Renata datang ke lab toksikologi keesokan paginya seperti biasa. Itulah inti rencananya: tidak ada yang berubah dari luar. Penerus sedang menonton; jika Renata mendadak bersembunyi, ia akan tahu rencananya terbongkar. Jadi Renata bekerja, menulis visum, menyeduh kopi dari termos yang sama yang ia bawa tiap pagi.
Tapi di dalam, semua waspada. Damar sudah menempatkan satu orang tepercaya — bukan dari tim besar, dari jalur pengawas piket yang sama dengan pengaman mati lama — untuk mengawasi siapa saja yang masuk-keluar lab. Renata sendiri menerapkan aturan yang ia pelajari dari Surya: jangan pernah memakan atau meminum apa pun yang sempat lepas dari pandanganmu.
Pukul sepuluh, ia harus meninggalkan termosnya di meja lab untuk menerima jenazah baru di ruang otopsi. Dua puluh menit. Saat kembali, semuanya tampak persis seperti yang ia tinggalkan. Termos di tempatnya. Tutup terpasang.
Renata berhenti di ambang pintu.
Tutup terpasang.
Ia selalu meninggalkan tutup termosnya miring, tidak rapat — kebiasaan kecil, agar uap kopi tidak mengembun. Sekarang tutup itu rapat sempurna. Seseorang membukanya, lalu menutupnya rapi, tidak tahu kebiasaan Renata.
Ia tidak menyentuhnya. Ia memakai sarung tangan, mengambil termos, dan membawanya ke meja kerjanya sendiri. Lalu, dengan ketenangan yang sama yang ia pakai membelah dada mayat, ia menuang isinya ke dalam tabung sampel dan menjalankannya melalui alat yang biasa ia pakai untuk mencari racun pada korban.
Hasilnya muncul tiga puluh menit kemudian. Renata menatap layar lama sekali.
Kalium klorida. Konsentrasi tinggi. Terlarut dalam kopinya, tak berwarna, hampir tak berasa di antara pahitnya kopi. Cukup untuk menghentikan jantungnya dalam hitungan menit, dan saat ia ditemukan jatuh di lab, semua orang akan menyebutnya serangan jantung — dokter forensik yang kelelahan, terlalu banyak bekerja, mati di meja kerjanya. Persis cara Lestari Handayani mati. Persis tanda tangan Surya.
Tapi kali ini ada perbedaan. Surya menyuntik dengan jarum di vena. Penerus melarutkannya di minuman. Lebih kasar. Lebih tergesa. Tidak ada keanggunan klinis Surya. Hanya keinginan agar Renata mati cepat.
Renata duduk di kursinya, tangan masih dalam sarung tangan, dan untuk beberapa saat ia membiarkan dirinya merasa betapa dekatnya tadi. Jika ia tidak waspada pada tutup termos. Jika ia terburu-buru meminum kopinya seperti pagi-pagi lain. Ia akan jadi jenazah di mejanya sendiri, dan tak ada yang akan mencari kalium di darah seorang dokter yang "kelelahan".
Ia menyimpan sisa kopi sebagai barang bukti, melabelinya, memotretnya. Lalu ia menelepon Damar.
"Dia masuk lab pagi ini," kata Renata. "Saat aku menerima jenazah. Dia ada di gedung ini, Damar. Dia berani masuk lab forensik dan meracuni kopiku di tempat aku bekerja. Itu bukan keberanian. Itu putus asa. Dia tahu aku menyempit dan dia ingin aku mati sebelum aku menyebut namanya."
Suara Damar tegang. "Pengawas di pintu lab — dia mencatat siapa saja yang masuk?"
Renata sudah berjalan menuju pos pengawas. "Sebentar." Ia bicara dengan pengawas itu, menatap daftar nama dan jam yang dicatat tangan. Tujuh orang masuk lab antara pukul sepuluh dan pukul sepuluh lewat dua puluh. Lima ia kenal, rutin, beralibi.
Dua nama lainnya membuat jarinya berhenti di kertas.
Salah satunya nama keempat. Sang kakak. Penerus.
"Damar," kata Renata, suaranya rendah. "Dia menandatangani daftar masuk dengan nama aslinya. Dia tidak peduli lagi ketahuan. Dia pikir aku akan mati sebelum sempat membaca daftar ini."
Lalu jarinya bergeser ke nama ketujuh, nama terakhir di daftar, dan jantungnya mengencang lagi. Karena nama itu juga ia kenal — dan itu nama yang tidak seharusnya ada di sana sama sekali.