Siang ini tak seperti biasanya, Rintik tak lagi berada di ruang jurnalistik, ruang yang sudah seperti tempat khusus bagi Rintik. Siang ini justru Rintik berada di perpustakaan, gadis yang selalu menjadi anak emas guru itu sedang duduk di bawah air conditioner dan membaca buku untuk referensi dalam membuat cerita. Beberapa bulan lagi Rintik memang ada projek menulis dengan teman-teman yang satu penerbitan dengannya, namun sampai saat ini ia belum mendapatkan hilal satu pun untuk dituangkan ke dalam bait-bait kata.
Seperti yang sudah kalian tahu tentunya, Rintik sangat meminimalisir keramaian, entah mengapa gadis itu tidak suka jika sedang berada di keramaian orang, ia akan sangat susah sekali fokus dan semuanya akan terasa sangat melelahkan bagi Rintik. Agaknya Rintik memang suka keheningan, oleh karena itu Rintik jauh lebih menyukai ruangannya yang ada di ruang jurnalistik daripada harus pergi ke kantin yang membuatnya merasa sumpek sekali.
"Rin, tadi dicariin Dava pas di kantin." Seorang gadis dengan kacamata bulat yang menghiasi wajahnya berbicara pada Rintik yang sedang terfokus untuk menyelami setiap kata dari novel yang sedang ia baca.
Rintik yang sedang dalam mode fokus seketika kehilangan kefokusannya. Ia langsung mendongak dan menatap penuh rinci pada gadis berkacamata itu, siapa tahu jika itu hanyalah candaan semata atau apa dan Rintik keburu berharap.
"Dava siapa?" tanya Rintik berusaha memperjelas.
"Siapa lagi kalau bukan Dava Danaraja yang sekarang pacaran sama sahabat lo itu. Tadi semua siswa di kantin ditanyain sama dia, enggak tau deh dia nyariin lo buat apa, tapi katanya penting banget gitu."
Berarti benar, Dava yang memang sedang mencarinya. Dava yang ada di tim jurnalistik bersamanya. Dava yang menggantikan Rintik sebagai dokumentasi, Dava yang saat ini sedang berpacaran namun juga di satu sisi sedang bertengkar dengan Naya. Sebenarnya ada apa Dava sampai mencarinya? Apakah ada hal yang penting sehingga pria itu harus bertanya ke semua orang? Apakah tidak bisa mengirim pesan saja? Untuk apa teknologi jika seorang Dava Danaraja tak bisa mengg—
Astaga! Rintik lupa membawa ponselnya. Ponsel gadis itu masih berada di dalam tas. Ya, walaupun Rintik tahu jika berada di dalam tas pun sangat aman sekali, tetapi bukan itu poinnya. Rintik ingin melihat apakah Dava sudah sampai meneleponnya berkali-kali atau bagaimana? Ternyata di sini kesalahan bukan berada pada Dava, tetapi kepada Rintik yang lupa membawa ponsel di sakunya.
Ya sebenarnya Rintik juga tidak terlalu suka dengan ponsel, ia jauh lebih menyukai laptop. Baginya laptop pun sudah sangat cukup, bisa untuk melakukan apa pun dan jauh lebih membuat mata terasa nyaman. Namun, ponsel pun sebenarnya dibutuhkan, hanya saja Rintik yang jarang menggunakan.
"Ya udah, thanks buat infonya, ya."
Jika sudah seperti ini, Rintik jadi merasa penasaran sekali. Apa alasan Dava mencarinya? Apakah ada hal penting yang harus dibicarakan?
***
"Gue cariin lo ke mana-mana tapi enggak nemu, taunya di sini," komentar Dava yang langsung mengambil tempat di sebelah kanan Rintik. Pria itu nampak kelelahan, terbukti dengan napas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran di mana-mana. Tanpa memedulikan keringat, dengan sangat cool Dava menyugar rambutnya, pria itu merasa sangat tampan sekali dengan apa yang ia lakukan. "Awalnya gue cari ke tempat favorit lo kan, ruangan jurnalistik, tapi enggak ada. Anehnya ada laptop lo sama laptop Tera. Ada Tera juga sebenarnya, cuma dia abis beli coklat panas di kantin, pas gue nanya lo di mana, dia enggak tau. Gue cari ke kelas juga lo enggak ada. Gue cari ke kantin juga ternyata enggak ada," lanjut Dava tanpa memedulikan ekspresi wajah Rintik yang sudah bersemu merah.
Astaga, kenapa sekarang Rintik jadi seperti ini sih? Rintik jadi dengan mudahnya tersenyum, dengan mudahnya baper dengan apa yang dilakukan oleh Dava. Mengapa prinsip yang sudah ia bangun jadi berantakan seperti ini? Baiklah Rintik, ini tak boleh terjadi. Ini tak boleh dibiarkan begitu saja. Rintik harus tetap dingin dan ketus kepada siapa pun. Pertahankan apa yang sudah dibangun sejak awal.
"Emang lo nyariin gue karena apa?" tanya Rintik langsung to the point. Ia sangat tak suka bertele-tele, terlalu membuang waktunya yang sangat berharga sekali. Waktu yang sebenarnya bisa dihabiskan untuk segala hal, seperti membaca guna menambah referensi contohnya.
"Bentar napas dulu baru jelasin."
Astaga! Semakin membuat anak orang penasaran saja nampaknya Dava ini. Padahal kan Dava bisa bernapas sedari tadi, namun malah memilih bernapas setelah Rintik bertanya seperti itu.
"Gue mau ajak lo jalan," kata Dava dengan suara penuh ketegasan.
Kernyitan dahi Rintik menambah, gadis itu tentunya terkejut bukan main atas apa yang ditanyakan oleh Dava. Sangat tidak masuk akal sekali jika Rintik menerimanya, bukan? Saat ini bahkan Naya dan Dava sedang dilanda masalah dalam hubungannya, masa Rintik harus menjadi tersangka utama hancurnya hubungan mereka?
"Sebenarnya ini jalan memiliki makna yang rancu, sih. Asik, bahasa gue udah kayak anak jurnalistik banget enggak sih?"
Sial! Dava ini ternyata tipikal orang yang senang sekali bercanda, Rintik sampai tak habis pikir dengan selera humor Dava yang dapat dikatakan lumayan rendah.
"Udah deh buruan! Gue lagi baca nih!" desak Rintik dengan decakan sebal.
"Nah, ini nih yang gue cari! Lo dari tadi nampak kalem banget, makanya gue bikin masalah dulu supaya lo bisa ketus dan dingin. Jangan sampai seorang Rintik kehilangan branding dirinya sendiri."
"Gak jelas," komentar Rintik ketus.
Ya bagaimana bisa Rintik harus mengatakannya jelas jika sedari tadi Dava selalu membahas hal lain, padahal Rintik bertanya mengapa Dava mencarinya? Hanya satu pertanyaan simpel saja, butuh satu kali tarikan napas untuk menjawabnya.
"Bercanda. Jadi gue nyari lo buat ngajak jalan. Nah gue enggak cuma ngajak jalan aja sih, tapi juga mau kasih tau lo gimana caranya gue hunting foto selama ini. Karena bulan ini gue udah mulai jadi dokumentasi di jurnalistik, kerja perdana gue harus diawasi sama Ibu Ketua, dong?"
"Hunting gimana maksudnya? Gue masih belum paham." Serius, Rintik masih belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Dava. Mungkin pikirannya sudah tertinggal saat sedang membaca novel sehingga di saat ia diajak bicara seperti ini, ia merasa sangat lola sekali.
"Dokumentasi pertama gue di tim jurnalistik bakalan gue lakuin hari ini, tepatnya sore ini, Rin. Dan gue mau ajak lo buat ikut gimana caranya sampai langkah-langkahnya gue ngedokumentasiin suatu momen. Lo mau ikut gue hunting? Gue butuh bantuan dari seorang ketua tim jurnalistik untuk mengawasi kerja gue yang pertama kali."
"Hm, menarik. Boleh, gue ikut!"