Marie sudah menabahkan hatinya dan sedikit demi sedikit mulai menang dari kesedihannya. Demi orang-orang yang menyayanginya, ia akan berusaha untuk bertahan hidup meskipun dia terus berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Sepanjang perjalanan, gadis itu berusaha untuk mengalihkan dirinya ke musik yang ia putar di mobilnya. Ia mengambil napas untuk mengatur emosinya. Marie tidak lagi ingin terlihat sedih dihadapan siapapun, sebisa mungkin ia harus menahan dan mengontrol emosinya.
Akhirnya ia sampai di sekolah dan ia pun memarkirkan mobilnya. Sebelum ia keluar dari mobilnya, ia mencengkram setirannya dan meletakkan kepalanya di setirannya tersebut. Sekali lagi, dia mengambil napasnya sebelum dia bersiap untuk mengambil tasnya dan keluar dari mobilnya.
Ia terus berjalan sampai dia bertemu dengan Nicky yang menghampirinya dengan khawatir,”Kenapa kemarin tidak sekolah, Marie? Apa kamu sakit?” tanya Nicky kepadanya. Marie mengerti jika tidak berguna untuk berbohong kepada Nicky, sehingga dia sendiri tidak menutupi jika dirinya bersedih karena kematian Jonathan,
“Aku... aku tidak apa... semuanya sudah baik-baik saja kok,” ujarnya dengan teduh. Ia tersenyum lembut kepada Nicky yang ingin sekali memeluknya,
“Aku akan selalu ada untukmu, Charlie juga berpikiran yang sama pastinya. Kamu punya banyak orang yang perduli denganmu, ingatlah itu, Marie...” ujarnya sembari mengusap tangan gadis itu dengan jempolnya,
Marie mengangguk,”Iya, aku mengerti...”
“Apa kamu ikut ke rumah duka nanti sepulang sekolah? Rencananya anak kelasku ingin ke sana. Aku akan menemanimu jika kau mau...” ajaknya yang membuat Marie berpikir. Ia ingin melihat Jonathan, tapi ia tidak bisa menjamin jika dia akan baik-baik saja jika ia ikut pergi ke rumah duka. Karena merasa jika dia mungkin tidak bisa mengendalikan dirinya, Marie menggelengkan kepalanya,
“Tidak... aku rasa aku tidak bisa ikut,”
Nicky mengangguk,”Iya, tidak masalah... jangan paksakan dirimu,” ujarnya sembari menepuk bahu gadis itu. Marie berpamit dari Nicky dan ia pun berjalan ke kelasnya.
Tidak sengaja, matanya mengekori Gianna yang tampak sedang berjalan bersama dengan teman-temannya dengan candaan dan tawa. Hal itu membuatnya berhenti untuk sejenak, ia berbalik menatap Gianna yang tampak seakan-akan ia baik-baik saja.
“Apa dia tidak merasa kehilangan?” tanyanya dengan sedikit bingung. Bukankah seharusnya dibandingkan dengan dirinya, Gianna adalah orang yang seharusnya yang paling sedih? Ia dan Jonathan memiliki kenangan bersama, ketimbang Marie yang selama ini hanya melihat dan menyukai Jonathan dari jauh,
Marie menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia berpikir positif, mungkin saja Gianna memang tipikal yang tidak ingin menunjukkan kesedihannya kepada teman-temannya seperti Jonathan. Ia kembali berbalik dan berjalan sebelum dia pun bertemu dengan Charlie,
“Marie, kau tidak apa?” tanyanya dengan khawatir juga. Karena semalam gadis itu tidak masuk, pria itu semakin khawatir dengan dirinya.
Marie tersenyum,”Tidak apa... tenang saja,” ujarnya sembari menepuk bahu Charlie,
“Yuk ke kelas,” ajak Marie yang diangguki oleh Charlie. Walaupun sebelumnya ia tidak suka dengan Jonathan, namun kabar kematiannya sungguh mengejutkan dirinya. Hal pertama yang ia pikirkan adalah Marie karena ia tahu betapa sukanya Marie kepada Jonathan,
“Apa kamu ikut ke rumah duka nanti sore?” tanya Charlie sembari melirik Marie yang tengah berjalan bersama dengan dirinya,
“Tidak... aku rasa aku tidak akan ikut,” ujarnya tanpa menatap Charlie. Charlie mengangguk paham,”Apa kau ikut nanti?” tanya Marie kepada Charlie. Charlie mengangguk,”Ya... rencananya kelas kami akan pergi nanti sore,”
“Aku tahu, Nicky sudah memberitahuku. Kelasku sudah ke rumah duka juga semalam,”
Charlie berhenti berjalan, diikuti dengan Marie yang juga bingung mengapa pria itu berhenti tiba-tiba. Heran karena hal itu, Marie pun bertanya kepadanya,”Ada apa?” tanyanya,
“Aku tidak sengaja mendengar jika Gianna memiliki kekasih lain,” ujarnya yang secara tidak sengaja mendengarnya ketika Gianna berbincang-bincang dengan teman-temannya. Marie mengernyitkan dahinya, ia tidak percaya namun ia sangat penasaran juga,
“Mungkin dia hanya bercanda atau main-main?” tutur gadis itu yang sedikit percaya dan tidak percaya dengan hal tersebut,
“Aku rasa tidak. Gianna sendiri yang berkata kalau dia sudah menemukan pengganti Jonathan,”
“Kau yakin?” tanya gadis itu dengan sangat. Charlie mengangguk, sebenarnya awalnya ia tidak mau memberitahu hal ini kepada Marie dan ia berniat untuk menyimpan hal ini untuk dirinya, hanya saja entah mengapa rasanya ia merasa resah dan terus dihantui untuk memberitahu hal ini kepada Marie sesegera mungkin.
“Aku yakin... terlebih dia tidak terlihat sedih akan kepergian Jonathan...” ujarnya yang membuat Marie teringat dengan apa yang lihat sekilas tadi. Ia berpikir lagi, mungkinkah Gianna selama ini berselingkuh dari Jonathan?
“Hanya itu yang ingin aku katakan, beritahu aku jika kau membutuhkan sesuatu,” ujar Charlie sebelum dia berjalan meninggalkan Marie sendiri dengan berpikirannya yang terus berputar.
***
Marie diam-diam mengikuti Gianna mulai dari keluarnya ia dari kelas hingga sekarang keduanya sedang berada di jalan. Gianna tidak menyadari jika Marie menguntitnya diam-diam sejak ia pulang sekolah tadi. Marie ingin memastikan apa yang Charlie katakan kepadanya sehingga ia memutuskan untuk mengikuti kemana Gianna pergi dalam sehari ini.
Ia sempat bingung mengapa Gianna tidak pergi ke rumah duka untuk melihat Jonathan? Seperti yang Charlie katakan, ia tidak terlihat sebagai seorang yang sudah kehilangan, ia bahkan tampak begitu senang hari ini.
Saat ini Marie berusaha untuk tidak kehilangan jejak Gianna karena Gianna menyetir sedikit ngebut ketimbang Marie yang biasanya membawa mobil dengan santai. Ia tidak tahu kemana Gianna akan pergi, tapi yang jelas, Marie tidak akan pulang dengan tangan kosong.
Perjalanan Gianna membawa Marie ke sebuah hotel bintang lima. Marie tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang sedang Gianna pikirkan, namun ini sangat mencurigakan untuknya. Marie memarkirkan mobilnya di luar parkiran hotel. Ia pun keluar dari mobil dan menyebrang jalan untuk mengikuti Gianna yang sedang memarkirkan mobilnya di sekitar parkiran hotel. Marie mengikuti gadis itu masuk ke lobby hotel dan melihat jika Gianna bertemu dengan seseorang di depan lift.
Keduanya bergandengan tangan dan saling merangkul. Marie menutup mulutnya karena apa yang Charlie katakan sepertinya benar. Ia tidak melihat jelas siapa yang sedang bersama dengan Gianna, namun ia mencoba untuk mendekat dan bersembunyi dibalik tembok.
“Katanya hari ini mau pergi ke rumah duka?” tanya pria itu yang terdengar oleh Marie,
“Gak jadi deh ke sana, malas juga om...” jawabnya yang membuat Marie membulatkan matanya,
“Malas katanya?”
Marie akhirnya bisa melihat wajah pria yang ternyata adalah seorang pria yang sudah berumur. Ia sangat kaget, ia tidak ingin berpikir jelek tapi mungkinkah Gianna adalah seorang sugar baby?
“Siapa yang meninggal emangnya?”
“Bukan siapa-siapa, lagian dia anak kelas sebelah,” tuturnya dengan santai. Marie tertegun sejenak, ia mengabaikan keduanya yang sudah masuk ke dalam lift. Marie merosot terjatuh ke lantai, kakinya begitu lemas,
“M-mungkinkah ini alasan kematian Jonathan?” ujar Marie dengan seluruh tubuh yang bergetar. Hatinya terasa begitu sakit, sepertinya Jonathan begitu sayang kepada Gianna, namun Gianna mempermainkannya dan tidak menganggapnya ada. Gadis itu berusaha untuk bangkit dan keluar dari hotel tersebut.
Ia tidak menyangka jika Jonathan akan menghadapi hal seperti ini. Matanya berair, sehingga ia tidak melihat jalan dengan jelas ketika ia menyebrang, secara tidak terduga, sebuah mobil menghantamnya sehingga ia terpelanting dan jatuh ke tanah. Tubuhnya mati rasa dan pandangannya mulai mengabur. Marie mendengar seseorang melangkah mendekat kepadanya dan ia melihat sebuah sepatu yang tidak asing baginya mendekat kepadanya sebelum semuanya menjadi gelap.