Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
What we have is timeless
My love is endless
And with this ring I
Say to the world
You're my every reason
You're all that I believe in
With all my heart I mean every word
So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
You look so beautiful in white, yeah yeah
Na na na na
So beautiful in white
Tonight
And if a daughter is what our future holds
I hope she has your eyes
Finds love like you and I did
Yeah, and if she falls in love, we'll let her go
I'll walk her down the aisle
She'll look so beautiful in white, yeah yeah
So beautiful in white
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
Na na na na
So beautiful in white
Tonight
(Beautiful In White – Shane Filan)
Alunan lagu itu menyambut pasangan kekasih yang sudah sah untuk memasuki gedung. Di mana sudah didekor seperti yang mereka inginkan. Sela jalan dengan anggun menggandeng tangan sang suami yang tak lain adalah Manggala. Mereka sudah menjadi pasangan suami dan istri. Tentu saja di sini Aya yang paling bahagia.
Karena pada akhirnya sang kakak bersatu dengan Gisela. Meskipun melewati masa-masa yang sulit. Pada akhirnya mereka bersama juga.
Usahanya dalam menyatukan mereka berhasil sudah. Kini giliran sang kawan yang akan membuat kakaknya jatuh cinta kepada perempuan itu. Tak ada yang menggembirakan selain melihat mereka berjalan menuju pelaminan.
Awalnya, Sela meminta yang biasa saja. Tentu saja Aya menolak hal itu. Pesta pernikahan mereka harus mewah seperti dirinya. Pada akhirnya Sela mau dan menuruti semua keinginannya. Sedangkan sang kakak selalu terima jadi. Tapi mungkin itulah lelaki yang tak mau ribet untuk urusan seperti ini.
Tanpa Aya ketahui, ada sebuah perjanjian sebelum pernikahan mereka terjadi. Itu semua karena selapas Sela keluar dari kamar inap Aya kala itu. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding. Setelah mengatakan semuanya, perasaannya menjadi tak karuhan. Benar saja, Manggala datang menghampiri dan mengajaknya untuk bicara sebentar.
“Apa yang kamu katakan kepada Aya?” tanya Gala langsung. Lelaki itu menatap tajam pada perempuan yang berdiri di depannya. “Kamu tahu kalau …”
“Kakak tidak mencintaiku, ‘kan?” Gisela menyela dengan senyuman kecut, “aku tahu …”
“Tapi kenapa sampai seperti ini?” tanya Gala yang tak mengerti dengan keadaan mereka. Di mana sang adik memaksanya untuk menikah dengan Sela. Karena adik tersayang tak mau kakak ipar selain Gisela.
Sela menggeleng tak tahu. Perempuan itu sama sekali tak mengerti. Terlebih lagi, tadi ia mendengar permintaan sang kawan yang tak mungkin untuk dilakukan. Membuat kepalamnya terasa pecah.
Bagaimana mungkin Aya meminta mereka untuk menikah. Padahal sampai detik ini perasan ini berjalan sepihak. Dirinya yang mencintai lelaki itu. Sedangkan Manggala melabuhkan perasananya kepada orang lain. Dan tentu saja itu bukan dirinya. Kalau seperti ini ia bisa apa. Tak mungkin penikahan ini bisa terjadi.
“Aku menawarkan satu kesepakatan,” Gala membuang napas dalam. Lelaki itu mencoba mengontrol emosinya, “kita menikah selama satu tahun …”
“Maksudmu?” tanya Gisela menyela ucapan lelaki itu, “Kakak ingin kita nikah kontrak?”
Manggala mengangguk. Tentu saja hanya cara ini yang ada dalam otaknya. Setidaknya dengan begini sang adik akan melihatnya menikah dengan Sela. Namun, semua ini hanya hubungan kerja sama semata. Karena Gala masih ingin mengejar teman masa kecilnya itu.
“Ini gila …”
“Lalu, kamu punya ide lain?”
Sela terdiam. Ia tak memiliki pemikiran apapun. Namun untuk mempermainkan pernikahan ia sama sekali tak mau. Karena ia sangat tahu betapa sakralnya hubungan tersebut.
“Pikirkan kondisi Aya,” ujar Gala dengan suara rendahnya, “aku juga nggak mau ini terjadi. Namun mau bagaimana lagi. Kesehatan Aya lebih penting.”
Sela tahu akan hal itu. Tapi apakah mereka harus melakukan hal ini. Bukannya ini akan menyakiti Aya. “Tapi …”
“Pikirkan baik-baik dulu. Kalau kamu mau, mari kita lakukan itu,”
“Kalau aku menolak?”
Gala membuang napas dalam, “Aku yang akan membicarakan hal ini kepada Aya.”
Sela terdiam. Perempuan itu sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Ia takut kesehatan sang kawan akan terganggu lagi. Namun, bagaimana pun ia tak bisa melakukan pernikahan ini. Di mana sama saja dengan dirinya mempermainkan hal sakral.
Namun, di sisi lain tak ada jalan keluar dari masalah ini. Membuat mereka terjebak dan tak tahu harus berbuat apa.
Pada akhirnya perempuan itu memutuskan untuk mengikuti saran dari Gala. Dengan syarat tak da kontak fisik antara mereka.
“Kamu yakin?”’
Sela mengangguk ragu, “Iya.”
“Baiklah.”
Setelah mengatakan itu, Gala menyiapkan segalanya. Tentu saja menyerahkan urusan ini kepada sang adik dan juga Sela. Terllihat jelas binar kebahagian di mata adiknya. Dan tentu saja ia tak ingin kehilangan hal itu.
Ini semua terjadi karena janjinya waktu dulu. Di mana bila sang adik memaafkannya, ia akan melakukan apapun yang disuruh. Dan ternyata adiknya malah menginginkan ia menikah dengan Sela. Dan tentu saja ia tak dapat menolaknya.
Gala membuang napas dalam, “Siap?”
Sela mengangguk pelan. Mereka berdua masuk dalam ruangan yang sudah disulap dengan indah. Sayang sekali semua ini hanya sandiwara belakang. Tak ada pernikahan yang sebenarnya. Karena memang ini kemauan mereka.
Di mana Gala masih mengejar cinta pertamanya. Dan tentu saja itu dilakukan secara tersembunyi. Agar adiknya tak mengetahui hal ini.
Sedangkan Sela tak ingin sesuatu terjadi kepada sahabatnya. Maka dari itu ia menerima tawaran ini. Yang terpenting pada akhirnya sang kawan bahagia.
"Makasih, dan maaf ..."
Sela dapat mendengar bisikan itu. Mungkin yang melihat mereka sekarang adalah pasangan yang sangat berbahagia. Nyatanya ini hanya topeng untuk menutupi sebuah kebohongan.
Karena pernikahan ini bukan yang sebenarnya. Ia hanya mengambil peran di dalamnya. Berpura-pura bahagia dan juga menyenangkan. Padahal kenyataannya hanya kegelapan dan tangis yang berada di sana. Karena status mereka hanya di atas sebuah kertas. Bukan sebenarnya.
Sela hanya berharap, Aya tak marah bila suatu saat mengetahui hal ini. Sahabatnya bisa memaklumi apa yang telah mereka lakukan. Meskipun menyakitkan, ini semua demi kebaikan bersama.
Aya tidak boleh tertekan dalam pikiran. Karena itu akan mempengaruhi janin yang dikandung. Karena itulah mereka berdua sepakat untuk melangsungkan pernikahan. Demi kehamilan Aya dan juga perasaan tenang wanita hamil tersebut.