Sadar bahwa dirinya tidak bisa lepas dari perjodohan itu, akhirnya Radigta merelakan dirinya menerima segala keputusan orang tuanya untuk menikahi Sephiana Clarissa Morgan. Untuk menyenangkan hati orang tuanya pula hari ini Radigta sudah duduk manis di salah satu butik langganan keluarganya untuk fitting pakaian pengantin mereka.
Sephiana keluar dari fitting room. “Gimana penampilan gue?”
Radigta menghela nafas saat Sephiana memamerkan pakaian pengantinnya. Gaun putih itu menjutai sampai ke lantai tapi, belahan pada kakinya sampai pinggul. Sephiana yang bergaya dengan memajukan kaki kirinya tentu saja membuat kaki jenjang mulusnya terekespos. Belum lagi pada bagian atasnya yang seolah-olah tidak mampu menampung bagian d**a atas Sephiana.
Lalu Sephiana berputar, bagian punggungnya terekspose. “Terselah lo.”
“Kurang terbuka ya? Oke kalau gitu kita cari yang lebih terbuka.”
“Pake bikini sekalian!”
Radigta sudah kesal, Sephiana malah tertawa. Mengartikan kekesalan Radigta sebagai rasa posesif. “Cute banget. Oke kalau gitu gue cari gaun yang tertutup.”
Entah sejak kapan Sephiana menjadi banyak berubah. Padahal sebelumnya Sephiana adalah gadis yang cuek, sedikit tomboy dalam berpakaian. Sekarang yang melekat pada diri Sephiana bukanlah gadis itu sendri. Gadis yang sebentar lagi menjadi istri Radigta itu seperti sedang berusaha menduplikasi kembarannya.
Acara fitting pakaian pengantin mereka selesai tidak memakan waktu yang lama karena Radigta cenderung pasrah dengan apa yang Sephiana pilihkan. Lagi pula ia tidak begitu paham dengan konsep-konsep pernikahan. Saat Sephiana mengajukan tema garden party, Radigta ikut saja. Biar cepat kelar, pikirnya.
Keluar dari butik mereka menuju sebuah restauran sekalian makan siang dengan nyonya Amarose—wanita yang sudah melahirkan Radigta. Acara makan siang mereka juga bukan sekedar makan siang tapi juga untuk memilih beberapa design undangan.
Amarose jelas turun tangan langsung mengingat ini adalah pernikahan putera tunggalnya. Bahkan rela mengambil privat room di restoran tersebut. Sephiana terlihat anggun berjalan di samping Radigta yang nampak angkuh. Amarose mempersilahkan mereka duduk.
“Mama sudah pesan makannya, sebentar lagi datang.” Amrose lalu memperkenalkan pada mereka seseorang yang duduk di sisinya. “Dia mbak Gale, wedding planer kalian.”
Gale memperkenalkan dirinya dengan sopan. Setelah sebelumnya bercakap-cakap dengan Amarose, wanita itu jadi tahu apa yang harus dia lakukan. Beberapa undangan yang sekiranya sesuai dengan tema garden party pun dikeluarkan. Sephiana memilih dengan antusias, meski pernikahan itu karena sebuah perjodohan tapi, Sephiana tetap ingin menjadikannya istimewa dan berkesan.
“Kamu suka yang mana, sayang?” tanya Sephiana pada Radigta. Ingin menunjukkan pada calon ibu mertuanya bahwa dirinya dengan Radigta sudah saling mencintai. Tentu dengan harapan agar para orang tua mereka berpikir bahwa menjodohkan mereka berdua adalah tindakan yang benar.
“Aku ikut kamu aja.” Balas Radigta dengan senyum juga usapan lembut di pipi Sephiana. Mereka saling pandang dan tersenyum tapi, dalam hati masing-masing justru merasa muak.
Gale kemudian berkata. “Ini designnya bisa dikurangi atau ditambahkan sesuai keinginan kalian.” Lalu laptop Gale diarah kan kepada Sephiana. Melihat beberapa contoh undangan digital.
“Yang rustic bagus nih, undangannya dikasih bunga-bunga kering bisakan?”
“Bisa, tentu saja.”
Radigta sudah penat sebenarnya tapi, dia tetap berusaha terlihat bahwa dirinya sangat menyukai apapun yang bersangkutan dengan pernikahannya. Radigta membiarkan Sephiana yang memilih seolah-olah dirinya begitu patuh pada gadis itu. Hanya untuk menunjukan pada Amarose kalau dirinya juga menginginkan pernikahan itu.
***
Maka yang terjadi saat tidak ada orang tuanya adalah Radigta kembali ke mode galaknya ketika berhadapan dengan Sephiana. Gadis itu kekeh untuk ikut Radigta ke apartemennya dengan alasan malas pulang. Mau diusir seribu kali pun Sephiana tidak akan mau pergi. Lagi-lagi Radigta membiarkan gadis itu membuntutinya.
“Lo juga tahu, Ta kalau gue enggak pernah suka ada di rumah.” Balas Sephiana mengekori langkah Radigta.
“Bodo amat, bukan urusan gue juga.” Balas Radigta mengabaikan Sephiana. Lelaki itu masuk ke kamarnya, Sephiana mengikuti. “Lo ngapain sih ikutan masuk?”
“Nanti juga ini jadi kamar kita.”
Sephiana melepas blazernya menyisakan tangkop tanpa bra setelahnya. Radigta tahu sebab ada sesuatu yang menyembul di sana. Radigta lalu bertanya sambil sedikit mendesak Sephianaa sampai gadis itu jatuh di atas tempat tidur.
“Apa lo mau malam pertama kita dipercepat?”
“Malam pertama apanya? Ini masih jam tiga siang.” Balas Sephiana yang masih saja tenang saat Radigta sudah mulai menunjukkan kuasanya.
“Sejak awal kita dijodohkan lo selalu aja mancing-mancing hasrat kelelakian gue, Phi.” Radigta mendekat dengan mengurung Sephiana yang sudah lebih dulu berbaring di tempat tidurnya. “Lo mau gue melakukan sesuatu.”
“Silahkan.”
Radigta bukan malaikat. Lelaki bisa memuaskan hasratnya tanpa harus jatuh cinta lebih dahulu. Maka Radigta mulai mencium bibir Sephiana. Tangannya masuk ke dalam tangtop gadis itu, menyentuh sesuatu yang berisi di sana. “Lo nakal, Phia.”
Ciumannya turun ke leher, memberikan gigitan kecil pada lembutnya permukaan kulit Sephiana sampai berjejak. “Seberapa sering lo bercinta dengan Stephania?” tanya Sephiana pada akhirnya.
Mendengar nama gadis itu disebut Radigta langsung menjauhkan dirinya. Setelah beberapa saat yang lalu dia terlena akan rupa Sephiana yang sama dengan Stephania. Tanpa menjawab pertanyaan Sephiana, Radigta memilih langsung masuk ke dalam kamar mandi. Lalu menyadari bahwa dirinya sudah tegang dan sedikit basah.
“Dygta! Gue udah basah! Lo harus tanggung jawab!” Sephiana berteriak di depan pintu kamar mandi.
“Lo enggak pernah bercinta, Phi! Enggak usah bersikap seolah-olah adalah ekspert! Lo amatir!”
“Heh!” Sephiana menendang pintu kamar mandi walau tidak begitu keras. “Gue pernah kok! Lo aja yang enggak tahu.”
Seberapa besarpun kobaran api permusuhan di antara keduanya, mereka tetap saling banyak mengetahui. Mereka kenal sejak kecil, tumbuh bersama jadi Radigta tahu bahwa Sephiana tidak senakal seperti apa yang gadis itu katakan. Sejak dulu Sephiana selalu punya dunianya sendiri, tidak punya banyak teman seperti kembarannya yang mudah bergaul.
Radigta bahkan pernah dibuat begitu penasaran dengan Sephiana. Saat kembaran gadis itu bermain dengannya, Sephiana memilih menjauhi mereka. Sephiana tidak mau didekati. Alasan bahkan sampai sekarang Radigta tidak pernah tahu, termasuk alasan Sephiana yang sekarang menjelma seperti Stephania.
Pintu kamar mandi terbuka. Radigta sudah selesai dengan urusannya. Matanya menangkap Sephiana yang tengah asyik menonton serial kartun. Benar-benar menguasai kamarnya. Sephiana benar-benar tidak bisa bersikap anggun saat bersamanya.
“Ketawa lo udah kayak setan!” ujar Radigta begitu mendengar tawa Sephiana yang menggelegar menertawakan adegan lucu dari layar tv.
Bukannya marah tapi, Sephiana justru senang memancing emosi calon suaminya itu dengan mengeraskan volume tv. Radigta yang baru saja membuka bajunya sampai kesal dengan melempar baju itu pada Sephiana yang berakhir menderat di atas kepala Sephiana.
Sephiana mengambil baju tersebut dari atas kepalnya, lalu dengan sembarangan melemparnya ke atas kasur. Pada dasarnya Radigta yang mudah emosi, melihat hal seperti itu saja sudah tersulut. Dia melangkah mendekat tapi, bukan pada Sephiana melainkan pada kabel tv yang tanpa segan dia cabut kemudian. Tak peduli juga dengan ekpresi Sephiana yang memandangnya kesal sekarang.
“Kok lo rese?!” Sephiana berdecak kesal dengan kedua tangan terlipat di d**a. Menggembungkan pipinya persis seperti ketika Stephania marah.
Sejenak Radigta terpaku seperti dia benar melihat Stephania, hanya kemudian langsung tersadar bahwa yang dihadapinya adalah Sephiana. “Lo jelek kalau bertingkah kayak gitu. Mau sekeras apapun lo jadi Stephi, di mata gue lo tetap Sephiana.”
Sephiana tidak marah dengan apa yang Radigta katakan, justru gadis berlesung pipi sebelah itu tersenyum pada Radigta yang kini sudah duduk di sisinya tanpa pakaian atas. “Dari dulu emang cuma lo yang anggap gue sebagai dari gue sendiri. Terima kasih, Radigta.”
“Mau apa lo?” tanya Radigta saat Sephiana mendekatinya.
“Mau peluk lo, boleh ya?”
Lantas dengan kejam dan tak berperasaan Radigta menjauhkan Sephiana darinya dengan mendorong kening gadis itu menggunakan telapak tangan sampai Sephiana terjengkang ke belakang lalu jatuh dari sofa. Radigta terkekeh saat Sephiana mengaduh kesakitan mengusapi bokongnya yang mencium lantai tanpa karpet itu.
“Sakit nih! Kasar banget jadi cowok.”
“Gue suka hardcore!”
“Setan lo!” Sephiana mengumpat melempar wajah tampan itu dengan bantal sofa yang bisa diraihnya. “Kesel banget gue sama lo. Pokoknya habis nikah nanti gue enggak mau sekamar sama lo.”
“Sayangnya tempat tinggal gue ini kamarnya cuma satu.”
“Kalau gitu kita cari tempat tinggal baru yang punya banyak kamar. Kita bisa minta sama Daddy gue satu unit penthouse-nya. Daddy pasti bakal kasih atau kita minta sama orang tua lo, mereka kan punya perumahan di Tangerang. Minta satu enggak bakal buat mereka rugikan? Bilang aja sebagai hadiah pernikahan kita……”
Radigta tak peduli, meninggalkan Sephiana begitu saja untuk berbaring di atas tempat tidur. Memejamkan matanya dengan telinga yang berdengung mendengarkan ocehan Sephiana yang seolah-olah itu adalah lullaby pengantar tidur, sampai suara Sephiana berubah menjadi samar-samar dan Radigta benar-benar lelap dalam tidurnya.
Sephiana lalu ikut naik ke tempat tidur merebahkan dirinya di sisi Radigta. Mata indahnya memandang sendu wajah lelap itu. “Dari dulu harusnya gue, bukan Stephi. Lo udah salah orang dari dulu.”