Marie sangat gugup, ia berulang kali mengatur napasnya sembari ia menyetir mobilnya untuk sampai di apartemen Jonathan. Saat ini dia tengah dijalan, mengendarai mobil putihnya dengan kecepatan yang rata-rata. Sebelumnya ia sudah meminta izin kepada kedua orang tuanya jika ia akan pulang malam karena ia akan belajar bersama dengan temannya yang sebenarnya adalah Jonathan.
Hanya saja gadis itu tidak menjelaskan dengan detail dengan siapa ia akan belajar, sementara orang tuanya berpikir jika ia belajar bersama sahabat-sahabatnya, yakni Nicky dan Charlie jadi mereka memperbolehkan gadis itu untuk pulang lebih lama dari biasanya.
Pikiran Marie terbayang-bayang sosok Jonathan yang pastinya sedang menunggu kedatangannya. Ia berharap ia tidak melakukan hal yang bodoh atau berkata mengenai sesuatu yang tidak perlu. Marie teringat dengan Jonathan di kehidupannya yang pertama. Ia masih ingat jika pria itu ingin masuk ke salah satu universitas terbaik di Singapore. Walaupun selama ini ia melihat Jonathan memiliki akademi yang pas-pasan, ia yakin pasti ada kesempatan untuk Jonathan masuk ke universitas incarannya tersebut.
“Jika Charlie tahu mengenai ini, apa dia akan marah ya?” tanyanya kepada dirinya sendiri. Gadis itu mengendikkan bahunya, asalkan dia tidak memberitahu siapapun, bukankah dia akan aman? Lagipula Nicky, Nirmala dan Charlie juga memiliki akademis yang bagus juga, jadi mereka tidak terlalu membutuhkan dirinya ketimbang Jonathan.
Gadis itu tersenyum, ia harap Jonathan bisa mencapai impiannya.
Tidak terasa, gadis itu sudah sampai di depan gedung apartemen Jonathan. Ia pun mencari tempat parkir di luaran gedung dan dia mendapatkannya. Setelah mendapatkan tempat parkir, gadis itu mematikan mesin dan sekali lagi dia menghela napasnya.
“Oke, aku pasti bisa,” ujarnya kepada dirinya sendiri sebelum dia keluar dari mobilnya.
Gadis itu berbalik dan melihat gedung yang sebenarnya menjadi tempat Jonathan bunuh diri di kehidupan pertamanya. Kalau ia tidak salah menerima info, Jonathan melompat dari rooftop dan dia pun tewas seketika. Walaupun gadis itu tidak ada di tempat kejadian namun dia bisa merasakan kengerian jika saja dia ada di tempat kejadian.
Marie menundukkan kepalanya dan mengambil napasnya sebelum dia melangkah masuk ke dalam gedung tersebut. Ia sampai di depan lift yang kebetulan langsung terbuka. Marie masuk ke dalam lift tersebut dan memencet tombol 10. Marie terus berusaha untuk tetap tenang, begitu lift terbuka, ia pun berjalan hingga tidak terasa, gadis itu pun sampai di depan pintu apartemen Jonathan.
Kembali, ia mengatur napasnya sebelum dia memencet bel.
“Kamu bisa Marie, kamu bisa,” ujarnya kepada dirinya sendiri sembari menguatkan dirinya.
Tidak lama kemudian pintu pun terbuka dan tampaklah Jonathan yang sebenarnya sedari tadi berusaha untuk merapikan isi apartemennya sebelum Marie datang. Pria itu sudah mengganti pakaian sekolahnya, kini ia memakai kaos oblong dan celana pendek, berbeda dengan Marie yang masih memakai seragam sekolahnya.
“Yuk, masuk,” ajak Jonathan yang diangguki oleh Marie.
Ini bukan pertama kailinya Marie mengunjungi Jonathan di apartemennya, namun mengingat jika hanya ada mereka berdua saja di apartemen ini, membuat jantungnya berdetak begitu kencang. Mulutnya terasa kelu untuk berkata-kata sehingga ia memilih untuk menutup mulutnya saja dan mengangguk saja. Ia masih merasa canggung begitu ia menginjakkan kakinya masuk ke dalam apartemen Jonathan.
“Kita belajar di ruang tamu saja kali ya? Atau mau di kamarku saja?”
“K-Kamar?” batin gadis itu dengan kaku,
“Ruang tamu saja,” jawab gadis itu yang diangguki oleh Jonathan.
“Aku ambil tasku dulu ya,” ujarnya yang diangguki Marie. Marie berjalan ke meja yang ada di ruang tamu tersebut dan mulai duduk di lantai. Tidak lama kemudian, Jonathan pun muncul dengan tas yang ada di tangannya. Ia terlihat sangat bersemangat karena ia tidak sabar untuk bisa belajar bersama dengan Marie. Selain ia ingin meningkatkan nilainya, ia juga ingin sekali menghabiskan waktu bersama dengan Marie.
“Um... Jo, bentar ya... aku mau lepas kontak lens dulu,” ujarnya yang diangguki Jonathan yang masih terus memperhatikan Marie yang sedang melepas kontak lensnya.
“Kenapa dilepas? Apa kamu kurang nyaman memakainya?” tanya Jonathan begitu Marie meletakkan satu kontak lensnya di tempatnya yang penuh dengan air,
“Sebenarnya iya, aku kurang nyaman. Katanya sih jangan pakai lama-lama, jadi aku melepasnya saja sekarang,” ujarnya sembari meletakkan kontak lens satunya lagi. Tidak lupa juga dia meneteskan air kontak lens itu di matanya.
Sembari mengedipkan matanya dengan pelan, gadis itu menyeka air yang menetes dari matanya.
“Kamu terlihat sedang menangis,” ujar Jonathan lagi yang membuat gadis itu terkekeh kecil,
“Iya... teman-temanku sempat kaget air mata ini, mereka menyangka aku menangis, padahal ini air kontak lens yang kuteteskan di mataku,” ujarnya yang sudah merasa segar matanya.
“Apa kamu sering menangis di depan temanmu?”
Marie sedikit terdiam dengan pertanyaan pria itu. Ia sedikit terkejut ketika ia mendengar pria itu bertanya mengenai hal itu kepadanya,”Hmm... aku bukan tipikal yang bisa menangis di depan orang lain, sih... aku tidak ingin orang melihat aku sedang menangis,” jawabnya sembari mengingat lagi bilamana ia pernah menangis di depan temannya. Seketika, ia teringat dengan masa lalunya di mana saat itu ia menangis karena kepergian orang tuanya dan ia masih ingat Charlie memeluknya saat itu.
“Bukannya rasanya melegakan ya kalau sehabis menangis?”
“Itu benar, tapi aku tidak ingin orang melihatku menangis karena aku tidak mau dikasihani dan juga aku tidak ingin orang terdekat denganku khawatir kepadaku,” ujarnya sembari tersenyum tipis.
Terakhir kali Marie menangis adalah saat di mana dia kehilangan Jonathan kehidupan pertamanya. Hatinya begitu hancur saat itu dan ia tidak ingin lagi merasakan hal yang sama seperti itu,
“Jika kamu merasa sedih, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku siap kok kamu hubungi kapan saja,” ujarnya yang menyejukkan hati Marie seketika itu juga. Marie mengangguk dan dia juga tidak ingin kalah, jika Jonathan mau menawarkan dirinya untuk berada di sisinya, begitu juga dengan dirinya. Ia ingin juga menjadi orang yang bisa menjadi tempat di mana Jonathan bisa berkeluh kesah.
“Kamu juga... jika kamu merasa tidak enak atau ada masalah yang terjadi, hubungi aku. Sebisa mungkin aku akan membantumu,” ujar Marie dengan begitu yakin.
Jonathan tersenyum dan mengangguk,”Begitu ya...”
“Iya, apapun itu... tapi itu semua terserah kepadamu. Aku tidak memaksamu untuk memberitahu segalanya, hanya saja...”
“Hanya saja jangan pernah mengakhiri hidupmu seperti dulu,” lanjut gadis itu di batinnya.
“Hanya saja?” tanya Jonathan yang ingin mendengar kelanjutan dari omongan Marie.
“Hanya saja jangan memendamnya. Aku baik kok dalam menjaga rahasia,” tutur gadis itu dengan yakin. Jonathan mengangguk paham begitu juga dengan Marie yang mulai memakai kacamatanya dan bersiap untuk mengajar Jonathan,
“Baik... mari kita mulai pembelajaran kita,” ujar Marie yang diangguki oleh Jonathan.
“Oke!” balas pria itu yang sudah menunggu saat ini tiba.