Ruang diskusi di belakang lab patologi terasa lebih sempit dari biasanya. Bukan karena ruangnya menyusut, tapi karena dinding di hadapan Renata kini penuh kertas — foto korban, garis benang merah, nama yang dicoret dan ditulis ulang. Dua hari lalu seseorang masuk ke ruang ini, mengacak fotonya, lalu pergi tanpa jejak. Renata tidak lagi merasa aman bahkan di tempat ia berpikir paling tajam.
"Kita berhenti menebak," kata Renata. Ia menempelkan tiga lembar kertas berdampingan di papan. "Kita pakai logika akses. Pelaku baru bisa mengubah register kamar mayat. Bisa memalsukan sampel di lab. Dan tahu detail korban kejahatan dari arsip IGD bertahun lalu. Tiga pintu. Kita cari siapa yang punya kunci ketiganya."
Damar menyandar di meja, lengan terlipat. Sejak kasus ini berpindah dari teori liar ke perburuan internal, ia jadi lebih pendiam. "Surya dulu punya ketiganya. Dia perawat IGD, lalu pindah ke kamar mayat. Lab dia datangi karena dipercaya."
"Benar. Jadi penerusnya pasti punya profil yang mirip. Bukan sembarang staf." Renata menarik garis dengan spidol, menghubungkan tiga kotak. "Petugas kebersihan tidak punya akses lab. Dokter spesialis tidak menyentuh register kamar mayat. Yang punya ketiganya — sedikit."
Mereka mulai mencoret. Damar membawa daftar pegawai dari bagian kepegawaian, tebal, ratusan nama. Renata menyaringnya satu per satu dengan pertanyaan yang sama: bisakah orang ini masuk basement timur? Bisakah ia menyentuh sampel toksikologi tanpa ditanya? Pernahkah ia bertugas di IGD lima tahun lalu?
Sembilan puluh menit kemudian, papan itu hanya menyisakan sebelas nama.
"Sebelas," gumam Damar. "Masih terlalu banyak untuk dijaga semua."
"Tidak." Renata mengambil spidol merah. "Kita tambah satu filter. Surya tidak merekrut sembarang orang. Dia merekrut seseorang yang kehilangan. Seseorang yang punya luka yang sama dengannya — korban kejahatan yang lolos hukum. Penerus ini punya motif personal. Bukan dibayar. Diyakinkan."
Ia mulai mencoret lagi. Nama-nama yang tak punya catatan kehilangan keluarga, tak punya kaitan dengan kasus yang ditutup, jatuh satu per satu. Damar menelepon ke bagian arsip kependudukan dengan suara rendah, mengeja nama, menunggu, mencatat di tepi kertas.
Tersisa empat nama ketika langit di luar mulai gelap.
Renata menatap keempatnya. Tiga nama ia kenal sekilas — staf yang pernah berpapasan di lorong, menyapa, tersenyum. Itu yang membuat dadanya dingin. Pelaku ini bukan sosok dalam bayangan jauh. Ia berjalan di koridor yang sama, menghirup bau formalin yang sama, mungkin pernah menahan pintu lift untuknya.
"Salah satu dari mereka," kata Renata pelan, "pernah menatap mayat di meja saya dan tahu persis bagaimana orang itu mati. Karena dialah yang membuatnya."
Damar memotret papan dengan ponselnya, lalu menghapus garis-garis dengan tangan, mengembalikan foto ke map. "Jangan tinggalkan ini di sini lagi. Setelah ada yang masuk."
"Aku tahu." Renata melipat keempat nama dan menyelipkannya ke saku dalam jasnya, bukan ke map. Ia sudah belajar dari Surya: jangan pernah menaruh kebenaran di tempat yang bisa dibaca orang lain.
Saat mereka mengunci ruang diskusi, ponsel Renata bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal. Hanya satu baris, tanpa salam:
"Empat nama itu terlalu banyak, Dokter. Tiga di antaranya tidak bersalah. Tapi kamu sudah dekat. Itu yang membuatmu menarik."
Renata berhenti di tengah lorong. Damar nyaris menabraknya.
"Apa?" tanya Damar.
Renata memutar layar ke arahnya. Wajah Damar mengeras.
Pelaku tahu jumlah nama yang mereka saring. Pelaku tahu mereka baru saja menutup papan. Yang artinya — Renata menengadah ke langit-langit lorong, ke titik kecil tempat dulu CCTV tua dipasang — pelaku sedang menonton. Sekarang. Dari dalam tembok rumah sakit yang sama.
"Tiga tidak bersalah," ulang Renata, suaranya hampir tak terdengar. "Berarti satu di antara empat nama ini benar."