Anya menatap Bima dengan penuh kemarahan, "Gue bener-bener nggak akan lupa ini, Bima. Lo selalu bikin masalah."
Bima tersenyum tipis, "Santai aja, Anya. Kita selamat, kan?"
Anya hanya mendengus dan berjalan pergi, meninggalkan Bima yang masih berdiri di depan perpustakaan. Meski mereka sudah keluar dari perpustakaan, konflik mereka jauh dari kata selesai.
**
Hari-hari berlalu setelah insiden perpustakaan, namun konflik antara Anya dan Bima tetap terasa. Di jurusan Teknik Industri, semua orang tahu bahwa mereka adalah dua mahasiswa yang selalu bersaing dan tidak pernah akur. Status mereka sebagai Rivalitas masih terus berlanjut.
Pagi itu, di ruang kelas yang penuh sesak, dosen masuk dan memulai perkuliahan. Anya duduk di bangku paling depan, sementara Bima duduk di seberang ruangan. Keduanya tampak fokus, tetapi jelas ada konflik yang menguar di antara mereka.
Dosen mengumumkan tugas kelompok baru, dan tentu saja, nama Anya dan Bima kembali dipasangkan. Anya segera memutar mata, sementara Bima hanya mengangkat bahu.
Saat kelas berakhir, Anya menghampiri Bima dengan tatapan tajam. "Serius nih, kita lagi? Gue udah capek harus kerja bareng lo."
Bima menatap Anya dengan santai, "Ya mau gimana lagi, Anya? Kita cuma bisa terima dan kerjain tugasnya."
"Gue nggak ngerti kenapa dosen selalu masang kita bareng. Lo tuh bikin kerja kelompok jadi neraka," balas Anya dengan nada kesal.
Bima hanya tertawa kecil, "Mungkin dosen tahu kita berdua yang paling kompeten. Jadi, siap buat tugas ini?"
Anya menahan diri untuk tidak berteriak, "Lo tau nggak, gue bener-bener pengen tugas ini kelar cepet. Jadi tolong, jangan bikin ribet."
Bima mengangguk, "Fine. Kita ketemuan di ruang kelompok sore ini, ya."
Mereka berdua pun berpisah, dengan Anya yang masih kesal. Sore harinya, di ruang kelompok, suasana tegang kembali terasa. Anya dan Bima duduk di ujung meja yang berlawanan, mencoba fokus pada tugas mereka.
"Kita mulai dari mana?" tanya Anya, membuka buku catatan.
"Kayaknya kita harus bagi tugas. Lo bikin analisis datanya, gue bakal urus presentasinya," jawab Bima.
Anya mengernyit, "Kenapa lo yang atur? Gue bisa kok urus presentasi juga."
"Ini biar lebih efisien, Anya. Kita bagi tugas sesuai keahlian masing-masing," kata Bima, tetap tenang.
Anya mendengus, "Fine. Tapi jangan salahin gue kalau presentasi lo jelek."
Bima tersenyum kecil, "Gue jamin presentasi gue bakal sempurna."
Mereka pun mulai bekerja dalam diam, mencoba menyelesaikan tugas mereka secepat mungkin. Namun, setiap kali Anya merasa pekerjaan Bima kurang tepat, ia tidak ragu untuk mengkritik.
"Data lo nggak akurat, Bima. Ini harusnya beda," kata Anya sambil menunjuk layar laptop Bima.
Bima menghela napas, "Anya, kita nggak akan selesai kalau lo terus-terusan kayak gini. Kita harus kerja sama."
Anya tetap bersikeras, "Gue cuma nggak mau nilai kita anjlok gara-gara kerjaan lo."
Malam semakin larut, dan meski mereka masih berselisih, tugas mereka akhirnya selesai. Anya menatap Bima dengan tajam sebelum meninggalkan ruang kelompok.
"Gue cuma berharap ini terakhir kalinya kita kerja bareng," kata Anya dengan nada tajam.
Bima hanya mengangguk, "Ya, gue juga harap gitu."
Keesokan harinya, mereka kembali bertemu di kelas untuk presentasi. Suasana kelas hening saat Anya dan Bima maju ke depan. Mereka mempresentasikan hasil kerja mereka dengan baik, meski aura kompetitif tetap terasa.
Setelah presentasi, dosen memberikan pujian, "Kerja bagus, Anya, Bima. Kalian berdua memang tim yang hebat."
Anya hanya tersenyum tipis, sementara Bima mengangguk. Meski mereka berhasil melewati tugas ini, persaingan dan ketegangan antara mereka tidak akan hilang begitu saja. Dan cerita mereka akan terus berlanjut, penuh dengan konflik dan persaingan yang tak pernah padam.
**
Setelah insiden presentasi, hubungan Anya dan Bima semakin panas. Di kampus, mereka seperti dua kutub yang selalu berlawanan, siap bertarung kapan saja.
Suatu siang di kantin kampus, Anya duduk bersama sahabatnya, Audrey, menikmati makan siang mereka. Mereka sedang membicarakan rencana liburan semester ketika tiba-tiba Bima dan sahabatnya, Reza, datang dan duduk di meja sebelah.
"Lo liat tuh, Nya. Rival abadi lo," bisik Audrey sambil melirik ke arah Bima.
Anya mendengus, "Gue bener-bener nggak habis pikir kenapa dia harus muncul di mana-mana."
Bima yang mendengar percakapan mereka, tersenyum kecil. "Kenapa, Anya? Lo kangen sama gue ya?"
Anya menatapnya dengan tajam, "Dalam mimpi lo aja, Bima. Gue cuma capek harus liat muka lo terus."
Reza yang duduk di sebelah Bima ikut tersenyum, "Aduh, drama banget deh kalian. Kayak nggak ada hari tanpa berantem."
Audrey mencoba menenangkan Anya, "Udahlah, Nya. Jangan diladenin."
Tapi Anya sudah terlanjur panas. "Lo tau nggak, Bim? Kalo lo nggak ada, hidup gue bakal jauh lebih tenang."
Bima hanya tertawa, "Santai aja, Nya. Hidup lo pasti lebih seru dengan gue di sekitar lo."
Percakapan mereka terhenti sejenak saat seorang mahasiswa datang dan menyapa mereka. "Eh, lo berdua nih yang kemarin masuk berita gara-gara terjebak di perpustakaan, kan?"
Anya langsung meradang, "Jangan diingetin lagi dong! Itu momen paling memalukan dalam hidup gue."
Bima masih tertawa kecil, "Lo yang panik duluan. Gue sih santai aja."
Anya menatap Bima dengan penuh kebencian, "Lo bener-bener nggak ada kapoknya ya? Gue bener-bener nggak ngerti kenapa harus ada lo di hidup gue."
Reza mencoba menengahi, "Ayo, ayo, udah dong. Kita kan di kantin, jangan ribut di sini."
Tapi Anya masih kesal, "Gue nggak peduli, Reza. Bima tuh bener-bener bikin gue kesel."
Audrey menepuk pundak Anya, "Nya, tenang. Nggak usah bikin keributan di sini."
Anya menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Oke, gue nggak mau ribut lagi. Tapi lo, Bima, mending jauhin gue."
Bima hanya tersenyum tipis, "We'll see about that, Anya."
Hari itu, konflik antara Anya dan Bima semakin terasa. Meski mereka berusaha menghindari pertengkaran di depan umum, ketegangan di antara mereka tak bisa dihindari. Di setiap kesempatan, mereka selalu saja saling sindir dan bertengkar, membuat semua orang di sekitar mereka bingung dan khawatir.
Setiap hari di kampus menjadi ajang pertarungan bagi mereka, dan tidak ada tanda-tanda bahwa salah satu dari mereka akan menyerah. Perjalanan mereka di jurusan Teknik Industri masih panjang, dan persaingan ini tampaknya akan terus berlanjut, membuat setiap hari menjadi medan pertempuran yang seru dan tak terduga.
Ketegangan ini menciptakan dinamika yang menarik di kampus, dan semua orang menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya antara Anya dan Bima. Dengan begitu banyak drama dan persaingan, cerita mereka pasti akan terus berlanjut dengan kejutan-kejutan baru di setiap babaknya.