Kantin kampus yang tadinya riuh oleh suara sendok beradu dengan piring, seolah kehilangan seluruh suaranya dalam sekejap. Ranti, Farah, Alex, dan Yuda hanya bisa mematung menatap Nur yang menunduk dengan rambut menutupi seluruh wajahnya.
“Nur?” Ranti memberanikan diri memanggil sahabatnya itu sekali lagi.
Nur tidak menjawab. Kepalanya justru bergerak perlahan ke samping kanan, seperti seseorang yang sedang mengamati sesuatu di kejauhan. Farah mencengkeram lengan Alex dengan sangat erat. Yuda spontan menggeser kursinya hingga merapat ke arah Ranti.
“Ran! Jangan ditanya-tanya!” bisik Yuda pelan.
Namun Ranti justru mengikuti arah kepala Nur. Tatapan Ranti mengedar ke sudut kantin, ke arah pintu belakang yang menghubungkan kantin dengan halaman gedung kedokteran. Di sana, di bawah pohon yang tumbuh rindang, berdiri seorang perempuan.
Perempuan itu tinggi semampai. Rambutnya panjang, hitam, menjuntai jauh melewati pinggangnya. Ia mengenakan gaun berwarna merah yang panjang hingga menutupi kakinya. Kepalanya menunduk. Ia tidak bergerak sama sekali, tidak juga terlihat bernapas. Padahal angin siang itu berembus cukup kencang hingga menggoyangkan dahan pohon di atasnya. Rambut dan gaun perempuan itu sama sekali tidak bergerak.
‘Si—siapa itu? Kenapa dia berdiri di situ? Mahasiswi mana yang pakai gaun merah panjang ke kampus?' Ranti berbicara dalam hatinya. Bulu kuduknya meremang hingga ke pangkal lengan.
Ranti mengerjapkan matanya sekali. Hanya sekali. Perempuan bergaun merah itu sudah tidak ada di bawah pohon. Yang tersisa hanya bangku kosong dan beberapa mahasiswa yang lewat sambil tertawa tanpa merasakan apa pun.
“Astaghfirullah!” Ranti memekik pelan sembari menutup mulutnya sendiri.
“Ran! Kamu kenapa?” Yuda langsung menoleh dengan panik.
“Nggak ... nggak apa-apa, Yud.” Ranti menggeleng cepat. Entah kenapa, hatinya melarang dirinya untuk menceritakan hal itu.
“Eh ... kalian kenapa pada diam gitu?”
Suara Nur membuat mereka berempat tersentak. Gadis itu sudah mengangkat kepalanya. Rambutnya ia sibakkan ke belakang telinga. Wajahnya kembali normal, bahkan ia sedang menyedot es tehnya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
“Nur! Kamu tadi ngomong apa?” Farah bertanya dengan suara yang bergetar.
“Ngomong apa? Perasaan aku dari tadi minum,” jawab Nur sambil mengernyitkan dahinya.
“Kamu tadi bilang, dia ada di sini!” Alex mengulang kalimat itu dengan wajah datar. Cowok basket bertubuh tinggi itu berusaha terlihat tenang, walau kakinya bergoyang-goyang di bawah meja.
“Ha? Aku bilang gitu?” Nur terlihat benar-benar tidak mengerti. “Wes, ojo digagas! Aku ora ngerti opo-opo!”
(“Sudah, jangan dipikirkan! Aku tidak tahu apa-apa!”)
“Nah, kan! Kamu ngomong Jawa lagi kalau lagi aneh!” Farah semakin ketakutan hingga hampir menangis.
“Udah! Udah! Bubar aja, yuk! Nggak enak juga ngomongin begituan di kantin,” Alex berdiri sambil merapikan tasnya. “Aku nganter Farah dulu ke kosnya. Kasihan, mukanya udah kayak kertas.”
“Idih! Sok jagoan!” Farah mencubit lengan Alex, walau tangannya sendiri masih gemetar.
Mereka berlima keluar dari kantin. Ranti sempat menoleh sekali lagi ke arah pohon rindang di halaman belakang itu. Tidak ada apa pun di sana. Hanya bangku kosong dan daun-daun kering yang berserakan.
***
Alex dan Farah berpisah lebih dulu di gerbang samping. Nur pun berpamitan karena katanya ia harus mampir ke fotokopian. Tinggallah Ranti berjalan berdua bersama Yuda menyusuri trotoar menuju rumah kos.
“Ran, sore ini Kakakku datang dari desa. Dia mau nganterin motorku ke sini,” ucap Yuda memecah kesunyian.
“Wah, syukurlah! Jadi kamu nggak capek jalan kaki terus,” Ranti mengulas senyum.
“Bukan buat aku doang, Ran. Jadi kalau kamu mau ke mana-mana, tinggal bilang aku. Jangan jalan sendirian, apa lagi kalau sudah petang.” Yuda menatap Ranti dengan serius.
“Yud ....” Ranti menghela napas panjang.
“Aku serius, Ran! Kejadian tadi di tangga itu bikin aku nggak bisa tenang.”
“Iya, iya! Cerewet banget, sih!” Ranti tertawa kecil untuk mencairkan suasana, walau di dalam hatinya, bayangan perempuan bergaun merah itu masih menempel dan tidak mau pergi.
Sesampainya di depan rumah kos, Ranti berpamitan. Yuda menunggu hingga Ranti masuk ke halaman kos, baru kemudian ia melanjutkan langkahnya.
***
Sore itu Ranti duduk bersila di atas kasurnya. Buku tulis dan lembar tugas Kalkulus dasar sudah terbuka di hadapannya. Namun sudah hampir satu jam, tidak satu nomor pun yang berhasil ia kerjakan.
“Astaga! Bukunya!” Ranti menepuk jidatnya dengan keras.
Baru saat itu Ranti tersadar bahwa buku referensi yang seharusnya ia pinjam tadi pagi, masih tergeletak manis di rak paling atas perpustakaan kampus. Kejadian aneh yang bertubi-tubi sejak pagi membuat Ranti benar-benar melupakan tujuan awalnya ke perpustakaan.
Ranti mencoba mencari materi yang sama lewat ponselnya. Beberapa artikel ia baca, tetapi tidak ada satu pun yang menjelaskan dengan runtut seperti buku yang ia butuhkan. Ranti melempar ponselnya ke atas bantal karena kesal.
Azan magrib berkumandang dari musala di ujung gang. Ranti bergegas mengambil air wudu, lalu menunaikan salat. Seusai salat, Ranti duduk cukup lama di atas sajadahnya. Ia teringat nasihat sang Kakek ketika Ranti masih kecil dan sering menangis karena melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
“Nduk, sing bening atine. Ojo wedi karo sing ora ketok, wedio karo sing gawe urip. Nek atimu kosong, sing ora ketok mau sing ngisi.”
(“Nak, yang jernih hatinya. Jangan takut pada yang tidak terlihat, takutlah pada yang memberi kehidupan. Kalau hatimu kosong, yang tidak terlihat itu yang mengisi.”)
Ranti menghela napas. Kalimat sang Kakek itu terasa berbeda maknanya sekarang, setelah semua yang ia alami hari ini. Ranti menatap lembar tugasnya sekali lagi. Batas pengumpulan tugas itu lusa. Ia tidak mungkin menundanya lebih lama.
“Perpustakaan buka sampai jam sembilan malam,” gumam Ranti pada dirinya sendiri.
Ranti melirik ponselnya. Ada satu pesan dari Yuda yang bertanya apakah Ranti sudah makan. Ranti mengetik balasan singkat, kemudian menaruh ponselnya kembali. Ia tidak menyebutkan rencananya sama sekali. Kalau Yuda tahu Ranti akan ke kampus malam ini, sudah pasti cowok itu akan mengomel panjang lebar dan melarangnya.
‘Maaf, ya, Yud. Sekali ini saja aku mau jalan sendiri,' ujar Ranti dalam hatinya.
Ranti mengganti bajunya dengan kemeja flanel, mengenakan celana jeans, lalu mengikat rambut panjangnya. Tas ransel hitam bercorak merah kembali bertengger di punggungnya. Ranti melangkah keluar dari rumah kos menembus dinginnya malam.
***
Jalanan menuju kampus tidak terlalu ramai. Beberapa lampu jalan berkedip-kedip seperti kehabisan daya. Ranti berjalan cepat sembari melafalkan zikir dalam hati. Sesekali ia merasa ada langkah lain yang menyertai langkahnya, tetapi Ranti memilih untuk tidak menoleh.
Sesampainya di lobi utama kampus, Ranti berpapasan dengan Pak Jono, satpam kampus yang sedang duduk di pos jaganya sambil menyeruput kopi.
“Malam, Pak. Saya mau ke perpustakaan,” Ranti menyapa dengan ramah.
“Malam-malam begini, De?” Pak Jono mengangkat alisnya.
“Iya, Pak. Ada tugas yang harus saya kerjakan besok.”
“Ya sudah, hati-hati. Jam sembilan perpustakaan tutup, ya! Jangan sampai kemalaman.” Pak Jono tersenyum ramah.
“Siap, Pak! Terima kasih.” Ranti membungkukkan badannya sedikit, kemudian melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Lorong kampus di malam hari terasa jauh lebih panjang daripada siang hari. Lampu-lampu yang menyala di sepanjang lorong hanya mampu menerangi setengah bagian saja, sehingga sisanya tenggelam dalam keremangan. Langkah sepatu Ranti bergema di sepanjang lorong itu, menciptakan suara ganda yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ranti menaruh tasnya di loker, kemudian memasuki perpustakaan menggunakan kartu mahasiswanya. Di dalam sana hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk terpencar di meja baca. Pak Asep tampak sedang menyusun buku kembalian di dekat mejanya.
“Malam, Pak Asep,” sapa Ranti.
“Eh, Kak Ranti. Sudah baikan?” Pak Asep menghentikan pekerjaannya sejenak.
“Sudah, Pak. Alhamdulillah. Maaf ya, Pak, tadi siang sudah merepotkan.”
“Nggak apa-apa. Tapi hati-hati, ya. Jangan berdiri lama-lama di lorong rak.” Pak Asep tersenyum, lalu kembali menyusun buku-bukunya.
Ranti melangkah menuju barisan gondola yang membentuk koridor panjang itu. Suasananya jauh lebih mencekam daripada siang tadi. Kesunyian seakan memiliki bobot yang menekan bahunya. Ranti berhenti tepat di depan rak tempat buku Kalkulus dasar itu berada. Buku itu masih ada di sana, di rak paling atas, seolah sengaja menunggunya.
Ranti menjinjit sekali lagi. Tetap saja tidak terjangkau.
“Huft ... harus ambil tangga lagi,” gumam Ranti.
Baru saja Ranti hendak melangkah, telinganya menangkap suara langkah kaki yang sangat pelan di belakang punggungnya. Langkah itu berhenti tepat ketika langkah Ranti berhenti. Udara di sekitar Ranti berubah dingin dalam sekejap.
Ranti menahan napasnya. Perlahan, sangat perlahan, Ranti memutar kepalanya untuk menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa. Koridor rak buku di belakangnya kosong melompong.
Ranti menghela napas lega. Ia kembali memutar tubuhnya menghadap ke depan, ke arah jendela kaca besar yang berdiri tepat di ujung koridor tempatnya berpijak.
***
Malam itu, Ranti masih belum memahami satu hal. Yang berbahaya bukanlah sesuatu yang berdiri di belakang punggung kita. Melainkan sesuatu yang sabar menunggu di depan mata kita.