Entah mengapa Marie sangat gugup, ia bahkan berulang kali menghela napasnya ketika ia berhadapan dengan cermin. Hari ini ia ada janji untuk bertemu dengan Ayunia, ia tidak tahu mengapa wanita itu segitu ingin menemuinya.
“Apa mungkin dia ingin mengintrogasiku?” Marie kembali menghela napas, semoga pertemuan ini berjalan dengan baik. Gadis itu tidak bergeming untuk sejenak, ia berpikir jika sepertinya Ayunia bukanlah tipikal ibu-ibu yang julid dan menyebalkan. Ia kembali mengingat kembali interaksi keduanya dan tampaknya Ayunia tidak mempermasalahkan dirinya berpacaran dengan putranya, Jonathan.
“Tapi untuk apa dia memintaku untuk bertemu dengannya?” tanyanya kembali kepada dirinya sendiri. Di tangan kirinya ia memegang ponselnya. Marie melihat ponselnya yang berisikan pesan terakhir da