BAB 11
“Apa saja yang dilakukan Brian padamu dan Bella?” tanya Briana pada Alan yang saat ini, mereka tengah di dalam mobil hitam milik Briana.
“Tuan tidak melakukan apa pun, Nona,” jawab Alan dengan santai.
Briana langsung menatap wajah Alan yang memiliki luka lebam di sisi kiri wajahnya melalui kaca spion atas. Alan hanya berfokus pada jalanan di depannya. Briana pun menyunggingkan senyum sarkasnya, “Ya, terserah kau saja. Lalu, ke mana Bella? Kenapa dia tidak bersama kita?”
“Maaf, Nona. Saya kurang tahu,” jawab Alan sekenanya.
Briana hanya mengembuskan napasnya kasar karena mendapat jawaban yang sangat tidak dia inginkan. Dia cukup tahu pasti Brian yang memerintahkan Alan untuk tutup mulut. Namun, Briana tidak ingin ambil pusing. Dia hanya merogoh ponselnya untuk memeriksa berkas penting perusahaan.
“Sebelum ke markas, kita cari tempat makan dulu. Aku lapar,” pinta Briana.
“Baik, Nona,” Alan pun langsung menjalankan permintaan Briana.
Sekitar kurang lebih lima menit, mereka pun sampai di sebuah kafe dan resto yang terbilang mewah. Kali ini, tidak ada pengawal yang mengikuti mereka seperti sebelumnya seperti permintaan Briana. Alan setia berjalan di belakang Briana dengan perhatiannya yang berfokus pada sekitar, berjaga-jaga jika ada tanda bahaya yang tidak terduga.
Setelah duduk di salah satu meja di sudut kafe dan resto itu, Briana pun mulai menyebutkan apa yang dipesannya. Namun, saat pelayan itu selesai menuliskan pesanan Briana, tiba-tiba Danis datang seorang diri.
“Selamat siang, Nona!” sapa Danis sambil menundukkan kepalanya.
Briana hanya mengernyitkan dahi, lalu meminta pelayan tersebut untuk pergi dan segera menyiapkan makanannya.
“Ada apa kau kemari?” nada Briana begitu dingin.
“Saya ditugaskan Tuan Brian untuk menjaga Nona,” ucap Danis.
“Tapi aku tidak butuh penjagaanmu. Alan saja sudah cukup,” tolak Briana.
“Ini perintah dari Tuan Brian,” ucap Danis yang sangat menyebalkan di telinga Briana.
“Terserah kau saja,” ucap Briana.
Akhirnya makanan yang dipesan Briana pun datang. Saat pelayan tersebut akan menyajikan salah satu makanan, Briana memberikan kode pada pelayan tersebut untuk menahannya.
“Alan, kau akan duduk di mana? Satu meja denganku atau di meja lain?” tanya Briana.
Perubahan Alan cukup jelas di mata Briana. Dia begitu ragu menanggapi pertanyaan Briana yang biasanya begitu mudah untuk dia jawab.
“Alan, aku bertanya padamu. Aku tidak punya banyak waktu. Aku sudah sangat lapar,” ucap Briana yang mulai gemas akan kebisuan Alan.
“Di meja lain, Nona,” jawab Alan.
Briana pun beralih pada pelayan itu, “Makanan yang itu berikan padanya.”
Setelah pelayan itu menjalankan permintaan Briana, suasana menjadi hening. Briana fokus dengan sajian di depannya, begitu juga dengan Alan. Walau dalam benak keduanya mereka merasa tidak nyaman akan kehadiran Danis yang tengah berjaga tidak jauh dari Briana dan Alan.
Danis diacuhkan begitu saja saat Briana dan Alan tengah menyantap makan siang mereka. Alan berusaha untuk waspada. Dia tidak ingin mendapatkan masalah lagi seperti sebelumnya. Padahal Briana tidak pernah keras padanya.
“Kau bisa kembali pada Brian, Danis,” seru Briana saat dia hendak pergi setelah makan siangnya selesai.
“Saya tidak bisa, Nona. Ini perintah Tuan Brian,” ucap Danis masih pada pendiriannya.
“Dan aku juga sedang memberikan perintah padamu,” tatapan Briana mulai menajam, bahkan membuat para pelayan di sekitarnya ketakutan.
Kekesalan Briana semakin memuncak saat Danis tidak mau pergi dari hadapannya. Dia pun mulai melangkah pergi meninggalkan kafe setelah membayar dan memberikan tip pada pelayan. Sejenak, Briana menatap Danis yang masih berdiri mematung di dalam. Sebelum akhirnya mobil yang Briana dan Alan tumpangi pergi meninggalkan kafe yang mulai ramai pengunjung.
Ponsel Danis berdering. Dengan tangan sedikit gemetar, dia pun menjawab telepon itu dengan segala ketakutan.
“Aku meminta laporan darimu siang ini!” suara itu lebih dulu menyapanya.
“Baik, Tuan,” jawab Danis.
Sambungan telepon pun berakhir begitu saja. Sorot mata Danis mulai menajam, menahan kekesalan yang tidak bisa dia luapkan, “Sial!”
***
“Alan, kenapa kau membiarkan alat itu terpasang di mobil ini?” tanya Briana tiba-tiba.
“Maaf, Nona. Saya tidak mengerti dengan apa yang Nona maksud,” ucap Alan seolah-olah tidak mengerti dengan apa yang Briana ucapkan.
“Aku sudah membuang jauh-jauh alat itu kemarin. Jadi bicaralah padaku dengan normal,” ucap Briana.
“Maafkan saya, Nona. Danis yang memasang alat itu atas perintah Tuan Brian,” ucap Alan merasa menyesal.
“Kau yakin Brian yang menyuruhnya?” tanya Briana memastikan.
“Danis yang berkata seperti itu. Bukan kah dia adalah orang kepercayaan Tuan Brian?” ucap Alan.
“Aku merasa aneh, kenapa Brian begitu percaya pada orang itu. Bahkan kehadirannya pun baru sekitar satu tahun,” ucap Briana.
“Bukan kah saya juga belum genap satu tahun menjadi pengawal pribadi Nona,” ucap Alan.
“Kau berbeda, Alan. Ayah sudah mengawasimu lebih dulu sebelum bertemu denganku, dan Ayah tidak mungkin sembarangan memilihmu untuk menjadi pengawalku.”
Mendengar jawaban Briana, Alan menarik kedua sudut bibirnya. Memang benar, tidak mudah bagi Alan bisa mendapat kepercayaan seperti ini.
“Entah kenapa, semakin hari kelakuan Brian semakin menjengkelkan,” keluh Briana tiba-tiba.
“Tuan Brian hanya terlalu menyayangi Nona,” jawab Alan.
“Aku tahu, tapi terkadang kasih sayangnya ini terlalu berlebihan sampai aku merasa tidak memiliki ruang pribadiku sendiri. Bahkan dia tega menyadap mobilku,” keluh Briana lagi.
Alan cukup mengerti dengan perasaan Briana, karena sikap Brian yang terbilang berlebihan untuk melindungi adik semata wayangnya.
“Nona bisa bicarakan ini dengan Tuan Brian jika Nona keberatan atas keputusannya. Bukan kah Nona adiknya yang paling disayang Tuan Brian,” Alan mencoba memberikan saran semampunya.
“Kau tidak tahu, Alan. Ah, entahlah,” Briana hanya memilih mengakhiri pembicaraannya, dan mulai menatap keluar jendela yang mulai melewati pohon-pohon besar nan rindang.
Mobil hitam itu mulai terparkir dengan mulusnya di salah satu sudut pelataran markas. Tidak ada yang tahu tentang kedatangannya hari ini, karena Briana sengaja ingin melihat markas seorang diri. Bahkan Alan pun dia bebaskan untuk tidak mengikuti Briana selama di markas.
Kehadiran Briana tidak terlalu mencolok. Bahkan dia hanya berdiri di salah satu sudut gedung yang jarang orang datangi di lantai dua. Matanya memperhatikan setiap gerak-gerik anggota. Ada yang tengah tertawa bersama beberapa rekannya, ada yang terlihat begitu sibuk sampai dia hanya fokus pada selembaran kertas di tangannya, bahkan ada yang sangat mencuri perhatiannya. Dia tengah membaca buku yang Briana sendiri tidak tahu buku apa yang dibacanya.
Aku pikir tidak ada yang seperti ini di sini. Menarik! Batin Briana.
“Kau kembali, Nona,” ucap seseorang yang baru saja datang.
Briana mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Aidar, pria itu tengah berdiri sekitar empat meter dari jarak di mana Briana berdiri. Briana tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya berfokus pada keadaan Aidar yang terlihat tidak baik-baik saja. Walau di mata orang awam Aidar terlihat seperti biasanya.
“Kenapa Nona selalu diam saat saya mengajak bicara. Apa perlu kita bertarung lagi agar Nona menanggapi setiap perkataan saya?” Aidar mulai melangkah mendekat ke arah Briana.
Aidar berusaha untuk tidak tertatih. Keadaan wajahnya sedikit mengerikan dari terakhir kali Briana melihatnya. Briana berusaha keras mengingat apa yang terjadi terkahir kali. Namun, Briana tidak begitu ingat jika dia melukai Aidar sebegitu parahnya.
“Melihat keadaan markas dari sini memang indah. Sangat berbeda jika melihatnya dari sudut yang lain,” ucap Aidar yang berdiri di sebelah Briana sambil menatap orang-orang yang tengah melakukan kegiatannya.
“Apa kau mengalami semacam kecelakaan atau pengeroyokan?” Briana mengalihkan pandangannya kea rah sebelumnya, setelah menelisik keadaan Aidar.
Aidar terkekeh, padahal tidak ada hal yang lucu di sana, “Ah, tidak, Nona. Ini hanya salah satu ketidakberuntungan saya saja.”
“Entah kenapa aku merasa kau sedikit berbeda dari terakhir kita bertemu. Katakanlah! Jika kau memiliki sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku,” ucap Briana.
Aidar memutar tubuhnya. Tiba-tiba dia berlutut sambil menundukkan kepalanya seraya berkata, “Saya minta maaf atas ketidakdewasaan dan ketidaksopanan saya terhadap Nona. Saya juga minta maaf atas sikap yang melukai hati dan tubuh Nona.”
Briana tertegun mendengar ketulusan Aidar. Dia tidak menyangka jika Aidar bisa bersikap seperti ini. Briana cukup tahu jika Aidar sangat tidak menyukainya, dari sejak pertama kali Briana menjabat di kelompok ini.
“Siapa yang memaksa sampai rela merendahkan harga dirimu di hadapanku? Aku bisa menebak, kau tidak akan melakukan ini jika tidak ada yang memaksa,” ucap Briana.
Senyum Aidar tercetak lemah meski Briana tidak mampu melihatnya, “Hari ini tidak ada yang memaksa saya melakukan ini, karena saya sendiri yang menginginkannya. Saya hanya ingin memperbaiki kesalahan saya setelah saya merenung dan mengevaluasi diri, hingga berani menemui Nona seperti ini. Saya harap Nona bisa memaafkan saya.”
“Bukti apa yang bisa kau berikan padaku?” tanya Briana.
“Apa pun yang Nona minta, saya akan siap menjalankannya,” ucap Aidar dengan sungguh-sungguh.
“Meski aku memintamu untuk melompat dari atas sini?” ucapan Briana membuat Aidar mengangkat kepalanya seketika.
“Nona serius?” dahi Aidar mengernyit.
“Hm,” Briana hanya mengangguk-angguk dengan santai, seolah tidak ada beban. Namun, ini cukup beban bagi Aidar yang masih dalam tahap pemulihan setelah menjalani hukuman.
“Apa tidak ada cara lain?” tanya Aidar yang masih memastikan dengan permintaan Briana.
“Kau yang bilang akan melakukan apa pun. Lalu, kenapa sekarang kau terlihat begitu keberatan dengan apa yang aku inginkan?” Briana berusaha menahan tawanya melihat kekhawatiran Aidar.
Aidar berusaha berpikir keras mencari alasan untuk mengubah permintaan Briana yang terdengar konyol.
“Kenapa kau diam saja? Apa kau ingin menyangkal perkataanmu yang terlanjur aku dengar?” ucap Briana yang terkesan dingin di telinga Aidar.
“Apa kau harus mati konyol seperti ini?” cicit Aidar pada dirinya sendiri, tapi masih mampu didengar oleh Briana.
“Ya, semua pria sama saja. Bermulut manis, tapi tidak sama dengan perbuatannya. Ck, pecundang!” ucapan Briana begitu sarkas yang membuat Aidar merasa tidak terima.
Aidar langsung berdiri dari berlututnya. Dia menatap tajam Briana terlebih dahulu sebelum mulai maju beberapa langkah menuju sisi susuran pagar pembatas.
“Saya akan melakukannya, seperti ucapan saya beberapa menit yang lalu. Dan Nona harus ingat, jika saya bukan pecundang!” ucap Aidar dengan sungguh-sungguh.
Aidar pun mulai bersiap untuk melompat. Dia memperhatikan lantai bawah yang di mana tidak ada satu pun pasang mata yang mengarah padanya. Dia berusaha mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa sesak. Bahkan degup jantungnya pun begitu terasa di permukaan d**a.
Apa benar aku harus melakukan ini? Bahkan gadis ini lebih mengerikan dari Tuan Brian. Astaga! Bagaimana ini? Tapi aku harus melakukannya. Entah hanya cedera atau mungkin mati. Aku harus menepati ucapanku. Aku bukan pencundang! Ucap Aidar yang bergelut dalam batinnya.
Aidar pun mulai melompat hingga pekikannya terdengar, “Akh!”
Brugh!