Suasana ruang rapat Fakultas Ekonomi terasa cukup ramai pada pagi hari itu.
Bunga mawar merah yang diletakkan di atas meja panjang memberikan sentuhan hangat pada ruangan yang biasanya hanya diisi dengan tumpukan buku dan dokumen.
Hari ini adalah hari pertama persiapan acara kerja sama tahunan antara Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi dengan Fakultas Hukum jurusan Hukum Pidana, sebuah acara yang sudah menjadi tradisi selama lima tahun terakhir untuk mempererat hubungan antara kedua fakultas.
Viona, mahasiswi semester empat yang dikenal dengan ketelitiannya dalam mengelola angka dan anggaran, duduk di sudut ruangan dengan buku catatan tebal di depan nya.
Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi dengan jepit rambut berwarna biru muda, sesuai dengan warna seragam mahasiswa ekonomi.
Ia sedang mencatat setiap detail anggaran yang diperlukan untuk acara,mulai dari biaya penyewaan tempat hingga pengeluaran untuk makanan dan dekorasi.
Tangan nya bergerak cepat menuliskan angka-angka di buku catatan, sementara matanya fokus pada setiap baris perhitungan yang dibuat.
"Saya rasa anggaran untuk perlengkapan administrasi bisa ditekan sekitar lima persen jika kita menggunakan printer fakultas saja," ucap Viona dengan suara yang jelas namun lembut, ketika salah satu anggota divisi keuangan mengusulkan untuk menyewa jasa percetakan luar.
"Kita bisa menghemat anggaran itu untuk kebutuhan lain yang lebih penting, seperti buku panduan bagi peserta."
Anggota lainnya mengangguk dengan rasa hormat. Mereka sudah terbiasa dengan kemampuan Viona dalam mengelola anggaran dengan efisien tanpa mengorbankan kualitas.
Tiba-tiba, pintu ruangan dibuka perlahan dan seorang pria tinggi dengan wajah yang tegas memasuki ruangan.
Ia mengenakan kemeja putih bersih dengan dasi warna biru tua, dan rambut hitamnya yang rapi dipotong pendek.
Semua mata segera tertuju padanya, Julian Prasetyo, koordinator bidang hukum dari Fakultas Hukum yang dikenal tidak hanya karena kecerdasannya, namun juga karena sifatnya yang dingin dan sulit didekati oleh kaum hawa.
"Maaf saya terlambat," ucap Julian dengan suara yang rendah namun jelas.
Ia melihat sekeliling ruangan dengan pandangan yang tajam, hingga akhirnya matanya jatuh pada Viona yang sedang menatapnya dengan mata yang sedikit terpana. "Saya adalah Julian Prasetyo dari Fakultas Hukum, saya akan menangani bagian hukum dan peraturan dalam acara ini."
Ketua panitia segera berdiri dan memberikan sambutan hangat.
Setelah memperkenalkan diri secara singkat, Julian duduk di kursi yang disediakan di sebelah Viona.
Ia melihat buku catatan Viona yang penuh dengan angka dan catatan rapi, kemudian menoleh ke arahnya dengan pandangan yang sedikit lebih lembut.
"Anda adalah anggota divisi keuangan ya?" tanya Julian dengan nada yang lebih ramah dari biasanya. "Saya melihat catatan anggaran Anda sangat teratur dan rinci."
Viona merasa wajahnya sedikit memerah karena gugup. Ia mengangguk pelan sambil menjawab, "Ya, Kak Julian. Saya Viona, bertugas menyusun anggaran dan pengelolaan keuangan untuk acara ini."
Julian mengangguk dengan senyum tipis yang jarang muncul di wajahnya. "Sangat baik. Saya akan membutuhkan data anggaran Anda untuk menyusun bagian peraturan tentang penggunaan dana yang sesuai dengan aturan kampus. Bolehkah saya melihat catatan Anda?"
Tanpa menunggu jawaban, Viona dengan cepat menyerahkan buku catatannya.
Sementara Julian melihat setiap halaman dengan cermat, Viona bisa merasakan detak jantungnya semakin cepat.
Ia tidak bisa tidak terpikat dengan cara Julian bekerja, fokus, teliti, dan mampu menangkap setiap detail penting dengan cepat.
"Sangat bagus," ucap Julian setelah selesai melihat catatan. "Anda tidak hanya menghitung angka dengan benar, namun juga mempertimbangkan aspek hukum dalam setiap pengeluaran. Misalnya, Anda menyertakan biaya untuk izin acara dan dokumentasi yang sesuai dengan peraturan kampus, hal yang sering diabaikan oleh panitia sebelumnya."
Viona merasa hati nya menjadi hangat mendengar pujian dari Julian. Ia tidak menyangka bahwa seorang orang sukses seperti dia bisa memperhatikan detail kecil seperti itu.
Selama beberapa jam berikutnya, mereka bekerja sama menyusun proposal acara secara rinci.
Julian memberikan masukan tentang bagian hukum dan peraturan, sementara Viona menjelaskan setiap bagian anggaran dengan jelas.
Mereka saling melengkapi dengan baik, ketika Julian merasa bingung dengan beberapa perhitungan akuntansi, Viona menjelaskannya dengan cara yang mudah dimengerti.
Ketika Viona merasa ragu tentang beberapa aturan kampus, Julian menjelaskannya dengan rinci dan memberikan contoh kasus yang relevan.
Pada sore hari, proposal acara mereka disampaikan kepada dekan kedua fakultas.
Dalam waktu singkat, proposal tersebut disetujui dengan penuh pujian. Dekan Fakultas Ekonomi bahkan menyatakan bahwa proposal tahun ini adalah yang paling baik dan terstruktur dengan baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Kredit utama harus diberikan kepada Viona dan Julian," ucap dekan dengan senyum bangga. "Kerja sama antara kedua fakultas tidak pernah terlihat begitu baik seperti ini."
Setelah acara presentasi selesai, Julian mengajak Viona berjalan-jalan di taman belakang kampus untuk merenungkan hasil kerja mereka.
Udara sore yang sejuk menyegarkan hati, sementara sinar matahari yang mulai terbenam memberikan warna keemasan pada langit.
"Kita bekerja dengan sangat baik bersama," ucap Julian dengan suara yang lembut. Ia melihat Viona dengan pandangan yang berbeda dari biasanya, penuh dengan rasa hormat dan sesuatu yang belum bisa dijelaskan. "Saya sangat menghargai kerja sama kita hari ini. Anda adalah orang yang sangat cerdas dan teliti, Viona."
Viona tersenyum dengan rasa bangga. "Terima kasih, Kak Julian. Saya juga sangat menghargai masukan dan bantuannya. Tanpa Anda, saya yakin proposal tidak akan semulus ini."
Mereka berjalan berdampingan tanpa berkata apa-apa selama beberapa saat, menikmati keheningan dan keindahan taman kampus.
Kedekatan yang tumbuh di antara mereka terasa jelas, meskipun keduanya belum menyadari bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kerja sama teman kampus.
Ketika matahari mulai benar-benar terbenam, Julian berhenti dan melihat Viona dengan pandangan yang serius. "Kita akan bekerja sama lagi untuk persiapan acara berikutnya ya? Saya sangat menantikan kerja sama kita selanjutnya."
Viona mengangguk dengan senyum hangat. "Tentu saja, Kak Julian. Saya juga sangat menantikan nya."
Sebelum berpisah, Julian memberikan sebuah kartu nama dengan nomor kontaknya. "Jika ada sesuatu yang perlu dibahas atau Anda membutuhkan bantuan tentang bagian hukum, jangan sungkan untuk menghubungi saya ya."
Viona menerima kartu nama dengan hati-hati, merasakan bahwa ada sesuatu yang spesial dalam kerja sama mereka ini.
Meskipun keduanya belum menyadari perasaan cinta yang mulai tumbuh di hati masing-masing, mereka tahu bahwa kedekatan yang terbentuk hari ini akan menjadi dasar dari sesuatu yang berharga di masa depan.
"Kerja sama yang baik tidak hanya menghasilkan hasil yang optimal, namun juga bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih dalam, hubungan yang dibangun di atas rasa hormat dan penghargaan satu sama lain."