Aroma Cytrus itu masih menggantung di antara barisan gondola ketika Wibi berpamitan. Ranti hanya bisa mengangguk, sembari mengulas senyuman yang terlalu lebar untuk ia sembunyikan.
“Saya kembali ke laboratorium dulu, Ran. Jangan melamun,” ucap Wibi singkat seperti biasanya.
“Iya, Kak!” Ranti menjawab dengan semangat yang berlebihan.
Wibi melangkah menjauh, menyusuri koridor rak buku yang membentang panjang. Ranti masih memandangi punggung berjaket jeans biru itu, hingga bayangannya berbelok di ujung gondola dan tidak terlihat lagi. Ranti menunduk, lalu menepuk kedua pipinya yang terasa menghangat.
‘Astaga ... Ranti! Baru kenal saja sudah senyum-senyum sendiri seperti orang yang kurang waras,' ujar Ranti dalam hatinya sembari terkekeh pelan.
Ranti kembali menghadap rak buku. Ia mengingat tujuan awalnya datang ke perpustakaan pagi ini. Buku Kalkulus dasar. Jari telunjuk Ranti menyusuri punggung buku satu per satu, membaca kode perpustakaan yang tertempel di sana. Rasa takut yang tadi sempat mencengkeram dadanya kini berganti menjadi perasaan ringan yang aneh. Seolah tidak pernah ada mahasiswi berambut panjang yang mematung di ujung koridor itu.
“Nah! Ini dia,” Ranti bergumam pelan ketika matanya menangkap judul buku yang sedari tadi ia cari.
Sayangnya buku itu berada di rak paling atas. Ranti menjinjit, menengadahkan kepalanya, lalu mengulurkan tangannya. Ujung jarinya hanya mampu menyentuh sisi bawah buku itu. Ranti menghela napas, kemudian menoleh ke arah sudut ruangan tempat tangga perpustakaan biasa disandarkan.
“Aaaarrrgghhh!!!”
Jeritan itu memecah kesunyian perpustakaan. Suara perempuan, panjang, melengking, dan terdengar sangat dekat. Ranti tersentak hingga tumitnya kembali menapak lantai. Jantungnya berdegup kencang.
“As—astaga! Siapa itu?” Ranti spontan menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ranti mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Beberapa mahasiswa masih duduk di meja baca yang berjajar dekat jendela. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengangkat kepala. Tidak ada yang terkejut. Tidak ada yang menoleh. Mereka semua menunduk pada buku masing-masing, diam, seolah jeritan tadi tidak pernah ada.
‘Kenapa nggak ada yang dengar? Sekencang itu, loh! Masa Cuma aku yang dengar?' Ranti berbicara dalam hatinya.
Ranti menelan ludahnya yang terasa pahit. Perlahan ia melangkah keluar dari koridor rak buku, mencari dari arah mana jeritan itu datang. Semakin Ranti melangkah, semakin ia merasa udara di ruangan itu berubah. Dingin AC yang tadinya wajar, kini terasa menusuk hingga ke tulang. Cahaya lampu perpustakaan meredup seperti listrik yang kekurangan daya.
“Pak Asep?” Ranti memanggil pegawai perpustakaan itu.
Tidak ada jawaban. Meja Pak Asep yang seharusnya terlihat dari ujung koridor, kini justru terhalang oleh barisan gondola yang seakan bertambah panjang. Ranti mengerjapkan matanya berkali-kali. Koridor rak buku di hadapannya membentang seperti labirin tanpa ujung.
‘Ini ... perpustakaan yang tadi, kan? Kenapa jadi sepanjang ini? Ya Tuhan ....' Ranti berbicara dalam hatinya. Napasnya mulai memburu.
Hhhssssssss ... haaaaaa ...
Bisikan itu kembali terdengar tepat di belakang telinga Ranti. Bulu kuduknya meremang seketika. Ranti menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ia menggelengkan kepalanya dan mulai membaca istigfar seperti yang selalu diajarkan sang ayah.
“Astagfirullah ... astagfirullah ....” Ranti berucap lirih dengan suara bergetar.
Jeritan panjang itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat, seolah menempel di tengkuk Ranti. Ranti memberanikan diri membuka matanya dan menoleh ke belakang. Sesuatu yang berat menekan kedua bahunya. Kakinya seakan terpaku di lantai. Pandangan Ranti menyempit. Warna-warna di sekelilingnya luntur satu per satu hingga menyisakan gelap.
Bruk!
Semuanya menjadi hitam.
***
“Dek? Dek! Bangun, Dek!”
Ranti merasakan tepukan pelan di pipinya. Aroma minyak kayu putih menyeruak masuk ke dalam hidungnya, memaksa Ranti untuk membuka mata. Silau. Ranti mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bisa melihat dengan jelas.
Ranti berbaring di lantai perpustakaan, dengan sebuah tas ransel yang dijadikan bantal untuk kepalanya. Tiga orang mahasiswa berjongkok mengelilinginya. Seorang mahasiswi sedang memegang pergelangan tangan Ranti sembari melihat jam tangannya sendiri.
“Alhamdulillah, sadar juga,” ucap mahasiswi itu sambil menghela napas lega.
“Sa—saya ... kenapa?” Suara Ranti terdengar serak.
“Kamu pingsan, Dek. Untung nggak kebentur rak. Nadi kamu tadi cepat sekali.” Mahasiswi itu tersenyum ramah. Wajahnya bersih, rambutnya diikat rapi ke belakang.
“Ka—kakak siapa?” Ranti mencoba bangun, tetapi kepalanya masih terasa berputar.
“Pelan-pelan! Jangan buru-buru duduk!” Mahasiswi itu menahan bahu Ranti. “Namaku Dewi, kedokteran angkatan atas. Ini Rangga sama Zaki, satu kelompok belajar sama aku.”
“Kami lagi cari jurnal di rak sebelah, terus dengar ada yang jatuh,” timpal mahasiswa yang bertubuh tinggi. Rangga menyodorkan botol air mineral yang sudah dibuka tutupnya.
“Diminum dulu, Dek,” ucap Zaki singkat.
Ranti menerima botol itu dengan tangan yang masih gemetar. Ia meneguknya perlahan. Air itu terasa seperti menyalakan kembali kesadaran Ranti yang sempat padam.
“Kak, tadi ... tadi ada yang berteriak, kan? Ada perempuan berteriak keras sekali di dalam sini.” Ranti menatap Dewi dengan mata yang berkaca-kaca.
Dewi saling menatap dengan Rangga dan Zaki. Ketiganya terdiam sesaat. Ranti bisa melihat dengan jelas bahwa mereka bertiga saling memberi kode lewat tatapan mata.
“Nggak ada yang teriak, Dek,” jawab Dewi dengan hati-hati. “Yang teriak tadi ya kamu. Cuma sekali, terus langsung ambruk.”
“Ha? Tap—tapi ....” Ranti terperangah. Kalimat Dewi seperti menuangkan air es ke dalam dadanya.
“Pak Asep juga bilang nggak ada apa-apa. Kamu berdiri lama sekali di depan rak itu. Katanya sih dari tadi kamu diam saja, seperti orang yang sedang berpikir.” Rangga menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal.
‘Berdiri lama? Diam saja? Padahal aku merasa berjalan jauh sekali di koridor itu,' Ranti berbicara dalam hatinya. Ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan dirinya sendiri.
Dewi membantu Ranti untuk duduk bersandar pada sisi rak. Mahasiswi kedokteran itu menatap Ranti cukup lama, seolah sedang menimbang kalimat yang akan ia ucapkan.
“Dek, kamu mahasiswa baru, ya?” tanya Dewi.
“Iya, Kak. MIPA, jurusan Matematika. Nama saya Ranti.”
“Ranti ... aku nggak mau menakut-nakuti kamu. Tapi ada satu hal yang harus kamu pegang selama kuliah di sini.” Dewi menurunkan suaranya hingga hanya terdengar oleh mereka berempat. “Jangan melamun. Di mana pun. Apa lagi kalau kamu sedang sendirian.”
Ranti terdiam. Kalimat itu sudah ia dengar dari ibunya, dari Yuda, dari Nur, dari Farah, bahkan dari mahasiswa tampan beraroma Cytrus yang baru saja ia kenal beberapa menit yang lalu. Kini kalimat yang sama keluar dari mulut kakak tingkat yang belum pernah ia temui sebelumnya.
“Kenapa semua orang di kampus ini mengatakan hal yang sama, Kak?” Ranti memberanikan diri untuk bertanya.
“Nanti kamu juga tahu sendiri.” Dewi mengulas senyuman yang tidak sampai ke matanya. “Yang penting pikiran kamu jangan sampai kosong. Kalau kamu merasa ada yang aneh, cari orang. Jangan diam sendirian.”
“I—iya, Kak. Terima kasih banyak, ya! Maaf sudah merepotkan Kakak bertiga.” Ranti membungkukkan bahunya.
“Sama-sama. Kalau pusingnya nggak hilang, ke klinik kampus, ya!” Dewi berdiri, diikuti Rangga dan Zaki yang mengambil tas ransel mereka.
Ranti mengangguk. Ia memandangi punggung ketiga kakak tingkat itu yang berjalan menjauh di antara barisan gondola. Perlahan Ranti bangkit sembari berpegangan pada sisi rak. Kepalanya masih terasa ringan, tetapi ia sudah bisa berdiri.
Perpustakaan sudah kembali seperti semula. Terang, sejuk, dengan beberapa mahasiswa yang lalu-lalang membawa buku. Tidak ada koridor yang memanjang. Tidak ada bisikan. Ranti sempat menoleh ke arah rak paling atas tempat buku Kalkulus itu berada. Namun kepalanya yang masih berdenyut membuat Ranti mengurungkan niatnya.
Ranti keluar dari perpustakaan setelah mengambil tas ranselnya di loker. Cahaya matahari yang menembus lorong kampus terasa sangat terang. Ranti menyadari kalau jadwal kuliah siangnya pasti sudah berjalan tanpa dirinya. Perutnya pun berbunyi meminta haknya.
“Ya sudah, ke kantin saja,” ucap Ranti pada dirinya sendiri.
Ranti berjalan menyusuri lorong menuju lobi belakang kampus. Angin berembus kencang dari arah jendela kaca raksasa itu, menyibak anak rambut yang lepas dari ikatannya. Bersama desir angin itu, aroma Cytrus kembali menguar.
Langkah Ranti terhenti. Pintu di sebelah jendela kaca besar itu terbuka lebar. Pintu yang selama ini selalu Ranti lihat dalam keadaan tertutup rapat. Dari balik kaca, di bawah sana, Ranti melihat sosok berjaket jeans biru yang sedang berdiri di depan pintu laboratorium.
‘Kak Wibi?' Ranti berbicara dalam hatinya. Senyumnya mengembang tanpa bisa ia tahan.
Tanpa berpikir panjang, Ranti melangkah melewati pintu yang terbuka itu. Ia menuruni anak tangga satu per satu menuju laboratorium bawah. Rasa pusing, rasa takut, bahkan buku Kalkulus yang belum sempat ia pinjam, semuanya menguap begitu saja dari kepala Ranti.
***
Ranti tidak menyadari satu hal. Pintu di sebelah jendela kaca raksasa itu tidak pernah terbuka untuk siapa pun. Namun siang itu, pintu tersebut seolah sengaja dibuka untuk menyambut langkah kaki Ranti menuju laboratorium bawah.