Renata menunggu sampai malam, sampai rumah sakit menyusut menjadi gema langkah dan dengung lampu darurat. Ia tidak memberitahu siapa pun selain pengawas piket. Aturannya jelas dan diucapkan dua kali: jika ia tidak menelepon sebelum tengah malam, kirim tim ke basement timur sayap lama. Sama seperti dulu. Pelajaran yang ia bayar dengan nyaris nyawanya tidak ia lupakan.
Ia turun ke basement timur sendirian, senter di satu tangan, ponsel di saku, pisau bedah steril di saku jas — bukan untuk menyerang, tapi karena ia berjanji pada dirinya tidak akan pernah lagi tak bersenjata di tempat ini.
Sayap lama masih ditutup secara resmi, garis polisi lama membentang di pintu. Renata menyelinap di bawahnya. Lorong R-1, R-2, R-3 yang dulu jadi tempat Surya mengurungnya kini gelap dan dingin, pendingin sudah dimatikan sejak penyidikan. Tapi saat Renata melangkah masuk, ia merasakan sesuatu yang salah.
Udara di ujung lorong tidak sedingin yang seharusnya untuk ruang yang ditinggalkan. Ada bau samar — bukan formalin lama, tapi disinfektan baru. Seseorang membersihkan tempat ini, belakangan, setelah polisi pergi.
Ia mengikuti baunya, melewati ketiga ruang R yang sudah ia kenal, ke bagian lorong yang dulu tak ia perhatikan. Di balik tumpukan rak berkarat ada pintu lain, lebih kecil, yang dulu ia kira gudang. Gemboknya baru. Mengilap. Tidak cocok dengan karat di sekelilingnya.
Renata berlutut, memeriksa gembok dengan senter. Lalu ia melihat sesuatu yang membuat dadanya dingin: di lantai depan pintu, jejak sepatu di debu, segar, beberapa hari saja umurnya. Ukuran sepatu kecil. Bukan Surya — Surya sudah di tahanan saat jejak ini dibuat.
Penerus punya ruang kerjanya sendiri. Lebih baru. Tersembunyi di balik ruang kerja gurunya.
Gembok itu terlalu kuat untuk dipaksa. Tapi Renata melihat bahwa engsel pintu, seperti banyak hal di sayap tua ini, berkarat dan longgar. Ia bekerja dengan pengungkit yang ia bawa, perlahan, mengawasi lorong di belakangnya setiap beberapa detik. Engsel atas menyerah dengan kerikan logam yang menggema terlalu keras di keheningan.
Pintu terbuka.
Senter Renata menyapu ruang kecil di baliknya, dan napasnya tertahan.
Ini bukan tiruan ruang Surya. Ini lebih dingin, lebih tertata, lebih klinis. Meja baja. Lampu sorot. Rak alat bedah tersusun rapi, bersih, mengilap. Dan di dinding — bukan foto korban kejahatan seperti milik Surya. Foto orang-orang hidup. Damar. Pengawas piket. Atasan Damar. Dan di tengah, lebih besar dari yang lain, foto Renata sendiri, diambil diam-diam, dari lorong rumah sakit, beberapa hari lalu.
Di bawah fotonya, tertulis dengan tangan yang sama yang ia lihat di kertas Pak Wahyu, tergesa dan keras:
"Pembaca. Halaman terakhir."
Renata berdiri sangat diam. Tempat ini bukan persembunyian. Ini ruang rencana. Penerus tidak lagi mengulang pekerjaan Surya — ia sedang menyusun pekerjaannya sendiri, dan setiap orang yang berdiri antara dirinya dan keselamatan sudah ada di dinding ini, dengan urutan, dengan tanda.
Lalu senter Renata jatuh pada meja kerja di sudut, dan di atasnya, di bawah lampu sorot yang dingin, tergeletak sebuah buku catatan tebal — bukan milik Surya, yang sudah disita sebagai barang bukti. Buku baru. Sampul gelap. Belum tersentuh polisi karena tak ada yang tahu ruang ini ada.
Renata melirik jam. Pukul sebelas lewat empat puluh. Dua puluh menit sebelum pengaman matinya aktif. Cukup. Ia melangkah ke meja, mengulurkan tangan bersarung ke buku itu — dan di belakangnya, jauh di lorong, terdengar pintu baja sayap lama berderit terbuka.