Suasana lapangan basket SMA Angakasa Jaya kian memanas walau cuaca tampak mendung. Permainan basket antar kubu terlihat begitu seru hingga memancing setiap siswa untuk menonton. Kebanyakan dari mereka didominasi oleh penonton siswi yang terlihat begitu antusias. Bukan karena permainan basket, melainkan karena kehadiran seorang Gavin Immanuel.
Gavin mendrible bola dengan lincah, menghindari setiap musuh yang menghadang. Beberapa dari mereka bahkan terpeleset karena gerakan tipuan yang dibuat oleh Gavin. Tentu saja hal tersebut membuat lapangan semakin berisik dengan teriakan para siswi. Gavin terus menerobos lalu melakukan lay up sehingga berhasil mencetak skor. Dengan begitu pertandingan telah usai diakhiri dengan kemenangan Gavin dan sorakan dari para siswi.
"Fans-fans lo kebanyakan bacot teriak mulu." Kata Arya sebal. Jika saja tadi tidak begitu berisik, ia yakin dapat merebut bola dari tangan Gavin.
"Halah, itu cuma lo aja yang emang cupu. Kalau kalah terima aja." Ucap Gavin dengan gaya percaya diri, sebelum berbalik pergi meninggalkan Arya yang masih bersungut-sungut.
Gavin berjalan menuju taman yang tak jauh dari lapangan. Berbagai sapaan dari para siswi ia dapatkan selama perjalanan. Beberapa dari mereka bahkan menawarkan minuman dingin dan handuk, namun Gavin menolaknya halus sambil tersenyum ramah. Bukan karena dia tidak mau, tapi ia hanya tak terbiasa. Lebih tepatnya ia lebih nyaman bila yang melakukan itu adalah sahabatnya.
Ketika ia sampai, ekor matanya menangkap seorang gadis yang duduk sendirian. Ia terlihat sibuk mengerjakan sesuatu, sehingga membuat kacamatanya melorot karena terlalu lama menunduk. Gavin berjalan cepat dan menggebrak meja yang dipakai oleh gadis tersebut.
"Setan emang !" Umpat Amar sambil menjambak rambut Gavin. Tapi buru-buru ia lepas ketika merasakan kalau rambut cowok itu basah karena keringat.
"Jijik, tangan gue jadi bau nih." Katanya sambil berjalan menuju keran air untuk mencuci tangannya. Sementara Gavin hanya tersenyum puas sambil bersandar dagu di bangku tersebut. Amar kembali masih dengan muka sebal, tangannya membuka goodie bag mini yang tergeletak di atas meja.
"Nih, emang ya kalau mau minta sesuatu kok pasti harus jail dulu. Ambil sendiri kek, gak usah pake acara gangguin gue gitu lo." Kata Amar sembari menyodorkan handuk kering ke arah Gavin.
"Makasih Amarku~" kata Gavin genit lalu menyambar handuk itu cepat lalu meraup wajahnya sembari menghirup dalam aromanya.
"Jangan ngendus-ngendus, nanti upil lo nempel di sana." Ucap Amar sembari menatap kelakuan abnormal sahabatnya itu.
Ada dua alasan kenapa Gavin suka dengan handuk milik Amar. Pertama, baunya wangi melebihi produk pengharum pakaian yang ada di iklan. Baunya wangi tapi bukan wangi pasaran, baunya khas sehingga Gavin suka itu. Kedua, ini merupakan handuk khusus yang disediakan oleh Amar untuk Gavin. Jadi pokoknya Gavin cuma mau handuk dari Amar sehabis latihan atau tanding basket.
"Minumnya mana ?" Tanya Gavin sembari menodongkan tangan ke arah Gavin.
"Gak ada, cari sendiri sana." Balasnya ketus sembari terus mengerjakan tugasnya. Tidak peduli kalau Gavin sekarang sedang menampilkan wajah melas.
"Gue haus lo mar." Ucap Gavin dengan nada nelangsa yang dibuat-buat.
"Minum dari keran sono, daritadi dibilangin gak punya minum. Tadi minum gue udah lo abisin duluan loh di kelas. Masih mau ngotot? Gue jitak juga nih lama-lama!" Omelnya dengan nada galak.
"Iya-iya, aduh duh duh galaknya." Goda Gavin sambil mengacak rambut Amar gemas.
Tentunya hal tersebut membuat Amar mendapat tatapan iri dari para siswi tadi. Mereka memang sahabat, namun kedekatan keduanyalah yang terlihat 'lebih' membuat para cewek itu sebal. Amar sendiri cuek dengan itu, sebab ia memang sudah kenal Gavin dari lama. Bahkan mereka sudah bersama sejak sedari taman kanak-kanak. Jadi bukan salah Amar kalau Gavin nempel terus dengan dirinya.
"Woi hujan nih, buku-buku lo nyet basah semua tuh!" kata Gavin membuyarkan lamunan singkat Amar.Ia terlihat kuwalahan memunguti kertas dan buku catatannya. Tanpa basa-basi Gavin merebut semua barang Amar dan menggandengnya menuju koridor.
"Untung masih sempet." Kata Amar ketika rintik hujan itu mulai berubah menjadi hujan deras. Di koridor, beberapa siswi menyapa Gavin ramah, namun tidak dengan Amar. Hanya tatapan sinis yang ia dapat dari setiap siswi yang lewat.
"Gue putus lagi." Kata Gavin, memecah keheningan di sela suara hujan.
Amar menghela nafas bosan dengan kalimat yang baru saja didengarnya itu. Ini sudah pernyataan putus kesembilan kalinya dalam minggu pertama bulan Januari.Ia yakin kalau jumlah ini akan terus bertambah, mirip seperti grafik sensus penduduk yang terus membludak.
"Kenapa lagi emang ? " kata Amar berusaha prihatin pada sahabatnya itu. Gavin mendengus sembari menatap lurus ke arah lapangan yang mulai basah akibat rintik hujan.
"Bosen." katanya enteng. Amar hanya menatapnya malas dan kembali beralih pada tugasnya yang baru ia kerjakan separuh. Ia tak perlu lagi menanyakan kelanjutan cerita, sebab ia sudah tahu. Gavin seorang bad boy kelas kakap, ia tak segan-segan memutuskan pacar hanya karena sudah tak menarik lagi. Hingga Amar sendiri sudah tak tahu berapa lagi jumlah korban sahabatnya ini.
"Mar." panggil Gavin membuatnya kembali menoleh sembari menaikkan kedua alisnya. Cowok itu menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Wajahnya mengahadap ke arah Amar. Ia menatap Amar yang menunggu jawaban dengan ekspresinya yang datar.
"Gue mau vakum pacaran dulu deh kayaknya." Katanya lalu mengalihkan pandang kembali ke arah depan.
"Lah kok tiba-tiba, kesambet apaan lo ?" Tanya Amar penuh selidik.
"Gak tau tiba-tiba lagi pengen gak pacaran dulu aja." Katanya pasti. Amar tersenyum tipis, sedikit senang dengan keputusan sahabatnya barusan. Suara notifikasi dari ponsel Gavin kembali membuyarkan keheningan. Suaranya bertubrukan saking banyaknya notifikasi yang masuk.
"Siapa njir, nyepam kok keterlaluan." Kata Amar tidak suka. Ketika ia melihat Gavin senyum-senyum sendiri, Amar segera kembali memasang wajah datarnya.
"Diajak jalan lagi ?" Gavin mengangguk riang sebagai jawaban. Tanpa basa-basi Amar memukul kepala Gavin dengan buku paket tebal yang ada di tanganya.
'BUGH'
"ANJIR ! lo kenapa nyet?! Sakit b**o!" Katanya sambil mengelus bekas timpukan di kepalanya.Amar hanya menatapnya datar lalu pergi ke kelas. Meninggalkan Gavin yang masih menatapnya bingung.
"Dasar gak konsisten! " Kata Amar yang masih bisa didengar oleh Gavin. Cowok itu tersenyum dan segera menghampiri sahabatnya. Jarak di antara mereka belum terlalu jauh, hingga mudah bagi Gavin untuk menyusul langkah Amar.
"Yeee jangan marah dong, ntar bantuin lagi ya kayak biasa." Pinta Gavin sambil menaik-turunkan alisnya dan menampilkan senyum jahil.
"Ogah!" Balas Amar ketus.
"Ntar gue beliin coklat deh." Tawar Gavin
"Gak" Ucap Amar mutlak.
"Monyet emang, jangan cepet-cepet gitu dong jalannya." Ucap Gavin, walau sebenarnya tak menjadi masalah baginya untuk mengimbangi langkah Amar.
"Bodo amat! Pokoknya gue gak mau bantuin seorang play boy lagi. Gue lelah, hayati capek!" Katanya lalu berlari meninggalkan Gavin.
"Loh setan emang, jangan lari!" Katanya dengan senyum mengembang dan mengejar Amar.