Renata dipanggil ke kursi saksi pada hari kedua persidangan. Ruangan, kalau mungkin, lebih penuh dari hari pertama. Sorotan kamera mengikutinya seperti tatapan. Ia tahu apa yang ia katakan akan disiarkan ke seluruh kota dalam hitungan menit. Dan ia tahu Reza sedang mendengarkan—entah di galeri, entah di depan layar di suatu tempat, sepasang mata muda yang tenang yang ia rasakan menempel di tengkuknya.
Damar sudah memperingatkannya semalam, di markas. "Kalau kamu bicara terlalu banyak, kamu memberinya panggung. Persidangan ini disiarkan langsung. Setiap kata yang menantangnya bisa dia balas dengan tubuh, bukan kata-kata." Renata tahu Damar benar. Tapi ia juga tahu bahwa Reza hanya akan keluar dari bayangan kalau ada yang cukup memancingnya—dan tidak ada panggung yang lebih besar dari ini.
"Dokter Paramita," kata jaksa, "Anda yang pertama menemukan pola pembunuhan ini. Tolong jelaskan pada majelis bagaimana Anda membaca jenazah."
Renata bicara dengan presisi seorang ilmuwan. Petechiae di konjungtiva Hendra. Os hyoid yang retak di sisi kanan—pencekikan manual, bukan gantung. Suntikan tunggal rapi di vena lipat siku Lestari, dugaan kalium klorida, dikonfirmasi toksikologi. Setiap tubuh, katanya, adalah halaman. Pembunuh menulis, dan ia membaca.
Ia menjelaskan kapsul di lambung Hendra, kertas di genggaman tangan, cetakan timbul Tongkat Asklepios di sudut pesan—satu ular tanpa sayap, lambang kedokteran sejati, bukan Caduceus yang sering dikira orang awam. "Pelaku memilih Asklepios dengan sengaja," kata Renata. "Itu bukan kebetulan. Itu pernyataan. Hanya orang yang benar-benar mengerti dunia medis yang tahu bedanya. Pelaku ingin saya tahu: dia salah satu dari kami."
"Apakah Anda yakin terdakwa, Surya, pelakunya?"
"Untuk lima kematian dalam dakwaan ini, ya." Renata berhenti. Ia merasakan momen itu datang—pilihan yang sudah ia timbang berhari-hari. Ia bisa diam, menjaga R-9 sebagai rahasia investigasi. Atau ia bisa menggunakan panggung ini, di mana Reza pasti menonton, untuk memancingnya, untuk membaca balik.
Ia memilih membaca balik.
"Tapi Yang Mulia," kata Renata, suaranya jernih, "saya harus menyampaikan sesuatu yang berbahaya. Ada kematian-kematian lain. Yang tidak ada dalam dakwaan. Yang ditulis dengan tangan berbeda—lebih tergesa, lebih marah, kurang presisi. Terdakwa Surya menulis seperti dokter. Penerusnya menulis seperti orang yang sedang kehabisan waktu."
Ruangan riuh. Jaksa terkejut. Pengacara aktivis menegakkan tubuh.
"Saya ingin penerus itu mendengar saya sekarang," lanjut Renata, dan ia menatap lurus ke kamera, ke seluruh kota, ke satu pasang mata yang ia yakin sedang menontonnya. "Anda menulis di tubuh, bukan di buku. Anda pikir tidak ada yang bisa membaca Anda. Tapi saya membaca setiap goresan Anda. R-9, di belakang telinga lelaki tua yang Anda bunuh karena ia berani. Anda kira itu pesan kemenangan. Bagi saya itu pengakuan. Anda terburu-buru. Anda gemetar. Surya tidak pernah gemetar."
Hakim mengetuk palu, memerintahkan ketertiban, mengancam akan mengosongkan ruangan. Jaksa berdiri bingung—saksinya baru saja membuka kasus yang sama sekali baru di tengah persidangan. Pengacara aktivis menatap Renata dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara kagum dan ngeri. Tapi Renata sudah selesai. Ia telah menanam umpan di depan publik: sebuah tantangan pada harga diri Reza, hinaan terukur yang menyatakan ia bukan tandingan gurunya. *Surya tidak pernah gemetar. Kamu gemetar.* Itu kalimat yang akan mengiris harga diri seorang murid lebih dalam daripada pisau mana pun.
Setelah sidang ditunda, di lorong pengadilan yang sesak, ponsel Renata bergetar. Nomor tak dikenal. Satu pesan.
*"Surya tidak pernah gemetar karena dia tidak pernah punya sesuatu yang dipertaruhkan. Saya punya. Itu membuat saya lebih berbahaya, bukan lebih lemah, Pembaca. Anda ingin membaca saya? Datanglah ke tempat yang Anda tahu. Pukul empat. Sendiri. Atau halaman berikutnya akan ditulis dengan nama Iptu Damar."*
Renata membeku di tengah kerumunan. Ia mengangkat kepala, memindai lorong—wajah-wajah, kamera, polisi, wartawan. Dan di ujung lorong, untuk satu detik yang nyaris tak ada, sepasang mata tenang menatapnya balik dari balik kerumunan. Muda. Pucat. Lalu lenyap, ditelan orang banyak.
Reza ada di pengadilan. Reza selalu ada. Dan ia baru saja membalikkan perangkap Renata menjadi perangkapnya sendiri.