Jenazah ketiga sejak Surya ditahan masuk ke meja Renata pada pukul dua siang. Bukan penjahat yang lolos hukum. Bukan apoteker palsu, bukan perawat penjual obat, bukan pengendara tabrak lari.
Korban kali ini bernama Pak Wahyu, juru tulis di kantor arsip kependudukan Kota Praja. Dilaporkan jatuh dari tangga kantornya. Lima puluh dua tahun. Tak ada catatan kriminal. Tak ada nama dalam buku Surya — Renata sudah memeriksanya.
"Ini berbeda," kata Renata, membungkuk di atas tubuh. Damar berdiri di sudut ruang otopsi, menjaga jarak dari bau. "Lihat lebam mayatnya. Livor terkumpul di punggung, padahal dia ditemukan tertelungkup di kaki tangga. Tubuhnya dipindahkan setelah mati, lalu diatur ulang. Sama seperti yang lain."
Ia menggeser kerah baju korban. Di sana, di pangkal leher, garis tipis yang sudah ia hafal — tekanan horizontal, bukan pola jatuh. Renata membuka kelopak mata korban dengan ibu jari. Petechiae. Titik-titik perdarahan pinpoint di konjungtiva, merah samar seperti taburan lada. Bukan jatuh dari tangga. Asfiksia. Seseorang menahan napas pria ini sampai habis, lalu melemparkannya ke kaki tangga agar terlihat seperti kecelakaan.
"Dia tidak jatuh," kata Renata pelan. "Dia dicekik, lalu dijatuhkan. Lihat petechiae-nya. Dan tidak ada memar pertahanan di tangan — dia tidak sempat melawan. Pelaku menahannya dari belakang, cepat, terlatih." Ia berhenti. "Sama seperti Surya. Tapi Surya tidak pernah membunuh orang yang bersih."
Lalu jari Renata menemukan sesuatu di balik lipatan kerah: secarik kertas, dilipat kecil, kering.
Damar mendekat meski wajahnya pucat. Renata membuka kertas itu dengan pinset.
"R," bacanya. "Tapi tidak ada nomor. Dan tulisannya..." Ia membandingkannya dengan foto pesan-pesan Surya di ponselnya. "Mirip. Tapi tidak sama. Lebih tergesa. Tekanan penanya lebih keras. Marah."
Isi pesan membuat ruang otopsi terasa lebih dingin:
"Orang ini bukan penyakit. Tapi dia membantu menyembunyikan satu. Dia menutup berkas yang seharusnya membuka kebenaran. Setiap yang menghalangi adalah penyakit baru. Bahkan kamu, Dokter, kalau kamu memilih berdiri di jalan."
Renata meletakkan pinset perlahan. "Surya membunuh orang yang berbuat jahat dan lolos. Penerus ini membunuh siapa pun yang menghalangi. Pak Wahyu juru tulis arsip. Dia tidak melakukan kejahatan. Dia hanya..." Ia berhenti. "Dia hanya menyimpan berkas."
Damar menyambar. "Berkas apa?"
"Arsip kependudukan." Renata menarik napas tajam. "Damar, kemarin kau menelepon arsip kependudukan untuk melacak keluarga keempat nama itu. Kau mengeja nama. Seseorang mengangkat telepon dan mencatat."
Keduanya terdiam, makna kalimat itu mengisi ruang.
"Pak Wahyu yang melayani permintaanku," kata Damar pelan. "Aku bicara dengannya kemarin sore. Aku minta data keluarga keempat nama tersangka. Dia bilang akan menyiapkannya hari ini."
"Dan sekarang dia mati." Renata menatap tubuh di mejanya dengan rasa bersalah yang dingin. "Penerus tahu kita mencari data keluarga. Dia tahu berkas itu akan menunjukkan kaitannya dengan anak Jalan Diponegoro. Jadi dia menutup mulut sumbernya — dengan cara satu-satunya yang ia tahu."
Garis itu sudah bergeser, persis seperti yang Renata ramalkan di basement berbulan lalu. Penerus tidak lagi menjalankan keadilan versi Surya. Ia membunuh untuk melindungi dirinya sendiri. Untuk menghapus jejak. Setiap orang yang mendekat menjadi "penyakit baru".
"Berkasnya," kata Renata tiba-tiba. "Pak Wahyu sudah menyiapkannya hari ini. Kalau dia sudah menyiapkannya sebelum dibunuh—"
Damar sudah menelepon kantornya. "Aku minta polisi segel meja Pak Wahyu sekarang. Sebelum penerus kembali untuk mengambil berkas yang belum sempat ia musnahkan."
Renata menutup tubuh Pak Wahyu dengan kain putih, tangannya bergetar sedikit. Dua minggu lalu pria ini masih juru tulis biasa yang mengangkat telepon. Ia mati karena Damar mengeja sebuah nama lewat saluran yang ternyata didengarkan orang yang salah.
"Kita yang membawanya ke sini," gumam Renata.
"Tidak," kata Damar tajam. "Penerus yang membawanya ke sini. Kita yang akan menghentikannya." Tapi suaranya, untuk pertama kalinya, tidak benar-benar yakin.