bandingkan dengan Hugo, Elena memang telah lama hidup sebelum Hugo. Lelaki itu juga berhenti menua di usia dua puluh dua tahun. Di sini, seharusnya Elena lah yang dihormati, bukannya Hugo. Elena merasa dia lebih senior, namun segala posisi yang Elena inginkan, Hugo selalu mendapatkannya. Perasaan murka Elena seolah mendidih ketika melihat interaksi Hugo dan dewa lainnya, setiap kali Elena membaca mantra dan ingin mengerjai Hugo, ibunya selalu membuat tangan Elena membeku, terasa begitu dingin seolah menggambarkan begitulah perasaannya terhadap Hugo. Namun di satu sisi, Hugolah yang selalu membantu Elena kembali pada keadaan semula. Hugo lah yang selalu ada di saat Elena sedang sial. Pernah suatu kali, kalau tidak salah tiga ratus tahun yang lalu, ketika Elena berburu rusa seorang diri untuk menghilangkan penat, ia mendengar derap langkah yang begitu gemuruh seolah tengah berlari untuk menerjangnya. Namun Elena tak melihat siapa pun di hutan tersebut. Derap tersebut mendadak menerornya semakin dekat. Untuk pertama kalinya, Elena merasa takut dan menjatuhkan diri ketika ia merasa bahwa derap itu memang akan menyerangnya. Ketika ia berpikir ia akan berakhir dengan rasa sakit dan memejamkan mata erat, tubuhnya terasa ringan dan melayang, sebuah raga seolah tengah mendekapnya dan membawa Elena terbang menjauh dari sana. Ketika Elena membuka mata, Hugo sedang tersenyum mengejek, sebab Elena berpegangan pada lehernya dengam sangat erat.
“Aku baru tahu seorang Elena Blezinsky ternyata bisa merasa takut juga, ya?”
Elena berdecak, ketika ia sampai di kastil, tangannya dengan refleks mendorong bahu Hugo. “Ulahmu, kan?”
“Hah!” Hugo tertawa, lantas mendekati Elena. “Kau bilang apa, Elena Sayang?”
“Menjijikan!” Elena nyaris menghempaskan Hugo lagi andai ia tak ingat jika di lantai 380, ibunya sedang memperhatikan pertikaian mereka. “Kau, itu ulahmu! Aku tahu kau ingin menyelakaiku, jadi kau menerorku, kan?”
“Aku sudah menolongmu dan kau menuduhku? Jika ingin melenyapkanmu, aku pasti akan menyaksikan tubuhmu dihantam babi iblis—”
“Apa?” Mata Elena memicing. “Babi iblis? Aku saja tidak bisa melihat wujudnya, itu berarti memang kau—”
Dan sebuah kecupan mendarat di atas bibirnya. Elena terpaku sesaat sebelum lagi-lagi ia mendorong Hugo dengan keras sehingga kali ini tubuh Hugo terbentur di dinding kastil. Lelaki itu tampk melenguh kesakitan, namun ia kembali bangkit dan berdiri lagi di hadapan Elena tanpa raut marah sekalipun. Hingga pada akhirnya lelaki itu menyunggingkan senyum tepat ketika suara Aphrodite menggema untuk menegur Elena.
“Elena! Aku tidak akan memaafkanmu jika Hugo sampai terluka lagi!”
Namun, Elena cuma bisa berdecak kesal selagi melewati Hugo dan menyenggol bahu lelaki itu. “Oh, Maaf, kukira bahumu baik-baik saja, tadinya aku ingin mendorongmu lebih keras andai ibu tidak di sedang memperhatikan kita.”
Hugo cuma memiringkan kepalanya dan tertawa simpul. “Elena!” panggilnya.
Elena pun berhenti, seolah mengerti jika Hugo akan memberi penutupan. “Babi iblis itu milik ayahmu, Dewa Ares. Dia berperang dan mengirim babi itu pada musuhnya, namun musuhnya membunuh babi itu dan menjadikan arwahnya sebagai iblis dan mengincarmu.”
Elena berbalik, ia merasa penasaran. “Dengan siapa ayahku berperang?”
“Dewi yang dikutuk Dewa Zeus menjadi manusia yang tinggal di bumi. Namun ternyata dia memiliki kekuaatan dan sekarang dia adalah seorang penyihir. Sekarang kau mengerti mengapa para dewa tak menyuka penyihir?”
“Dan sekarang kau sedang memberitahuku alasan mengapa mereka juga tidak menyukaiku?” Elena tertawa. “Terima kasih. Sejak awal memang aku enggan terlahir sebagai anak dari Dewi Aphrodite, barangkali Dewa Zeus mau mengutukku juga menjadi penyihir paling cantik di bumi?”
Hugo menggelengkan kepalanya. “Kau benar-benar, ya! Nanti jika dia benar mengutukmu, jangan minta bantuan padaku!”
Kembali pada kenyataan, sejak itu lah Elena mulai sangat membenci Hugo, ia juga sering mengumpat dan bersumpah, “Aku yang akan mengutukmu lebih dulu!” Setelah itu juga Elena mencari tahu informasi tentang penyihir yang dikutuk Dewa Zeus. Elena sesekali pergi ke bumi untuk menemuinya tanpa sepengetahuan siapapun, kecuali Hugo, tentu saja. Di Kastil ini, hanya Hugo yang bisa membantunya dan, ya, meskipun Elena terkesan menjilat ludah sendiri, ia tak terlalu mempermasalahkan itu selagi Hugo benar-benar mampu menjaga rahasianya.
Penyihir itu seorang wanita yang berhenti menua di usia 50 tahun, namun jangan kira jika penyihir itu memiliki wajah yang keriput dan jelek, sama sekali tidak, dia terlihat dua puluh tahun lebih muda dengan tubuh ideal yang layaknya seorang model papan atas. Tetapi percaya atau tidak, dia benar-benar hidup sebagai manusia normal, dia juga dikenal sebagai seorang aktris asal New York bernama Cassandra Krystal. Tidak ada yang tahu jika dia adalah seorang Dewi yang dikutuk menjadi penyihir. Dan sejak itu, Elena menganggap jika Krystal adalah guru baginya. Krystal juga menceritakan jika dia dikutuk karena menolak cinta Zeus, sebab Krystal ingin menunggu seseorang yang telah ia prediksi akan lahir dan membuatnya jatuh cinta. Ketika Elena bertanya, Krystal hanya menjawab jika ia adalah anak manusia hasil dari perselingkuhan seorang Dewa.
Dan tiba saatnya, ketika bulan purnama memerah, itu adalah saat yang tepat untuk membuat mantra beserta ramuannya. Elena telah memasukkan ramuannya ke dalam botol dan akan meminta Hugo untuk meminumnya.