Alena terduduk di sudut kamar dengan kepala bersembunyi di antara dua lututnya, Alena menangis dengan mata bengkak. Alena merasa menyesal telah datang kemari, dia menyesal mengikuti keinginan hatinya untuk berbelanja padahal sudah dilarang keras oleh Alfred.
Mimpi-mimpi itu sekarang terasa semakin nyata, Alena menggelengkan kepala karena rasa takut yang menyeruak ke dalam dirinya. Mimpi di mana Alfred meninggal dunia dengan luka tembak di dadanya itu semakin menghantui Alena, Alena merasa kejadian demi kejadian yang dialami di dalam mimpi sekarang menjadi kenyataan.
"Tidak, itu tidak boleh menjadi kenyataan! Alfred tidak boleh meninggal, tidak, bagaimana mungkin Alfred meninggalkan aku di saat hanya dia yang paling memahami aku di dunia ini. Tidak mau, aku tidak ingin sesuatu yang buruk