"Nay!"
Pagi ini merupakan salah satu pagi yang membuat Rintik membenci detik selanjutnya. Sedari tadi ia sudah memanggil Naya yang sedang menatap lurus ke depan, namun gadis itu malah diam saja tanpa suara apa pun. Gadis itu sedang melamun. Entah masalah apalagi yang dihadapi oleh Naya sampai pagi-pagi seperti ini, bahkan sebelum pelajaran dimulai, Naya sudah meratapi nasibnya. Astaga, Rintik harus mengeluarkan banyak tenaga hanya demi Nayara semata.
"Nay!" ulang Rintik kembali, kali ini jauh lebih kencang dan memakai tepukan yang lumayan keras pada pundak Naya. Rupanya cara tersebut sangat berhasil Rintik lakukan, buktinya Naya langsung mengerjap kaget dengan tangan yang langsung mengusap wajahnya penuh frustrasi.
"Lo ada masalah apa sih sama gue, Rin? Lo mau bikin gue jantungan apa gimana? Panggilnya biasa aja, dong! Enggak perlu pakai urat gitu. Sebel banget, pagi-pagi udah bikin masalah."
Naya memutarkan bola matanya saat sudah puas mengatakan banyak sekali keluh kesah kepada Rintik. Ia bahkan sampai mendecak sebal atas semua yang gadis itu lakukan. Masalahnya, karena Rintik lah jantungnya kini berdegup dengan kencang. Bisa saja Naya memiliki banyak sekali penyakit karena sahabatnya itu, bukan?
"Sialan lo! Padahal dari tadi gue udah manggil lo dengan cara yang benar," kilah Rintik tak pernah mau disalahkan. "Lo aja yang enggak dengerin dengan baik. Gue udah nepuk berulang kali juga, Nayara. Tapi enggak ada balasan dari lo. Kalau kayak gini yang salah siapa coba?" lanjut Rintik dengan penuh realita yang ada.
"Lo!" Naya menyolot. Tak mau disalahkan juga. Memang keduanya sama-sama keras kepala. Apa pun harus mereka menangkan, padahal bukan sebuah pertandingan debat.
"Lagian kenapa sih manggil-manggil gue gitu? Naksir sama gue lo? Idih, gue sih masih sayang sama Dava, ya. Enggak mau sama lo."
DEG!!!
Jelaskan pada Rintik mengapa saat ini hatinya menjadi terasa sangat sesak sekali? Padahal Rintik kenal Dava dari Naya. Pun kenyataannya memang Dava adalah pacar dari Naya. Mengapa di saat Naya memamerkan hubungannya, Rintik jadi merasa tak suka pada Naya?
Nampaknya Rintik sedang tidak baik-baik saja saat ini. Nampaknya Rintik sedang sakit. Ayo, Rintik, bangkit! Cinta bukanlah prioritasmu saat ini. Saat ini laki-laki bukanlah prioritasmu. Banyak sekali hal yang sudah kau rencanakan, tak boleh kau sia-siakan serta hancurkan hanya karena cinta saja. Perjalananmu masih sangat panjang, dan kau harus berlari dengan kuat untuk mencapai puncaknya. Lupakan perasaan cinta yang mungkin saat ini sedang menggerogoti hati. Lupakan perasaan semata yang nampaknya hanya masa-masa remaja saja.
Kembali fokus, Rintik.
"Eh lo tau gak sih? Dava semakin ke sini semakin aneh banget tau! Gue enggak tau deh salah gue apa, atau mungkin dia udah bosen kali ya sama gue, sampai akhirnya dia itu udah jarang hubungi gue. Kemarin kan gue samperin Dava ke kelasnya tuh, tapi kata temen-temennya yang lain, dia udah pulang. Terus pas gue tanya ke nyokapnya, dia belum pulang. Dihubungi pun enggak bisa. Kayaknya dia selingkuh gak sih?"
Lagi-lagi perkataan yang keluar dari mulut Naya membuat Rintik bergetar hebat. Jadi, Naya tidak tahu jika kemarin pacarnya bersama dengan dirinya? Menghabiskan waktu dari sore sampai malam, tertawa dan bahagia. Dava tak memberitahukan kepada Naya? Keterlaluan sekali pria tersebut!
"Lo enggak ada tanya ke dia emangnya?" Ternyata Rintik sama saja, bukannya memberitahukan semuanya dengan benar, Rintik malah bertanya hal yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan karena itu semua hanyalah pertanyaan retoris saja.
Naya menggeleng dengan lemah. "Pas gue tanya dia abis ngapain, dia malah marah sampai bikin gue nangis. Ya lo tau sendiri lah kalau gue paling enggak suka sama yang namanya dibentak. Dia udah kasar banget kemarin. Gue enggak tau dia abis ngapain, gue enggak tau dia abis sama siapa. Awas aja kalau gue tau dia abis sama siapa, perempuannya bakalan gue hajar. Dia gak tau apa kalau Dava udah punya pacar? Apalagi gue masih terbilangnya baru loh sama Dava. Tapi malah udah kandas kayak gini. Dava juga kenapa enggak mau jelasin kalau enggak aneh-aneh coba? Emang gila dua-duanya!"
Rasa bersalah menggerogoti hati Rintik saat ini. Rintik tak tahu jika ia sudah menyakiti hati sahabatnya yang baik. Astaga, Rintik sudah jahat. Selama ini padahal Naya selalu baik dan perhatian pada Rintik, namun dengan sangat b***t Rintik membuat Naya sakit hati.
Astaga, maafkan Rintik.
"Tumben banget lo diem, biasanya aja kalau gue curhat tentang cinta, lo selalu banyak ceramah. Lo bilang katanya cinta itu enggak guna lah, lo bilang kalau Dava itu b******k lah, enggak seharusnya gue sama Dava, dan banyak lagi lainnya. Lo kenapa, Rin?"
Rintik langsung gelagapan saat ditanya seperti itu, keringat dingin seketika mengucur deras di dahi cantiknya. Apa yang harus Rintik katakan sekarang? Lagian, Rintik tak mungkin jatuh cinta dengan Dava, kan? Dava bukan siapa-siapa. Dava bukanlah tipe idaman Rintik.
"Udah, deh. Lo berpikiran positif aja kalau Dava itu sayang dan cinta sama lo. Kalau dia selingkuh dan macem-macem di sana, biar gue yang maju. Lo tenang aja, Nay. Sekarang, tugas sejarah lo aman apa enggak? Gue kan manggil lo buat nanya tugas sejarah aman apa enggak, bukan buat ghibah banyak hal!" Dengan sangat terpaksa Rintik langsung memindahkan topik pembicaraan. Ia tak mau ujungnya skakmat lagi. Ia juga tak mau Naya sakit hati jika Rintik jujur.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rintik, Naya langsung membuka tasnya. Ia mengeluarkan banyak sekali buku dan membuka salah satu buku bersampul coklat dengan label sejarah di sana. "Belum, hehe. Lo emang sahabat gue yang paling pengertian deh, Rin! Tau aja kalau sekarang gue butuh bantuan lo buat nyontek tugas sejarah. Si anak emas pastinya udah, dong?"
Tentu saja Rintik sudah mengerjakan tugas sejarah dengan baik dan benar. Ia selalu memberikan contekan kepada Naya juga setiap harinya. Rintik memang cuek dan menyebalkan, namun caranya berbaik hati sangatlah berbeda. Ia akan membantu nilai para sahabatnya. Ingat, hanya para sahabat saja.
"Nih! Gue selalu baik ke lo, kan?" Mengeluarkan buku dengan sampul coklat serupa pula, Rintik memberikan buku sejarahnya kepada sang sahabat. Sejarah adalah jam pelajaran pertama, mau tidak mau Naya harus cepat mencatat semua jawabannya supaya tidak dihukum dan selesai tepat waktu.
"As always baik kalau lo mah! Sahabat terbaik yang gue punya. Walaupun terkadang omongan lo nyelekit banget, tapi untungnya aja gue betah sih sama lo. Berdoa aja kalau gue enggak niat tuker tambah sahabat kayak lo!" balas Naya dengan penuh candaan.
"Sialan lo! Mana berani lo tuker tambah sahabat kayak gue yang baik hati gini, sih?"