup banyak.”
Shania akhirnya tertawa.
“Ya sudah. Anggap saja saya belum bertemu Bapak pagi ini.”
“Boleh.”
“Dan Bapak juga jangan cerita kepada guru lain.”
“Saya tidak akan cerita.”
Pegawai TU yang berdiri di samping mereka langsung menyela.
“Saya sudah tahu, Bu.”
Shania menoleh.
“Ibu jangan cerita.”
Pegawai itu tersenyum.
“Saya tidak janji.”
Zidan tertawa.
Hari pertama kerja baru berjalan beberapa menit, tetapi ia sudah mendapatkan satu pelajaran penting:
rahasia di sekolah rupanya memiliki umur yang lebih pendek daripada es teh di kantin.
---
Beberapa menit kemudian, Zidan akhirnya masuk ke ruang guru.
Kepala sekolah menyambutnya dengan ramah.
“Selamat datang, Pak Zidan.”
“Terima kasih, Pak.”
“Bagaimana perjalanan tadi?”
“Lancar.”
“Sudah bertemu Bu Shania?”
Zidan melirik ke arah pintu.
Shania sedang berdiri di sana sambil membawa berkas.
“Sudah, Pak.”
Pak Hasyim tersenyum.
“Bagus. Saya memang ingin meminta bantuan Bu Shania.”
Shania masuk.
“Ada apa, Pak?”
“Pak Zidan guru baru. Saya ingin beliau beradaptasi dengan cepat. Karena beberapa mata pelajaran dan persoalan siswa sering berkaitan dengan aspek agama, saya ingin Bu Shania membantu koordinasi.”
Shania mengangguk.
“Baik.”
Zidan juga mengangguk.
“Insyaallah.”
Shania meliriknya.
“Kalau nanti tersesat lagi, jangan sungkan bertanya.”
Zidan tersenyum.
“Baik, Bu.”
“Jangan sampai nanti saya menemukan Bapak di perpustakaan sambil mengira sedang mencari ruang guru.”
Zidan tertawa.
“Kalau itu terjadi, berarti saya memang butuh BK.”
Shania menahan tawa.
“Belum tentu. Bisa jadi Bapak hanya butuh papan petunjuk yang lebih besar.”
Zidan mengangguk serius.
“Setuju.”
Pak Hasyim melihat mereka bergantian.
Ia tersenyum kecil.
Entah kenapa dua orang itu baru bertemu beberapa menit, tetapi sudah bisa bercanda seperti rekan kerja yang lumayan lama.
Namun pagi belum selesai.
Karena satu jam kemudian, ketika Zidan mulai masuk kelas pertamanya, masalah lain muncul.
Seorang siswa berdiri di depan pintu.
“Pak?”
“Iya?”
“Bapak guru baru?”
“Iya.”
“Serius?”
Zidan tersenyum.
“Serius.”
Siswa itu menatapnya dari atas sampai bawah.
“Kirain anak baru.”
Zidan menarik napas.
“Ini sudah yang keempat.”
“Maaf, Pak.”
“Tidak apa-apa.”
Siswa itu pergi.
Zidan masuk kelas.
Tiga puluh pasang mata langsung menoleh.
Ada yang berbisik.
Ada yang saling sikut.
Ada yang bahkan terlihat ingin bertanya tetapi takut.
Zidan meletakkan buku di meja.
Menulis namanya di papan.
AHMAD ZIDAN
Kemudian berbalik.
“Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam.”
“Saya Pak Zidan. Mulai hari ini saya akan mengajar Pendidikan Agama Islam.”
Seorang siswa mengangkat tangan.
“Iya?”
“Pak, umur Bapak berapa?”
Zidan tersenyum.
“Dua puluh empat.”
Kelas langsung ramai.
“Serius?!”
“Kirain delapan belas!”
“Pak, Bapak masih kuliah?”
“Sudah lulus.”
“Lulus SMA?”
Zidan memejamkan mata.
Kadang manusia diuji bukan dengan masalah besar.
Kadang diuji dengan pertanyaan siswa yang niatnya polos tetapi efeknya cukup untuk membuat harga diri mencari tempat persembunyian.
Zidan membuka mata kembali.
“Baik.”
Kelas mulai tenang.
“Karena saya sudah bisa memastikan satu hal.”
“Apa, Pak?”
“Mulai hari ini saya tidak akan lagi heran kalau ada yang mengira saya siswa.”
Beberapa siswa tertawa.
Zidan ikut tersenyum.
“Tapi ada satu keuntungan kalian punya guru yang masih muda.”
“Apa?”
“Saya masih ingat rasanya menjadi siswa.”
Seorang siswa dari belakang langsung menyahut.
“Berarti Bapak masih bisa diajak bolos?”
Kelas meledak.
Zidan menatapnya.
“Tidak.”
“Yah.”
“Justru karena saya masih ingat rasanya menjadi siswa, saya tahu semua alasan kalian kalau ketahuan bolos.”
Tawa kembali pecah.
Dan tanpa Zidan sadari, di luar kelas, Shania kebetulan melewati koridor.
Ia berhenti sebentar ketika mendengar suara tawa dari dalam.
Ia melihat melalui kaca pintu.
Zidan sedang berdiri di depan kelas.
Tidak terlihat seperti guru baru yang gugup.
Tidak pula seperti seseorang yang berusaha menunjukkan bahwa dirinya paling pintar.
Ia hanya berbicara santai kepada murid-muridnya.
Shania tersenyum kecil.
Kemudian melanjutkan langkah.
Namun baru beberapa meter berjalan, ia berhenti.
Menoleh lagi.
Entah kenapa, ia merasa ingin tahu bagaimana guru muda itu akan menjalani hari-hari berikutnya.
Mungkin karena Zidan lucu.
Mungkin karena dia terlihat berbeda.
Atau mungkin karena tanpa disadari Shania, hari itu ia baru saja bertemu seseorang yang kelak akan membuat ruang BK jauh lebih ramai daripada biasanya.
Dan masalahnya...
Shania belum tahu bahwa beberapa hari lagi, ia akan datang mencari Zidan bukan karena tersesat atau karena tugas kepala sekolah.
Melainkan karena ada seorang siswa yang meninggalkan sebuah surat anonim di kotak curhat OSIS.
Surat yang kelihatannya sederhana.
Tetapi cukup untuk membuat satu sekolah panik.