Hari itu hari libur sekolah setelah selesai ujian, tapi Elisa sedang berdiri di depan cermin mengenakan seragam sekolahnya lengkap dengan riasan tipisnya. Wajahnya terlihat agak tegang dari biasanya. Ia menghela nafas panjang kemudian mengepalkan kedua tangannya menghadap ke atas.
"Elisa, kamu pasti bisa!" Ia berseru pada dirinya sendiri memberi semangat, kemudian mengangguk penuh keyakinan. Ia lalu berjalan menuju ruang keluarga dan menghampiri ayahnya yang sedang menonton TV pagi itu.
"Ayah, Elisa berangkat. Doain Elisa ya," kata Elisa sambil mencium tangan ayahnya. Kemudian ayahnya bangkit berdiri dari kursinya.
"Pasti, Nak. Ayah doain yang terbaik buat kamu. Pokoknya kamu harus fokus ngerjain tesnya. Oke?" Ayahnya memberi semangat sambil mengelus kepala Elisa.
"Oke, Ayah. Elisa berangkat ya." Elisa tersenyum pada ayahnya lalu berjalan keluar rumah menuju tempat Scooby-doo terparkir. Ayahnya mengantarnya sampai ke depan rumah. Elisa mengenakan helm dan menyalakan motornya kemudian memacunya. Hari itu tidak seperti biasanya, ia tidak menyapa orang-orang yang dikenalnya di jalan karena pikirannya hanya terfokus pada tes yang akan dijalaninya.
Sekitar 5 menit lagi, ia akan sampai di SMA Akasia. Ia pun mulai memasuki Lunar Residence, salah satu kompleks perumahan termewah milik keluarga Linardi di Jakarta yang bahkan dilengkapi dengan lapangan golf. SMA Akasia berada di dalam kawasan kompleks elit tersebut sebagai salah satu fasilitas pendidikannya.
Elisa harus melewati pos security dengan pengamanan cukup ketat untuk bisa masuk ke sana.
"Selamat pagi. Mau kemana, Mbak?" tanya petugas security di pos tersebut dengan sopan.
"Mau ke SMA Akasia, Pak," jawabnya.
Petugas security tersebut memberinya kartu pengunjung yang memiliki barcode. Elisa menerimanya sambil dalam hati ia merasa takjub karena baru kali itu ia melewati pos security perumahan dengan sistem canggih seperti itu. Portal dibuka dan ia pun segera memacu motornya lagi.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengendarai motornya. Ia sangat terkesima dengan kondisi perumahan di sana. Rumah-rumah yang dilewatinya berukuran besar, ada pula yang sangat besar malah. Semuanya dibangun dengan arsitektur yang mewah nan modern, dilengkapi dengan taman yang luas dan pagar yang dibangun kokoh. Sepintas melalui celah pagar, di dalam rumah-rumah tersebut terlihat mobil-mobil bagus dan mahal terparkir di halaman atau garasinya. Rata-rata tiap rumah memiliki lebih dari satu mobil. Lingkungannya pun sangat bersih dan hijau dengan kondisi jalan yang masih sangat bagus dan mulus, dihiasi dengan pohon-pohon yang tinggi di pinggirnya.
Pemandangan yang dilihatnya selain membuatnya terkesima, juga membuatnya semakin gugup karena ia merasa seperti memasuki sebuah dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari dekat. Merasa kehilangan fokus, ia pun berusaha mengembalikan fokusnya pada jalanan yang akan dilewatinya.
"Lurus... habis bunderan, belok kanan." Elisa mengucapkan apa yang diingatnya mengenai petunjuk jalan menuju SMA Akasia.
Setelah belok ke kanan, gedung SMA Akasia yang kokoh terlihat dalam pandangannya. Gerbangnya masih berada sekitar 100 meter dari hadapannya, namun jantung Elisa semakin berdegup kencang. Sebentar lagi ia akan sampai di sekolah yang mungkin akan jadi tempat belajarnya kelak. Namun ia pun lagi-lagi harus melalui pos security di gerbang sekolah.
"Mau ketemu siapa, Mbak?" tanya petugas security itu.
Hari itu hari libur kenaikan kelas, jadi pengamanan orang-orang yang keluar masuk sekolah pastinya akan lebih ketat.
"Mau ikut tes beasiswa, Pak," jawabnya.
"Oh ya, silahkan masuk." Petugas security tersebut mempersilahkan Elisa masuk dengan memberikan isyarat menggunakan tangannya.
Mata Elisa mencari-cari di mana letak parkiran motornya karena sejauh yang ia lihat hanya ada parkiran mobil.
"Pak maaf, parkiran motornya di sebelah mana ya?" tanya Elisa dengan polosnya.
"Adek lurus aja, nanti belok kiri, lurus lagi. Parkiran motornya yang ada kanopinya ya." Ia menjelaskan sambil memberi arahan.
"Makasih, Pak." Elisa memacu motornya lagi sesuai yang diarahkan.
Akhirnya sampailah ia di parkiran sepeda motor. Di sana juga terparkir beberapa sepeda motor lain yang sepertinya juga milik siswa-siswa yang mengikuti tes hari itu.
Ia pun berjalan memasuki area sekolah. Alangkah terkejutnya ia melihat betapa besar dan bagusnya gedung SMA Akasia dari depan, dengan beberapa gedung berlantai tiga berarsitektur modern. Tidak heran, pemiliknya adalah penggiat properti. Pastilah desain gedungnya sangat dipikirkan dengan matang-matang.
Ia membuka sebuah pintu kaca besar dan memasuki lobi sekolah yang ditata bak sebuah hotel, lengkap dengan resepsionis dan ruang tunggu yang dilengkapi dengan AC dan pencahayaan yang sangat bagus. Ia menuju meja resepsionis dan disambut oleh seorang wanita muda berseragam batik.
"Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan senyuman ramahnya.
"Mmm... Saya mau ikut tes Mbak, di Conference Room 1," kata Elisa sambil memegang kedua tali tas punggungnya, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Tes penerimaan beasiswa ya, Kak. Untuk Conference Room 1, Kakak tinggal jalan lurus aja ke sebelah sana, nanti ada pintu kayu besar di ujung, Kakak langsung masuk aja," jelasnya sambil memberi arahan ke sebelah kanan Elisa.
"Oh iya, Mbak. Makasih ya." Elisa tersenyum dan dibalas senyuman oleh wanita tersebut.
Elisa berjalan keluar dari samping lobi dan menyusuri koridor terbuka yang kanan-kirinya terdapat tanaman hijau yang asri. Ia melihat sekeliling sambil berjalan. Pemandangan yang dilihatnya membuatnya melongo.
Area sekolah tersebut sangatlah besar dengan lahan hijau yang sangat luas. Terdapat air mancur besar di tengah-tengahnya. Area tamannya juga sangat luas dilengkapi dengan beberapa gazebo dan kursi panjang, serta berbagai pohon dan bunga, juga dua buah kolam ikan. Ada beberapa lapangan outdoor yang ia lihat seperti lapangan basket, lapangan sepak bola, dan lapangan atletik.
Terdapat beberapa gedung di area sekolah tersebut yang ia lihat sepintas. Penempata ruangan-ruangan di sana terlihat sangat rapi. Ada juga gedung-gedung lain yang sepertinya menampung berbagai fasilitas sekolah di dalamnya. Elisa membaca di website sekolah bahwa ada beberapa fasilitas yang mereka miliki seperti sport hall, outdoor sport centre, indoor swimming pool, perpustakaan yang update, student learning center, ruang musik, concert hall, ruang seni, kantin yang luas, dan yang pasti conference room.
Elisa seperti kehilangan kata-kata karena ia baru tahu bahwa di Jakarta ada sekolah yang seperti ini. Ia berjalan sambil tak henti-hentinya melongo saking takjubnya.
Ia pun akhirnya sampai di depan pintu kayu yang disebutkan resepsionis tadi. Di sebelah pintu itu terdapat papan akrilik bertuliskan Conference Room 1. Ia membukanya pelan-pelan.
Tampak dalam ruangan yang cukup besar tersebut, beberapa buah kursi berjumlah setidaknya 20 buah dengan sekitar 15 kursi sudah terisi oleh siswa-siswa dari berbagai SMA dengan seragam yang berbeda-beda. Tes hari itu memang dikhususkan untuk beasiswa kenaikan kelas, jadi semua yang ikut serta hari itu adalah siswa SMA kelas 1 atau kelas 10. Mereka semua sedang serius belajar, tidak ada yang mengobrol satu pun.
Elisa pun duduk di kursi kedua dari belakang. Dilihatnya ke kanan dan ke kiri, semuanya terlihat sangat tegang. Kemudian ia mengeluarkan beberapa buku pelajaran dan alat tulisnya dari tas. Hari itu ada beberapa tes yang harus ia jalani, yaitu Theory of Knowledge meliputi Bahasa Inggris, Matematika, IPA, dan IPS yang terpadu menjadi satu, tes Essay, dilanjutkan dengan Psikotes dan sesi wawancara. Sepertinya tes yang padat hari itu akan selesai sore hari.
Elisa membuka kotak pensil hendak meraut pensilnya, siapa tahu akan digunakannya nanti. Tapi setelah dicari-cari, ternyata ia lupa membawa rautan. Ia pun menoleh ke arah siswa lain di kanan dan kirinya, dan memutuskan untuk meminjam rautan kepada siswa laki-laki yang duduk di sebelah kirinya.
"Mmm... Maaf, boleh pinjam rautan pensil nggak?" tanya Elisa dengan hati-hati karena mereka belum kenal, ia takut mengganggu.
Anak laki-laki itu tidak menjawab tapi tangannya langsung mengambil rautan di kotak pensilnya dan memberikannya pada Elisa. Elisa berniat mengucapkan terima kasih namun anak itu buru-buru membaca bukunya lagi. Ekspresi yang diperlihatkan wajahnya seolah seperti merasa terganggu.
Ya ampun, ketus amat, batin Elisa. Ekspresi wajahnya sedikit terkejut dan heran.
Elisa berpikir anak-anak yang ada di sana memiliki jiwa kompetitif yang tinggi, membuatnya serasa sedang mengikuti Olimpiade. Tapi ia sendiri, meskipun merasa gugup, berniat tetap optimis sambil berpasrah diri apapun hasilnya nanti.
Saat sedang meraut pensil di mejanya, seorang gadis dengan seragam putih abu-abunya memasuki ruangan. Elisa memperhatikan langkahnya yang percaya diri itu. Mata mereka saling berpandangan. Gadis itu pun tersenyum dan disambut oleh senyuman Elisa.
Tunggu. Elisa seperti mengenal gadis itu! Elisa mencoba mengingatnya... Ternyata gadis itu adalah saingan terberatnya saat mengikuti lomba Cerdas Cermat antar sekolah tingkat Provinsi tahun lalu! Sepertinya persaingan untuk memasuki SMA Akasia akan terasa sangat sengit.