Quin menyerngitkan keningnya saat sinar matahari menerobos masuk melalui tirai jendela mengusik tidur nyenyaknya. Matanya terbuka perlahan dan tubuhnya berusaha mengumpulkan jiwanya. Hari ini dia akan kembali ke kampus. Quin sudah ready dengan busana casual musim seminya.
Quin berencana membuat sarapan untuk mereka bertiga. Berhubung Quin monster strawberry, maka sarapan hari ini strawberry pancakes.
"Mengapa strawberrynya banyak sekali Quin?" protes Daddynya.
"Iya Quin, ini sarapan strawberry saja without pancakes," timpal Mommynya.
Quin menyengir kuda. "Strawberry itu enak. Strawberry itu juga sehat untuk Daddy dan Mommy biar ada semangat seperti Quin," jelas Quin membuat Mommy dan Daddynya tertawa mendengarnya. Meski orangtuanya sedikit protes, tapi mereka menghabiskan sarapannya itu karena memang masakan Quin itu enak.
"Thanyou for the breakfast!" Quin tersenyum dan mengangguk malu. Kemudian Quin pamit pada untuk segera berangkat ke kampus.
As usual, Quin menyapa selamat pagi pada setiap tetangga yang memperhatikannya tidak lupa dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari bibirnya. For your information, semua tetangga di sekitar rumah mereka, sangat menyayangi Quin bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tapi juga karena kepribadian Quin yang sangat baik dan ceria.
Quin sudah tiba di kampusnya bertepatan dengan sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang dan muncullah seorang pria dengan pesona yang mematikan. Quin tiba-tiba saja tersenyum karena dia dapat bertemu lagi dengan pria itu. Xavielle.
Oh! Sebentar. Quin tersenyum dan memikirkan Xavielle bukan karena Quin mencintainya. Hanya saja Quin kagum dengan orang-orang kaya yang hidupnya mewah itu. Quin merasa mereka seperti pangeran dan putri di dongeng-dongeng yang sering dibacanya itu. Quin tidak pernah merasakan cinta dan belum ingin merasakannya mungkin? Menurut Quin dia masih terlalu kecil untuk merasakan cinta.
Berbeda dengan Xavielle, setelah acara sarapan dia segera pamit ke kampus karena entah mengapa dirinya ingin cepat-cepat sampai untuk dapat bertemu gadis dipikirannya itu. Semacam rindu begitu, tapi Xavielle menyangkal kalau itu rindu.
Dan benar saja, begitu tiba matanya langsung menangkap sosok gadis manis itu. Wajah Xavielle tetap datar padahal dia senang setengah mati bisa melakukan eye contact dengan Quin. Xavielle ingin membalas senyum Quin namun gadis itu sudah keburu pergi bersama seorang gadis nerd.
Xavielle menghela kasar nafasnya. "Aku sudah gila!" gumam Xavielle frustasi dan berjalan ke kelasnya.
( >ωω'Bahkan dia terlihat sangat cantik dari samping ini,' batinku berkata.
"Aku bisa memanggilmu apa? Xavielle? Perelle? Tuan?" tanya Quin menatapku.
"Cukup panggil aku Xavielle. Apa-apaan Perelle itu?" Quin terkekeh.
"Mereka memanggilmu Perelle, Perfect, Xavielle" jawab Quin pelan.
"Jangan dengarkan mereka," kataku dan lagi-lagi dia tertawa.
"Kupikir kau sombong karena kau anak orang kaya, ternyata tidak. Kau baik," gumam Quin "Sudah baik, kaya, tampan, pandai pula. Tidak salah mereka memanggilmu Perelle," lanjut Quin memandangku dengan sorot mata lucu dan kekanakan menambah kegemasannya.
'Bola matanya yang berwarna biru bahkan sangat indah,' batinku lagi-lagi berkata.
Aku terkekeh dan tanpa kusadari tanganku terangkat mencubit gemas pipi tembemnya. Oh My God! Kulitnya bahkan sangat halus. Aku bisa gila!
"Dimana kita akan mengerjakan tugas ini?" tanya Quin kembali ke tujuan awal kami. Tidak mungkin bukan dirumahku? Itu istana. Bisa-bisa Quin tahu kalau aku seorang Pangeran.
"Bagaimana dirumahmu saja?" tawarku yang langsung dianggukinya.
"Quin's Garden Restaurant adalah rumahku. Karena kita akan kerja disana, kau juga harus memesan makanan okay?" ucapnya sedikit memerintah.
"Kalau aku tidak mau?" godaku.
"Oh ayolah~ kau tidak akan bangkrut jika hanya memesan makanan," rengek Quin sedikit manja dan gila! Aku menyukai rengekannya. "Lagian kau pasti selera dengan menu-menunya," lanjutnya sedikit mengejek.
Aku mengangguk. "Baiklah. Aku akan memesan jika kau yang memasakkannya untukku," tantangku padanya karena aku juga ingin merasa masakannya.
"Okey!" soraknya senang dengan mata yang berbinar.
( >ωω< ✿)
Kami jalan beriringan hingga ke depan gerbang. Para bodyguard dan Mary sudah menyambutku di depan. Quin masih tetap berjalan disampingku sampai kami tiba di depan mobilku. Kulihat pandangan berbinar Quin melihat mobil mewah dan para bodyguard yang menunduk ini. Quin melangkah menghampiri Mary pengasuhku dan itu membuatku sangat terkejut. Quin menunduk sopan pada Mary dan tersenyum manis.
"Selamat siang Nyonya. Saya Quin, temannya Xavielle. Anda pasti mommynya Xavielle kan?" sapa Quin sopan pada Mary. Kulihat Mary terkejut dan bingung harus menjawab apa. Kugigit dalam bibirku menahan tawa lalu aku yang berada dibelakang Quin memberi kode pada Mary melalui anggukan kepala sekilas.
Mary hanya tersenyum canggung tidak mengeluarkan suara. Quin tersenyum semakin lebar bahkan matanya juga ikut tersenyum. Kulihat Mary juga terpesona dengan keindahan Quin.
"Aku dan Xavielle mendapatkan tugas kelompok dan rencananya akan kami lakukan di rumahku. Nyonya izinkan Xavielle ke rumahku besok buat tugas ya?" izin Quin pada Mary layaknya Mary adalah mommyku benaran. Ada-ada saja tingkah lucu gadis ini. Mary mengangguk lagi setelah kembali mendapat kode dariku.
"Baiklah Quin, mau sekalian denganku pulang?" tawarku berharap dia mau. Namun, Quin menggeleng.
"Tidak-tidak. Aku pulang sendiri saja. Terimakasih tawarannya. Nyonya, Quin pulang dulu~" pamit Quin menunduk sopan lagi pada Mary lalu berbalik ke arahku.
"Quin pulang dulu Xavielle. Hati-hati!" pamitnya lalu berlari meninggalkan kami. Kuperhatikan punggungnya yang semakin menghilang dari pandanganku. Setelahnya aku masuk ke dalam mobil diikuti Mary.
"Mary, tetaplah jadi mommyku seperti yang dianggap Quin ketika dihadapannya," perintahku pada Mary. Kulihat Mary mengangguk dan menatap wajahku.
"Apa Pangeran menyukai Nona Quin?" Aku sedikit terdiam lalu tertawa kecil.
"Bukankah gadis itu sangat menarik Mary?" Mary mengangguk.
"Dia mempunyai sifat yang positif dan aku nyaman sekali berada di dekatnya," jelasku pada Mary. Aku memang sering curhat dengan Mary. Dia paling mengerti diriku, tapi bukan berarti mommy tidak mengerti diriku. Mungkin karena Mary sudah mengasuhku sejak kecil, oleh karenanya aku nyaman menceritakan apa saja kepadanya.
"Ya, Nona Quin mempunyai kepribadian yang energik dan ceria membuat siapa saja nyaman dengannya," balas Mary yang kusetujui.