Author POV
"Muenela!! Ini sudah kesekian kalinya kau melanggar perintah ayah!! Apa semua perkataan ayah tidak masuk di otakmu hah!!" Bentak Johan Felix Ricardo pada anak ke 2 nya itu
"Apaan sih ayah ini baru pagi hari loh, ayah kok udah marah saja sih, gak enak banget di dengar" jawab Muenela dengan sangat santai
"Kamu ini yah benar benar buat org tua sakit kepala saja! Apa lagi alasan kamu kali ini!"
"Yah... Kalau ayah sakit kepala yah jangan marah marah gini dong, santai aja kali, toh juga nela baik baik saja, lagian nela tadi sama teman nela kok" kilah Muenela sambil memutar bola matanya
"Teman kamu bilang! Teman macam apa itu Muenela! Teman apa yang ninggalin kamu yang sedang terkapar mabuk di club' hah! Kalau orang orang papa tidak datang dengan cepat kamu pasti sudah jadi santapan hidung belang disana kamu tau itu?!"
"Issss... Udahlah yah tak perlu memperbesar masalah, nela capek tau gak! Ayah tuh lebay banget" jawab Muenela ketus lalu pergi meninggalkan ayahnya yang sedang marah marah
"Mau pergi kemana kamu Muenela! Ayah belum siap bicara!"
"Besok aja ayah, aku harus siap siap ada kerjaan di kantor hari ini"
Muenela pergi ke kamarnya setelah beberapa saat ia segera keluar tanpa aba aba ia langsung pergi meninggalkan rumah, membawa BMW hitamnya pergi meninggalkan rumah bak istana itu
Johan adalah orang yang selalu penuh ambisi dalam hidupnya, ia pikir itu adalah hal yang terbaik untuknya dan keluarganya, ia pikir anak anaknya akan bangga punya seorang ayah berambisi dan keren sepertinya
Namun ia salah, ia salah besar, terbesit kesedihan yang cukup mendalam saat melihat mobil anaknya mulai meninggalkan rumah, ia hanya dapat menatap kepergian anaknya itu dari jendela ruang kerjanya yang ada di lantai 2 rumah
"Albert" panggilnya lemah pada sekretaris pribadinya
"Ia tuan" hawab sang sekretaris dengan nada profesional seperti biasanya
"Kau tau Albert... Aku adalah ayah terburuk di dunia, itulah anggapan anak anak ku padaku, setelah bertahun tahun aku hanya berpikir untuk memenuhi ambisiku bahkan setelah ibu mereka pergi ke surga, sekarang ini adalah hukuman untukku Albert" ucap Johan dengan suara serak dan tanpa sadar air matanya jatuh dengan mulus menyapa lantai
Albert terdiam, tak pernah ia melihat bos nya itu seperti itu bahkan setelah bertahun tahun bekerja untuknya bahkan saat perusahaan yang ia bangun sedang dalam keadaan kritis tak pernah Johan menunjukkan ekspresi seperti sekarang
"Tuan jangan mempersalahkan diri anda sendiri tuan, ini tidak sepenuhnya salah anda"
"Tidak Albert aku sepenuhnya salah disini, dari anak anak ku kecil aku selalu saja hanya berpikir pada keegoisanku sendiri, aku pikir semua tindakan ku benar, aku benar benar ayah yang buruk Albert" semua perkataan penyesalan Johan bertahun tahun akhirnya keluar sebagai pengakuan
"Aku memaksa Kristian menjadi penerus perusahaan meski aku tau ia tidak suka dengan dunia bisnis, dan aku tidak pernah memberi kasih sayang pada Muenela meskipun aku tau ia membutuhkannya apalagi saat ibunya meninggal" lanjut Johan, suarany semakin serak dan ia hampir tak bisa melihat dengan jelas karena air matanya
"Tuan saya..."
"Kau tak salah Albert, akulah yang salah disini, tak pernah aku menunjukkan arti rumah itu sesungguhnya pada ke 2 anakku" baru kali ini Johan mengerti perasaan penyesalan saat ini dadanya terasa sempit dan sesak
"Jadi Albert bisakah aku meminta tolong padamu?" lanjutnya dengan suara serak
"Katakan apa saja Tuan saya akan melaksanakan perintah tuan tidak perlu meminta tolong pada saya"
"Tidak Albert aku sedang berbicara sebagai seorang ayah sekarang bukan sebagai pemilik perusahaan nomor 1 di asia, ku mohon Albert bisakah aku meminta tolong padamu?" Tanya Johan tulus pada sekretaris nya, kini ia sudah berbalik dan menatap Albert, Albert bisa melihat wajah tuannya yang kini di penuhi air mata penyesalan dan sebuah tatapan tulus seorang Ayah
"Baiklah Johan katakan apa pun aku pasti menolongmu" ucap Albert sesudah mengumpulkan keberaniannya yang tersisa
"Albert aku semakin tua dan akan terus begitu, aku akan segera meninggal dan meninggalkan ke 2 anakku, tak ada yang ku khawatir kan soal perusahaan Albert aku sudah membagi 2 perusahaan untuk mereka namun aku hanya ingin anak perempuan ku mendapat sebuah rumah milik nya sendiri"
"Bisakah kau membantuku Albert? Tolong Carikan aku seseorang yang mampu menjadi rumah bagi anak itu, aku tidak tahan melihat hidupnya yang seperti itu Albert" air mata Johan pecah, tergiang bayangan anaknya yang sedang mabuk mencari kesenangan di club' dikelilingi pria pria yang ia tidak tau siapa
Hati seorang ayah mana yang tak hancur melihat kehancuran anaknya sendiri? Apalagi itu adalah anak perempuannya satu satunya
"Baiklah Johan, apa kau ada kriteria khusus untuk itu?"
"Aku tidak tau Albert, aku tau itu permintaan ambigu, apa zaman sekarang ada orang yang bisa jadi rumah bagi seseorang? Aku tidak tau Albert, aku tidak peduli dia pria atau wanita, tolong Albert hanya kau yang aku percayai dan aku tau seberapa hebat penilaian mu tolong aku Albert"
Albert yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan masalah ini entah kenapa dadanya juga terasa sesak hampir saja ia menangis di depan Johan kalau ia tidak menahannya
"Baik Johan akan ku lakukan aku akan mencari oang itu bahkan sampai ujung dunia sekali pun"
"Apa kau punya permintaan lagi?" Lanjut Albert lagi
"Tidak Albert, sekarang bisa kah kau meninggalkan ku sendiri?"
"Baiklah tuan, saya pamit undur diri" Albert segera pergi meninggalkan Johan sendiri di dalam ruang kerjanya, memberi waktu bagi tuannya itu untuk mengoreksi dirinya sendiri
*
*
*
Setelah Albert keluar Johan membuka lacinya mengambil sebua bingkai foto dari lacinya, ia mengucap usap kaca depan bingkai itu dan memperlihatkan wajah istrinya yang tersenyum padanya
"Sayang... Aku tidak tau apa ini keputusan yang benar atau tidak, aku hanya hanya... hisk... hisk... Maafkan suami mu ini sayang, aku benar benar bukan ayah yah baik, aku menyesal sayang aku sangat menyesal... hisk... Apa kedua anak kita akan memaafkan ku bila aku meminta maaf sayang"
Johan tertunduk memeluk bingkai foto istrinya dengan sangat erat namun hati hati seolah istrinya itu ada di depannya sekarang
"Harusnya kau tak meninggalkan ku sendirian hisk... hissk..." Hari itu Johan menangis seharian di ruang kerjanya, tak ada yang berani mengganggu nya ataupun sekedar bertanya apakah tuannya itu lapar, karena Albert sudah berpesan pada setiap maid di rumah itu agar tidak menggangu tuannya itu
Mulai hari itu Albert mulai mencari calon menantu yang cocok untuk nona mudanya yaitu Muenela, bahkan Albert mengirim orang orang yang ahli dalam phisikologis manusia untuk itu dan mengirim mereka keseluruhan penjuru dunia*