SESUAI dengan diskusiku dengan Pak Cakra kemarin sore, aku berniat mengunjungi Bu Sandra untuk menanyakan perihal peserta yang direkomendasikan olehnya.
Langkah kakiku terus bertalu-talu, suara heels tujuh sentiku terdengar jelas saat menyentuh lantai marmer gedung kantor. Aku menunggu pintu lift terbuka, ruang marketing berada di lantai lima.
"Pagi Mbak Ansha," sapa salah satu office boy yang sudah kukenal. "Mau ke mana nih?" Pak Agus bertanya sopan.
"Pagi Pak Agus. Mau ke marketing." Pandanganku teralih pada pintu lift yang sudah terbuka, dengan gerakan cepat aku masuk ke dalam dan ternyata Pak Agus ikut masuk bersamaku.
"Bapak mau ke mana?"
"Ke marketing juga Mbak, biasa ini nganterin pesenan." Aku melihat Pak Agus membawa bungkusan plastik yang menurutku isinya adalah makanan.
"Banyak yang belum sarapan, Pak?"
"Yah sepertinya begitu, Mbak," jawabnya sembari tersenyum ramah.
Setelah terdengar dentingan lift, pintu terbuka mengantarkan kami ke lantai lima di mana terdapat divisi marketing dan IT berada. Aku melanjutkan misiku bertemu Miss Killer, sebelumnya aku melihat Mbak Intan sedang touch up di meja kerjanya.
"Pagi Mbak," sapaku pada Mbak Intan, ia sedikit terkejut dengan kehadiranku. Kulihat lipstiknya tergores hingga ke pipi. Aku tertawa kecil melihat betapa lucunya wajah Mbak Intan.
"Sha, ah kamu ngagetin aja. Lihat tuh lipstikku berantakan," dumalnya seraya menghapus goresan lipstik di pipinya dengan tisu basah.
"Sorry Mbak, aku nggak maksud ngagetin loh. Si Ibu ada?"
"Ada tuh, masuk aja!" Aku melihat ke arah Mbak Intan lagi untuk memastikan. "Aman, Sha," lanjut Mbak Intan.
"Serius aman?" Mbak Intan mengangguk yakin.
Aku memang selalu menanyakan suasana hatinya Bu Sandra terlebih dahulu pada Mbak Intan, supaya aku punya persiapan lebih saat masuk ke dalam ruangannya. Mbak Intan akan mengatakan aman kalau suasana hati Bu Sandra sedang dalam mood yang baik, sementara jika sebaliknya Mbak Intan akan mengatakan bahaya atau waspada.
Meski kulihat pintu ruangannya dalam keadaan terbuka, namun aku tetap mengetuknya dengan gerakan perlahan. Setelah sang pemilik ruangan melihat kehadiranku, barulah kuberanikan diri untuk masuk ke dalam.
"Pagi Bu," sapaku hati-hati.
"Pagi," jawabnya irit tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Ini Bu, silakan dilihat CV peserta yang kemarin sudah mengikuti tes. Kalau saya lihat dari kriteria yang Ibu ajukan sudah cocok."
"Tesnya bagaimana, oke tidak?" Bu Sandra meraih berkas dari tanganku kemudian mulai membacanya.
"Oke kok Bu, Pak Cakra yang merekomendasikan kandidat ini."
"Hemp ... begitu ya," katanya seraya menajamkan penglihatan pada CV yang sedang dipegangnya. Aku melihat Bu Sandra berhenti di satu titik kemudian beralih menatapku. "CV-nya oke, kalau begitu kamu hubungi dia untuk saya interview besok!" Benar kata Mbak Intan, atasannya ini dalam keadaan mood yang baik buktinya wanita itu tidak bicara macam-macam.
"Baik Bu, akan segera saya hubungi."
"Kali ini jangan sampai gagal lagi ya, harus berhasil!"
"Baik Bu, saya usahakan kali ini lancar."
"Oke thanks," sahutnya.
Usai dari tempat Bu Sandra, aku kembali ke ruanganku. Hari ini sudah kuhubungi tiga kandidat yang kemarin lolos dan akan ditempatkan di divisi finance. Mereka hanya tinggal interview dengan user, yakni Bu Tere sebagai manajer finance.
Beralih ke pemilik nama yang sudah kuingat setelah Bu Sandra memutuskan untuk menerima kandidat yang sudah dipilihnya. Aku menekan tombol-tombol pada extention-ku, menunggu sampai ada suara yang meyapa di seberang sana.
"Halo selamat siang dengan Roman Danadhyaksa?"
"Benar Bu," jawabnya cepat. Terdengar kebisingan di seberang telepon, sampai-sampai mengalahkan suara lelaki itu. Sepertinya ia sedang berada di tempat yang ramai. "Duh maaf Bu, berisik ya, ini saya lagi di jalan soalnya."
"Oke, tapi kamu bisa mendengar saya?"
"Iya Bu, masih bisa dengar kok."
"Saya dari PT. Cahaya Mentari Group, saya ingin menginformasikan kalau besok Bapak ada panggilan interview dengan divisi marketing pukul sembilan pagi dan bertemu dengan Ibu Sandra Claudia."
"Saya ada panggilan interview, Bu? Maaf tadi saya harus bertemu dengan siapa?" Lelaki itu kembali bertanya, sepertinya tadi aku terlalu cepat saat mengatakannya.
"Besok Bapak ada jadwal interview dengan divisi marketing, pukul sembilan pagi dan bertemu dengan Ibu Sandra Claudia." Pelan-pelan aku kembali mengucapkannya. "Alamatnya masih ingat, Pak?"
"Masih Bu, terima kasih banyak atas informasinya."
"Baiklah bila sudah mengerti, kalau bisa besok jangan sampai telat lagi ya!" Aku refleks menepuk keningku, seharusnya aku tetap bisa bersikap formal meski di sambungan telepon. Kenapa aku jadi sok kenal begini? Ditambah membahas masalah ia yang datang terlambat.
"Oh ini Mbak yang kemarin mimpin kita psikotes ya?" Aku mendengar lelaki itu terkekeh sebentar. "Maaf ya Mbak, kemarin saya telat. Besok saya usahakan untuk bisa datang tepat waktu."
"Oke terima kasih atas waktunya, selamat siang." Aku menutup sambungan telepon.
Kembali merutuki kecerobohanku saat di sambungan telepon tadi. Kenapa aku bisa keceplosan dan tiba-tiba bersikap sok kenal? Beruntung lelaki itu menanggapi dengan sikap santai dan bersahabat. Namun aku bisa bernapas lega, setidaknya masalah dengan Bu Sandra selesai. Semoga saja lelaki bernama Roman ini cocok menjadi admin Bu Sandra.
***
"Guys, gue pulang duluan ya. Ada janji soalnya." tutur Bagas kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Mau ke mana lo?" tanya Mas Galen ingin tahu.
"Biasa Mas, mau nonton," cengir Bagas. "Ayo pulang juga Mas, nggak usah rajin-rajin banget lah kerja sampai malem!" sungut Bagas dengan santai saat mengatakannya.
"Diem lo, cumi!" Selvi yang sedang fokus dengan layar komputernya ikut menyahut dan melirik Bagas sebentar.
"Kayak lo nggak pernah pulang malem aja, Gas," sahutku sinis.
"Loyalitas Bro," ujar Mas Galen kalem.
"Loyalitas tanpa batas ya, Len?" Mbak Lucy ikut berkomentar sambil terkikik.
"Ah kayak bakal kebeli apartemen di PIK aja," cicit Bagas kurang ajar. Tidak tahu apa, aslinya nasib Bagas sama dengan kami semua. Sok-sokan mengomentari jangan pulang malam.
"k*****t lo, pulang sana daripada ganggu. Eh request-an ATK anak finance jangan lupa loh besok!" Mas Galen kembali mengingatkan Bagas yang sudah mulai berjalan menuju pintu keluar. Bagas hanya mengacungkan kedua jempolnya dengan gerakan secepat kilat dan Bagas sudah hilang dari pandangan kami.
"Biasa Mas, si Bagas ‘kan baru punya pacar anak sales." Selvi memberitahukan berita baru pada kami. Selvi lebih supel bersosialisasi dan cepat dalam mendapatkan berita baru dengan mudah. Maklum saja sebelum masuk ke divisi HRD, Selvi pernah berada di factory sebagai staf purchasing. Tentu jaringan pertemannya lebih luas.
"Serius Bagas punya pacar?" Aku hampir tak percaya, pasalnya Bagas sama sepertiku sudah lama menjomlo dan tahu-tahu aku dikagetkan dengan kabar seperti ini.
"Wah keren tuh anak, diem-diem udah punya pacar aja." Mas Galen tersenyum sembari menyesap kopi hitamnya.
"Terus lo kapan, Sha?" Kini giliran Mbak Lucy melirik ke arahku dari kubikelnya.
"Berarti yang menyandang single unlimited sekarang adalah...." Selvi berkata seolah mengumumkan soal statusku dan setelah itu semua mata memandang ke arahku.
"Kenapa?" Aku balas menatap mereka bertiga sambil berdiri. Dan semuanya tertawa seakan mencibir kejomloanku selama ini.
"Tenang aja Sha, nanti gue kenalin sama temen-temen suami gue ya." Mbak Lucy memberi tawaran kepadaku yang sama sekali tidak membuatku tertarik.
"Nggak!" tolakku cepat.
"Yailah Neng, begitu aja ngambek. Kemarin anak IT yang suka sama lo itu siapa namanya? Kenapa nggak diterima aja sih, Sha?" Selvi memberondong pertanyaan.
"Brondong Sel," selaku.
"Lo masih nggak mau aja sama brondong. Jangan dilihat dari umurnya Sha, kalau brondong itu dewasa, ganteng dan mapan nggak masalah kali lo terima." Aku masih bergeming dengan ucapan Selvi. Aku tahu teman-temanku baik dan menginginkan aku segera mempunyai pasangan. Namun mendengar nama brondong, aku langsung ilfil duluan.
"Kalau nggak mau gue cariin, gimana lo mau punya pacar, Sha? Tahu sendiri lo sering banget pulang malem, untuk bersosialisasi aja susah apalagi ketemu sama orang baru?" Mbak Lucy menatapku dengan iba.
"Santai aja Mbak, gue masih happy kok dengan status gue yang single ini."
"Tapi lo udah mau tiga puluh tahun, Sha," komentar Mbak Lucy setengah khawatir terhadapku.
"Yailah, masih dua tahun lagi Mbak, gue genap tiga puluh tahun."
"Tapi dua tahun akan terasa cepat Sha, kalau lo gini-gini aja dan nggak mau nyari pacar," sarkas Selvi.
"Guys, gue bukan nggak mau cari pacar. Gue lagi berusaha untuk lebih selektif aja menerima orang baru. Gue nggak mau kejadian di masa lalu kembali terulang lagi. Gue juga capek pacaran nggak jelas, bukan waktunya gue nyari pacar. Kalau bisa sih gue mau nyari yang serius," tuturku menatap ke arah mereka semua. Kedua teman wanitaku hanya diam tak menjawab. Ada kilat rasa bersalah di mata mereka kala aku menatapnya. "Thanks untuk perhatian kalian selama ini, gue tahu kalian pengin gue dapat yang terbaik." Aku tersenyum mencoba mencairkan kembali suasana di kubikelku.
Jam tujuh malam aku sampai di kosan, setelah mandi dan berganti pakaian kuraih bungkusan plastik berisi nasi goreng yang sempat kubeli saat pulang kerja tadi. Aku mengambil piring dan sendok lalu kubuka bungkusan tersebut. Sembari makan, aku meraih remote TV supaya kamarku tidak sepi-sepi amat dan kuputuskan untuk menonton tayangan box office di salah satu channel televisi swasta.
Box office malam ini menayangkan film Twilight, sudah berapa kali film ini diputar namun rasa-rasanya aku tak pernah bosan. Apalagi saat adegan romantis antara Bella Swan dan Edward Cullen. Film yang diadaptasi dari novel karangan Stephenie Meyer ini memang sangat laris bahkan sampai empat seri novelnya sudah ditayangkan semua.
Aku pernah membaca artikel yang dikutip dari The Guardian, tentang pelajaran yang bisa dipetik dari film Twilight yaitu "jangan pernah menghindar atau berkata 'tidak' untuk satu hal yang belum kamu coba sebelumnya".
Apa aku harus menjadi seperti itu, keluar dari zona nyaman untuk membuktikan suatu hal? Sama seperti Bella yang terus mencoba mendekati Edward, kendati sudah jelas memperlihatkan rasa tidak sukanya terhadap gadis itu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pada akhirnya Edward justru jatuh cinta kepada Bella.
Sembari menikmati makan dan menonton tayangan di televisi, aku meraih ponsel yang sedari tadi bergetar. Aku terbiasa menggunakan mode getar saat berada di kantor, dan sampai di rumah belum kuubah.
"Halo, maaf ini dengan siapa ya?"
"Saya Roman, Mbak. Itu yang tadi pagi ditelepon untuk panggilan interview."
Kenapa orang ini tiba-tiba meneleponku, ditambah sekarang sudah malam dan bukan jam kantor lagi?
***