Melanglang buana jauh ke belakang. Sebuah kisah yang terjadi di antara kedua keluarga, para leluhur mereka. Sakit hati karena hubungan yang tak direstui serta pengkhianatan Putri Citra Lestari kepada Bagaskara Wijaya. Sakit hati yang dirasakan Bagaskara Wijaya, kelak akan mendatangkan kutukan bagi keluarga Raden Aji Suryodiningrat. Cerita ini melegenda di daerah pesisir utara jawa. Khususnya, desa troyomulyo. Sebuah kisah cinta seorang anak tuan tanah dan buruh lahannya yang tidak mendapat restu dari ayahnya ditambah lagi Raden Mas Suryo itu orangnya angkuh dan sombong hanya karena jabatannya lurah, sehingga ia memandang hina rakyatnya yang miskin.
“Tinggalkan pemuda b*****t itu! (bagaskara wijaya).”
“Tidak ayah! Tidak. Aku sangat mencintainya.”
“Kurang ajar!”
Sudah dua bulan Nyi Putri Citra Lestari, anak Panembahan Raden Suryo Hadiningrat menjalin hubungan dengan seorang lelaki gagah, baik dan bertanggungjawab bernama Bagaskara Wijaya. Belakangan, hubungan mereka baru diketahui oleh Raden Suryo dan mengundang kemarahan sang lurah.
Raden Suryo, adalah tokoh yang dihormati di desanya. Sebagai lurah dan tuan tanah, Raden Suryo sangat berkuasa bahkan sebagai adik ipar (raja) ia memiliki kekuasaan dan hak istimewa. Raden Suryo memiliki banyak istri dan selir. Namun, hal itulah yang menyebabkan ia mustahil menjadi seorang raja karena seorang raja haruslah menjadi contoh baik bagi rakyatnya.
***
Ambisi sang Raden Suryo juga yang menyebabkan dirinya terlalu serakah. Semua kebijakan yang ia buat seluruhnya hanya menguntungkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Namun, tidak ada satupun yang berani menentang kekuasaan sang raden.
“Hei, bagaskara. Jadi, bagaimana kemajuanmu dengan Putri si raden suryo?”
“Sugeng tindak, Pa le. Saya sedang berusaha se mampu saya. Karena tidaklah mampu bagi saya untuk memisahkan misi ini dengan perasaan saya.”
“Halah! Perasaan wong edyanmu! Ingat. Misimu menyusup dan memata-matai mereka serta menghancurkan mereka dari dalam.”
Terasa berat bagi Bagaskara Wijaya, pilhan antara martabat keluarga dan seluruh marga yang bergabung dalam aliansi perlawanan terhadap kedzaliman raden Suryo dan cintanya kepada Nyi Putri Citra. Namun, kali ini semua harapan dan tanggungjawab moral ada padanya
“Kok. Cuacanya dingin sekali ya Pak? Bapak cium gak wangi bunga melati yang memenuhi ruangan di dalam rumah kita Pak?,” kata Ibu Sarmila kepada suaminya.
“Ya. Bapak juga menciumnya. Selesai sholat maghrib mari kita baca yassin bersama. Beritahu Rinjani. Suruh dia bersiap-siap untuk sholat Maghrib berjamaah,” kata Pak Sarjito menyuruh istrinya untuk bersiap karena waktu maghrib sebentar lagi tiba sambil berlalu menuju kamar mandi.
“Apa ini karena malam ini malam menjelang kelahiran Rinjani, ya Pak?”
“Huuuust! Kamu itu. Ya, Mbo. Hati-hati kalau ngomong toh Bu. Bapak kasih nama Rinjani Melantrova Agape. Harapan Bapak kelak Rinjani tumbuh indah dan tegar sekuat karang. Ya sudah, suruh anakmu siap-siap sholat maghrib. Kamu juga,”
“Jani! Ayo siap-siap sholat berjamaah.”
“Iya, Bu”
Malam itu selesai menunaikan sholat Kami melanjutkan yasinan. Seperti kata bapak : “Rumah yang terbiasa dipenuhi Al-Quran ibarat taman yang dipenuhi bunga-bunga indah. Sebaliknya rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Quran akan terasa sama seperti rumah tua tak berpenghuni (terbengkalai, tua dimakan usia dan menjadi tempat bersarang jin dan makhluk halus lainnya). Setelah yasinan, Kami lanjut sholat isya, makan malam keluarga dan menutup malam dengan istirahat. Malam yang larut pun segera berganti dengan pagi.
Sinar surya perlahan menyingsing di ufuk timur. Membuka cakrawala baru, membawa harapan dan semangat baru bagi semua makhluk di bumi.
***
“Bu. Bapak berangkat ke sawah dulu ya”
“Iya. Semangat kerjanya ya Pak,” Ibu menyalami punggung tangan Bapak dan mendoakan keberkahan rezeki hari ini.
Hari itu. Langit tampak cerah, angin juga mendukung untuk memulai aktivitas persawahan. Siang itu, pukul 12.00 adzan pertanda masuk sholat dzuhur berkumandang. Seperti biasa, Bapak menanggalkan paculnya dan bergegas menuju mesjid yang terletak di seberang sawah
***
Beeeeeep! Bruuuuuk…
***
“Pak! Bapak! Ya Allah” jerit Ibu melihat kondisi Bapak.
“Keadaan Bapak saya gimana, dok?”
“Orangtua Anda baik-baik saja. Cuman pingsan, sebentar lagi beliau segera siuman”
“Lantas siapa yang telah menabrak Ayah saya dok? Dimana orangnya Saya ingin bertemu?
“Kebetulan si penabrak sedang menyelesaikan administrasi pembayaran.”
Akupun berjalan menuju bagian administrasi. Namun anehnya dokter laki-laki bernama Suryono itu memaksa untuk ikut bersamaku.
***
“Baik. Sebenarnya Pak Aryo tidak ada di ruang administrasi. Melainkan beliau ada di ruang kerja saya. Saya akan mengantarkan Anda bertemu dengan beliau. Tapi mohon tenang,” kata dokter Suryono seakan yang akan ku lakukan adalah kesalahan.
“Cukup! Sekarang dokter gak usah banyak bicara. Antarkan saja saya menemuinya”
Dokter Suryono pun mengantarku. Darahku sudah naik sampai ke ubun-ubun. Aku tidak terima perlakuan orang kaya sombong seperti Aryo. Untung saja ia bertanggungjawab.
“Anda Rio?,”
“Iya saya sendiri. Ada apa ya?”
Plaak!
“Ini balasan karena menabrak Ayah saya,”
“Lancang kamu ya perempuan kampung?! Syukur saja saya menolong Bapak Anda dan membanya ke rumah sakit milik Anda.”
“Saya mau Anda tanggungjawab sampai Ayah saya pulih,” kataku menghardiknya.
“Oke… santai saja saya akan bertanggungjawab”
“Saya akan mengambil ini agar Anda tidak lari,” kataku sambil merebut kunci mobil darinya.
“Hei! Kamu gila ya? Balikin kunci mobil saya gak”
Aku tidak menggubrisnya dan langsung kembali ke kamar Bapak. Namun setelah dibujuk sekian lama akupun menggembalikan kunci mobil lelaki b******k itu dan ia pun bisa pulang ke rumah sore itu. Sebelum pulang, lelaki itu memberikan pesan ke perawat agar memberitahuku kalau Ia akan kembali besok pagi mengunjungi Bapak.
“Lelaki b******k itu mau menjengguk Bapak?,” tanyaku heran dalam hati.
***
Part Aryo :
“Rio. Kamu sudah dapat perempuan yang akan dijadikan tumbal buat Mbah Bara? (Gundeh Bara. Jin ifrit peliharaan keluarga Aryo),” tanya Ibu Sukma. Ibu Aryo.
“Iya Bu. Baik saya akan mencarinya segera,”
“Ingat, Yo. Kamu harus mencari pengantin suci yang belum tersentuh oleh lelaki manapun dan kamu harus menikahinya dan hidup berumah tangga normal sama seperti rumah tangga-rumah tangga lainnya. Ini tumbal kita yang 23. Berarti kamu sudah menikah sebanyak 22 kali. Pesugihan ini adalah warisan Bapakmu dan menjadi kutukan buat keluarga kita dan kau yang harus melanjutkannya sebagai putra tertua Raden Aji Saka Suryo Notonegoro.”
Malam menghampiri, menyimpan tabir misteri di kegelapan malam. Malam ini sudah saatnya untuk Aryo kembali melakukan ritual tapa ancara dhinikah untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami Nyai Roro Anteng. Siluman penduduk kerajaan pantai selatan itu memang rajin datang setiap malam menemui suaminya dan selama seminggu sekali mereka melakukan hubungan suami-istri.
Malam semakin larut
“Malam ini kau akan memuaskanku dan akan kuberikan semua yang kau minta”
Malam jahannam di bawah hamparan miliyaran bintang di langit menjadi saksi hinanya seorang anak manusia menjadi pelayan jin demi harta dan kekuasaan. Petir menggelegar bersahut-sahutan. Suara rintihan anjing terdengar bagai melodi syahdu di dalam gelapnya malam. Kedua pasangan terlarang itupun, menghabiskan malam jahannam mereka.
~ Bagian 2. Part 3 ~
Tumpukan keping emas sudah terhambur di lantai ruang tamu rumah utama. Ritual pesugihan itu memang tak pernah mengecewakan keluarga Raden Aji Saka Suryo Notonegoro.
“Huwahahahahahha …. huwahahahahaha … Jin betina itu memang tak pernah ingkar janji. Ia selalu membayar lebih pada kita. Setelah berkencan denganmu, adikmu juga si Mega dapat bayaran tinggi tadi subuh dari jin yang menidurinya.
Di part ini bercerita tentang Jedar. Salah satu leluhur keluarga Rinjani yang terkena kutukan Bahulaweyan. Kutukan itu baru berakhir setelah ratusan tahun lamanya oleh generasi ke-33 keluarga mereka
Sepekan berlalu, momen yang sangat aku nanti akhirnya datang juga. Si Mbok dan Bapak sudah rapi mengenakan baju batik lusuh kesayangan mereka. Sedangkan aku tampak cantik menggunakan terusan panjang berwarna merah muda. Para tetangga pun sudah banyak yang berdatangan ingin menyaksikan pernikahan perawan tua ini.
Bibir ini menyungging, tersenyum sinis menatap satu per satu para tetangga yang dulu sangat terang-terangan mencibirku. Lihatlah, kalian akan terpana begitu melihat calon suamiku yang teramat tampan itu.
SIHIR KELUARGA RINJANI
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam, waktu yang diminta oleh Ki Angklik dan benar saja, tidak lama sebuah rombongan datang dengan obor yang mereka pegang. Kami menyambut mereka dengan senyuman yang tidak berhenti mengembang.
"Apa yang Aku minta kemarin sudah kau siapkan?" tanya Ki Angklik begitu duduk pada tanah yang beralaskan tikar.
"Mbok, apa sudah siap semua yang Mayang minta?" tanyaku pada Si Mbok
Terburu Si Mbok masuk ke dalam kamar, kemudian keluar lagi dengan satu nampan besar berisikan berbagai macam hal yang diminta Ki Angklik.
Bisik-bisik para tetangga mulai terdengar, menatap heran ke arah kami. Aku gugup, takut jika mereka tahu bahwa rombongan yang datang untuk melamarku adalah Ki Angklik dari hutan larangan yang sangat terkenal ceritanya di Desa Goangan ini. Meskipun aku tahu mereka belum pernah melihat secara langsung dan tidak sepenuhnya percaya pada kabar yang beredar, hati ini tetap diliputi rasa was-was.
"Ini untuk menangkal sihir yang seseorang kirim untuk menantuku, Nak Mayang." Ki Angklik tiba-tiba berucap tanpa melepas pandang dari ayam jantan berwarna hitam di hadapan.
"Kalian tahu kan, bahwa tidak ada seorang pemuda pun yang datang untuk melamar Mayang? Itu karena pengaruh sihir yang di kirimkan oleh seseorang. Entah dengan alasan apa, aku tidak tahu."
Serentak mereka semua terdiam disusul anggukan dari satu dua orang hingga semua kompak mengangguk. Aku tersenyum membalas tatapan Ki Angklik.
Kemudian disembelihnya ayam tersebut, darah yang menetes ditampung pada kendi kecil yang Ki Angklik keluarkan dari sakunya.
Aroma dupa yang menguar serta kilatan petir yang saling menyambar membuat mereka bahkan aku sendiri merasa takut.
Ki Angklik meminta satu buah cangkir kecil. Setelah Si Mbok mengambilkan, darah ayam yang sudah dimasukkan dalam kedi kecil tadi di tuangnya ke cangkir.
Aku melihat Ki Angklik berkomat-kamit seakan membacakan suatu mantra yang entah apa itu isinya. Aku pun yang penasaran terus memperhatikan bibirnya yang gelap dan kering. Akan tetapi, sekeras apa pun aku berusaha, diri ini tidak bisa membaca sedikit pun gerakan bibir dari Ki Angklik.
Disodorkan cangkir yang sudah dimantrai tersebut padaku.
"Minumlah, ini untuk menghilangkan sihir yang mengganggu jalan jodohmu, Mayang."
Tiba-tiba hawa dingin menusuk menembus tulang, serentak membuat kami mengelus-elus badan sendiri.
Setelah ritual yang cukup menegangkan dan menyiksa batin tersebut, acara pernikahanku dengan Damar selesai. Kini para tamu sedang menyantap hidangan yang sudah kami sediakan, meskipun sederhana.
Rasa senang yang membuncah tak mampu aku sembunyikan, senyum tak henti-hentinya kuulas. Tidak jarang aku mencuri pandang pada lelaki yang kini sudah menjadi suamiku. Tatapan mata itu tidak pernah berubah dari awal bersua, masih dingin dan kosong.
Namun, ada yang berbeda dari Damar serta rombongan yang datang bersamanya. Wajah mereka lebih bercahaya tidak pucat seperti biasanya. Mereka pun tampak tidak kesusahan bercanda ria bersama para warga Goangan. Padahal seingatku, sepekan yang lalu, mereka tampak acuh tak acuh dengan kedatanganku.
Pukul sepuluh malam, Ki Angklik dan para rombongan meminta ijin untuk pulang karena hari sudah kian larut. Mereka saling bersalaman berpamitan pada para tetanggaku.
"Jangan lupa saat malam pertama, kau harus mandi kembang tujuh rupa. Layani Damar dengan semestinya, karena sejatinya ia tetap lelaki, juga suamimu," Bisik Ki Angklik di telingaku saat bersalaman. Aku hanya mengangguk membalasnya.
Aku dan Si Mbok merapikan piring serta gelas yang tergeletak di tikar. Aku melihat Si Mbok tak hentinya tersenyum,
(Mungkinkah dia bahagia?) Mengingat anak semata wayangnya sudah menikah