“Maaf aku harus pergi.”
Manggala membaca sebuah pesan yang ditulis diatas kertas. Di atasnya juga ada cincin pernikahan yang selama ini dipakai Gisela. Lelaki itu memandang sekitar kamar yang terasa sunyi dan sepi.
Dirinya sudah memeriksa semuanya. Termasuk lemari pakaian yang telah kosong. Bahkan tas dan juga koper milik perempuan itu tidak ada. Yang tersisa hanya cincin berada dalam genggamannya.
Sudah tak ada yang bisa lelaki itu perbuat kembali. Gala memilih duduk di atas kasur. Masih tercium wangi perempuan itu. ini tersa sangat menyesakkan. Membuat pria tersebut sangat kesal dan marah.
“Sial!”
Ini semua tidak akan terjadi kalau dirinya bisa mengendalikan emosi. Seharusnya ia tak melampiaskan pada minunam keras. Semestinya dirinya langsung pulang dan membicarakan hal ini dengan