“Kunci lokermu nomor empat puluh dua, ya, Kal. Jangan sampai hilang, ganti kuncinya mahal,” seloroh Laras sambil melempar sepotong seragam scrub warna hijau muda ke pangkuan Kalanya.
Kalanya menangkap seragam katun tipis itu dengan sigap. Pukul 06.30 WIB, ruang ganti perawat bedah lantai tiga RS Sentra Mulia sudah dipenuhi hilir mudik belasan perawat. Aroma antiseptik bercampur wangi sabun mandi yang khas menyengat hidung, membaur bersama gaung tawa dan obrolan riuh mengenai jadwal operasi hari ini.
“Rapi banget seragam baru,” goda seorang perawat senior bertubuh gempal yang sedang mengikat rambutnya di depan cermin. “Ini scrub nurse cabutan dari Jerman itu, kan?”
Kalanya tersenyum sopan, mengulurkan tangan. “Kalanya, Mbak. Mohon bimbingannya hari ini.”
“Mbak Maya,” jawab wanita itu hangat, membalas genggaman Kalanya. “Santai aja, Kal. Di sini yang bikin tegang cuma suhu AC sama tenggat waktu sterilisasi instrumen, kok.”
“Jangan percaya Mbak Maya, Kal,” potong Laras yang sedang sibuk mengenakan penutup kepala. “Dia bilang gitu biar kamu enggak kabur di hari pertama.”
Kalanya tertawa kecil, melangkah menuju loker nomor empat puluh dua untuk menyimpan tasnya. Menanggalkan pakaian sipil dan mengenakan seragam hijau khas ruang operasi membawa sensasi nostalgia yang aneh. Kainnya terasa dingin di kulit, namun di saat yang sama memberikan dorongan rasa percaya diri yang familier.
“Yuk, aku tour singkat dulu sebelum kita scrub in,” ajak Laras melambaikan tangan ke arah pintu keluar ruang ganti.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor steril Central Operating Theater (COT). Dindingnya dilapisi panel khusus kedap suara dengan warna pastel menenangkan, sementara pintu-pintu otomatis berlabel angka bergerak terbuka dan tertutup secara berkala. Kalanya memperhatikan setiap detail teknis dengan cermat—mulai dari tata letak ruang dekontaminasi, zona sterilisasi instrumen, hingga area pencucian tangan otomatis.
“Fasilitas di sini lumayan sepadan kan sama standar Munich?” tanya Laras sambil berjalan bersisian.
“Sangat memadai,” puji Kalanya jujur. “Teknologi laminar air flow-nya modern. Jalur evakuasi dan ruang kotornya terpisah rapi.”
“Ya iyalah, rumah sakit ini kan baru ketumpahan dana investasi belasan miliar buat bikin Pusat Unggulan Bedah Jantung,” bisik Laras seraya mendekatkan kepala. Suaranya memelan saat mereka melintasi meja konsul utama. “Tapi ya gitu, fasilitas makin canggih, tekanan udaranya makin beracun.”
Kalanya menaikkan satu alisnya. “Maksud kamu?”
Laras menghentikan langkah tepat di depan papan jadwal operasi digital raksasa yang terpajang di dinding tengah. “Kamu lihat nama-nama dokter yang pegang jadwal OK hari ini?”
Kalanya mengarahkan pandangannya ke layar monitor. Ada lima deretan jadwal tindakan mulai dari koreksi cacat jantung bawaan hingga pembedahan bypass. Namun, matanya sengaja menghindari baris kolom dokter utama di sebelah kanan.
“Kenapa sama dokternya?” tanya Kalanya mencoba bersikap netral.
“Bukan dokternya, tapi Kepala Departemennya,” jawab Laras memberi penekanan emosional pada kata terakhir. “Dr. Bhaska itu baru sebulan menjabat, tapi gosipnya udah bikin tiga perawat asisten menangis sesenggukan di ruang sterilisasi.”
Dada Kalanya berdenyut pelan saat nama itu disebut secara terbuka. Ia membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. “Kenapa bisa begitu?”
“Perfeksionis tingkat dewa!” cerocos Laras dengan gestur berlebihan. “Salah sedikit tata letak klem, telat dua detik nyerahin scalpel, atau ada benang yang terpotong kurang presisi, habis kamu disemprot di depan umum. Suaranya sih enggak teriak-teriak, tapi kata-katanya itu lho ... dingin, menohok, bikin mental rontok.”
“Mungkin dia cuma menuntut standar keselamatan pasien yang tinggi,” sahut Kalanya tenang, mencoba membela profesionalisme tanpa melibatkan emosi pribadi.
“Iya sih, tangan dia emang bertangan dingin banget. Mortality rate operasi yang dia pegang hampir nol persen. Tapi tetap aja, atmosfer di ruang OK kalau ada dia itu kayak lagi simulasi perang dunia,” balas Laras terkekeh. “Tapi untungnya hari ini kamu cuma dapet jadwal pendampingan kasus bedah umum ringan sama dr. Aris. Aman buat pemanasan.”
“Baguslah,” gumam Kalanya legawa. “Aku cuma mau fokus penyesuaian alur kerja dulu.”
“Yuk, ikut aku ke ruang penyimpanan instrumen. Kamu kudu cek set klem vascular sama benang monofilamen standar sini. Agak beda urutan penataannya dibanding di luar negeri,” ajak Laras.
“Beda urutannya gimana, Ras?” tanya Kalanya menyelaraskan langkah.
“Di sini kita pisah nampan berdasarkan diameter pembuluh darahnya langsung, bukan cuma jenis tindakan,” jelas Laras membuka pintu kaca ruang penyimpanan yang dingin. “Coba kamu perhatikan baki sebelah kanan ini.”
Selama satu jam berikutnya, Kalanya menenggelamkan diri dalam rutinitas yang sangat ia kuasai. Ia berdiri di depan meja instrumen stainless steel, memeriksa kelengkapan set bedah dasar. Tangannya yang terampil dan terbiasa dengan kepatuhan prosedur bekerja cepat, memilah forceps, menyusun hemostat, dan memastikan jumlah kasa steril tercatat akurat di papan hitung.
Mbak Maya yang melintas di belakangnya sempat menghentikan langkah dan mengamati gerakan jemari Kalanya.
“Rapi banget susunan trolley-nya, Kal,” puji Mbak Maya kagum. “Posisinya presisi banget. Kamu hafal posisi alat tanpa lihat label?”
Kalanya menoleh seraya tersenyum tipis. “Sudah refleks, Mbak. Waktu di Munich, dokter bedah di sana suka marah kalau harus nunggu perawat nyari instrumen lebih dari tiga detik.”
“Wah, cocok itu,” celoteh Mbak Maya terkekeh. “Tipe-tipe perawat yang dibutuhkan dr. Bhaska. Dia paling benci perawat yang gerakannya lambat.”
“Apa dr. Bhaska se-ekstrem itu kalau di ruang operasi, Mbak?” pancing Kalanya ingin tahu lebih dalam.
“Lebih dari ekstrem, Kal,” bisik Mbak Maya. “Pernah ada asisten telat ngasih suction setengah detik pas perdarahan, langsung disuruh keluar ruangan saat itu juga. Dia enggak toleransi kesalahan kecil.”
“Tapi semua tindakan medisnya selalu tepat sasaran, kan?” tanya Kalanya memastikan.
“Selalu,” aku Mbak Maya jujur. “Makanya enggak ada yang berani protes. Kemampuannya menutup kebocoran pembuluh darah itu luar biasa cepat. Cuma ya itu ... atmosfer kerjanya bikin serangan jantung mendadak.”
Kalanya hanya mengangguk sopan tanpa menanggapi lebih jauh. Di dalam hatinya, ia sibuk memantapkan tekad. Apapun rumor tentang ketegasan Bhaska di meja operasi, ia adalah Kalanya yang baru. Ia sudah menempuh pendidikan spesialisasi keperawatan tingkat lanjut dan berpengalaman menangani ratusan kasus kompleks di Jerman. Di dalam ruang operasi, yang ada hanyalah interaksi antara perawat profesional dan dokter bedah. Tidak boleh ada tempat untuk bayang-bayang masa lalu.
“Kal, aku ke ruang istirahat sebentar ya, mau ngambil botol minum,” pamit Laras yang baru selesai mensterilkan sarung tangan karet.
“Iya, Ras. Aku selesaikan rekapitulasi inventaris benang dulu di sini,” sahut Kalanya tanpa mengalihkan pandangan dari lembar kendali mutu.
“Jangan terlalu tegang, Kal. Hari pertamamu bakal santai kok,” pungkas Laras melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu otomatis.
Kesunyian tenang menyelimuti area persiapannya. Kalanya menarik napas panjang, menikmati aroma khas alkohol dan ruang steril yang selalu berhasil menenangkan pikirannya. Segalanya berjalan sesuai rencana. Ia memiliki posisi pekerjaan yang solid, sahabat yang mendukung, dan anak laki-laki yang sangat ia cintai menunggu di rumah. Ia yakin bisa melalui semua ini tanpa harus bersinggungan langsung dengan Bhaska.
Pintu otomatis ruang ganti mendadak terdorong kasar hingga membentur dinding penahan. Kepala perawat senior—Suster Ratna—melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak pucat pasi, sementara lembaran dokumen rekam medis di tangannya gemetar.
Matanya mengedar cepat ke seluruh penjuru ruangan hingga pandangannya terkunci pada Kalanya yang berdiri paling dekat dengan area instrumen.
“Suster Kalanya!” panggil Suster Ratna dengan nada panik yang tak bisa ditutupi.
Kalanya langsung meletakkan pulpennya dan menegakkan tubuh. “Iya, Suster Ratna? Ada apa?”
“Siapkan diri kamu sekarang! Scrub in detik ini juga!” perintah Suster Ratna cepat sambil mengusap keringat di pelipisnya. “Ada pasien rujukan darurat dari IGD. Kasus cito diseksi aorta tipe A. Pembuluh darah utamanya hampir robek total!”
Kalanya langsung bersiap secara refleks. “Peralatan khusus bedah vaskular dan cardiopulmonary bypass sudah siap di ruang mana, Suster?”
“Ruang OK empat!” seru Suster Ratna cepat. “Laras lagi lari nyiapin mesin perfusionist. Tim perawat asisten utama dadakan tidak ada yang siap untuk kasus seberat ini, cuma kamu yang punya kualifikasi bedah toraks senior!”
“Tensi pasien berapa sekarang, Suster?” tanya Kalanya sambil bergegas menuju area pencucian tangan steril.
“Anjlok di angka delapan puluh per lima puluh! Kita cuma punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum aortanya pecah total!” jawab Suster Ratna mempercepat langkah di sampingnya.
Kalanya mengangguk mantap, menyalakan kran otomatis dengan siku. “Saya siap. Dokter bedah utamanya siapa?”
Suster Ratna menatap Kalanya dengan tatapan tegang, memegang bahunya erat. “Dokter bedahnya baru saja tiba dan langsung menuju area scrubbing. Dr. Bhaska sendiri yang turun tangan!”