Sesudah Malik pergi, Afif kembali duduk di samping Ryan. Ryan tidak langsung bertanya lagi. Ia ingin temannya menenangkan diri lebih dulu. Afif mengambil air, lalu memeriksa kait pintu. Tidak ada upaya masuk dan tidak terdengar langkah yang kembali mendekat.
'Dia benar-benar meminta bicara berdua?' tanya Ryan.
Afif menjelaskan ulang tanpa menambahkan tafsir. Malik ingin Ryan menyelesaikan urusannya sendiri dan berkata Afif dapat pergi sebelum keadaan memburuk. Ia tidak menyebut siapa yang memerintahkannya atau bahaya apa yang dimaksud. Afif mengaku sempat merasa Malik ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak bisa memastikan karena Malik menolak menjelaskan.
Ryan menulis keterangan itu di halaman Malik. 'Kita tidak tahu apakah dia sedang melindungi kita atau mencoba memisahkan kita.'
'Kalau dia ingin melindungi, mestinya dia mau memberi alasan.'
'Mungkin. Tapi kita catat saja apa yang dia katakan.'
Mereka sepakat tidak mengirim laporan itu kepada ayah Ryan sebelum bertemu. Ayah meminta agar Malik tidak diberi tahu soal jadwal, tetapi mereka belum tahu apakah ayah bermaksud menyembunyikan pertemuan atau sekadar menghindari campur tangan. Catatan itu dapat ditanyakan nanti bersama fakta lain.
Ryan mencoba menggeser kaki ke sisi kursi. Rasa nyeri membuatnya berhenti. Afif mengambilkan bantal dan membantu menopang betisnya. Ryan berterima kasih, lalu meminta agar Afif tidak merasa wajib menjadi penjaga setiap saat. Temannya menjawab bahwa ia tetap akan bergerak di dalam rumah untuk mengambil makanan atau air, tetapi tidak akan meninggalkan area tanpa memberi tahu.
'Kalau ada bahaya, kita putuskan bersama,' kata Afif. 'Bukan karena orang lain menyuruh salah satu dari kita pergi.'
Ryan mengangguk. Ia mengerti bahwa kesetiaan tidak berarti menolak semua risiko. Mereka masih dapat memutuskan mundur jika keadaan menuntut, tetapi tak seorang pun akan dibiarkan menghadapi rumah itu sendirian.
Menjelang petang, Afif melihat melalui jendela ruang tengah. Di kejauhan, dekat pondok kebun, Malik berdiri menghadap rumah No. 13. Ia tidak melambaikan tangan atau mendekat. Tubuhnya hanya diam di antara pohon, cukup lama untuk membuat Afif memanggil Ryan.
Ryan tidak bangkit. Ia memandang dari kursinya melalui celah tirai. Malik memang tampak berada di sana, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk membaca ekspresinya. Afif mengambil catatan dan menulis waktu serta lokasi. Mereka tidak keluar untuk menegurnya.
'Bisa jadi dia memang bekerja di sana,' kata Ryan.
'Bisa. Tapi setelah datang meminta saya pergi sendiri, kita perlu mencatat bahwa dia mengamati rumah.'
Ryan setuju. Mereka tidak menulis bahwa Malik mengintai atau berniat menyerang. Ia mungkin sedang menjalankan pekerjaan kebun, mungkin juga menunggu reaksi mereka. Tanpa informasi lain, catatan cukup menyebut apa yang mereka lihat.
Afif bertanya apakah Ryan melihat Malik membawa sesuatu dari pondok. Ryan menjawab tidak. Ia hanya melihat Malik berdiri menghadap rumah dan kemudian beranjak ke balik dinding. Mereka tidak melihat apakah ia berbicara dengan seseorang atau memegang telepon. Afif menghapus kata 'menunggu' yang sempat ia tulis di pinggir halaman dan menggantinya dengan 'berdiri menghadap rumah'.
Ryan menyadari betapa mudahnya satu kata menambahkan niat yang tidak mereka saksikan. Ia berterima kasih karena Afif memperbaikinya. Jika mereka ingin ayah mempercayai catatan tentang rumah, mereka juga harus menjaga bagian yang belum pasti tetap terbuka.
Afif meminta Ryan memastikan dari jendela yang mana ia melihat Malik. Ryan menunjuk celah tirai ruang tengah. Mereka membuat tanda kecil pada denah, tidak menandai seluruh kebun seolah mengetahui jalur Malik. Afif juga menulis bahwa Malik berada di dekat pondok, menghadap rumah, lalu bergerak ke sisi pondok dan tak terlihat. Mereka tidak menghitung lama tepatnya karena perhatian mereka terbagi.
'Kita jangan sampai besok menceritakan bahwa dia berdiri berjam-jam,' kata Afif. 'Kita hanya melihat beberapa menit.'
Ryan setuju. Ia menghargai ketelitian itu. Jika nanti ayah bertanya, mereka dapat menyebut apa yang dilihat tanpa membesar-besarkan waktu atau jarak.
Malik bergerak beberapa langkah ke sisi pondok dan menghilang di balik dindingnya. Afif tidak mengejar. Ryan mengingat bahwa ia masih belum mampu berjalan jauh dan kebun merupakan tempat yang dilarang ayahnya. Mereka tidak akan masuk ke sana tanpa alasan yang jelas.
Afif menunggu sampai tidak lagi melihat gerakan di sekitar pondok. Ia bertanya apakah Ryan ingin memanggil Malik dari dalam rumah. Ryan menolak. Mereka sudah punya kesempatan berbicara dengannya di pintu, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan tentang bahaya. Memanggilnya dari jauh hanya akan mengulang percakapan yang sama dan mungkin membuat mereka salah menangkap kata-katanya.
Mereka sepakat bahwa jika Malik datang lagi pada siang hari, mereka dapat berbicara bersama dari ambang pintu. Jika ia tidak datang, mereka tidak akan pergi mencarinya. Afif menulis batas ini di catatan agar keputusan nanti tidak berubah hanya karena mereka gelisah.
Ponsel Ryan tetap diam. Ia memeriksa pesan terakhir dari ayah: pertemuan besok pukul sembilan. Tidak ada perubahan. Afif menyarankan agar mereka mengirim pesan singkat menanyakan apakah ayah mengetahui kedatangan Malik. Ryan menolak untuk sementara. Mereka akan menyampaikan fakta saat bertemu; pesan baru bisa membuat ayah mengubah jadwal lagi tanpa menjelaskan.
Setelah makan malam, mereka menyimpan catatan Malik dan menyiapkan air di dekat kursi. Ryan bertanya apakah Afif menyesali keputusannya. Afif menjawab ia takut, tetapi lebih takut jika mereka mulai saling mencurigai karena orang lain berkata begitu.
'Aku tidak mau membuktikan siapa pun salah dengan memaksamu tinggal,' kata Ryan.
'Dan aku tidak mau pergi diam-diam hanya karena diminta.'
Percakapan itu membuat batas mereka jelas. Afif memilih tinggal karena keputusannya sendiri, bukan karena Ryan menahannya. Jika ia berubah pikiran ketika bahaya meningkat, ia akan mengatakannya langsung. Ryan berjanji akan mendengarkan.
Malam mulai turun. Malik tidak terlihat lagi di pondok. Mereka mengunci pintu, menyalakan lampu kecil, dan duduk bersama. Belum ada kejadian gaib baru. Namun kata-kata Malik meninggalkan pertanyaan yang tidak bisa mereka abaikan: siapa yang akan lebih mudah menguasai rumah jika Ryan dan Afif tidak lagi bersama?